Perkuat Persatuan, KJS Gelar Silaturahmi Kebersamaan Dalam Keberagaman

INDONEWS BOGOR Pasca awal tahun 2018, Sabtu tanggal 13 Januari 2018, Komunitas Jabar Sejati mengadakan acara Silaturahmi  bertema Kebersamaan Dalam Keberagaman, di RM Ayam Goreng Ardhita Bogor. Acara ini dihadiri kurang lebih 100 anggota KJS dan unsur masyarakat yang berdomisili Jawa Barat, tradisi silahturahmi bertujuan untuk saling mengenal satu sama lain antar anggota KJS.

Acara yang dipandu oleh Dadang Suherman dan Fadilah ini dimulai pada pukul 12.00 WIB. Ketua Umum KJS, Ir. Lintong Manurung, MM, dalam kata sambutannya mengucapkan Selamat Tahun Baru, dan mengajak semua untuk mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 “Karena atas perkenaannya lah, kita dapat hadir bersama-sama dalam acara yang sederhana namun penuh makna ini, dalam rangka mewujudnyatakan kehadiran Komunitas Jawa Barat Sejati (KJS), suatu komunitas dari masyarakat Jawa Barat yang toleran, untuk saling mengasihi dan menghargai dalam perbedaan dan keberagaman secara kongkrit di tengah-tengah bangsa dan negara kita,” ujarnya.

Lanjut Lintong Manurung, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kehadiran saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air yang datang dari berbagai kelompok anak bangsa, dengan penuh suka cita untuk saling bertatap muka dan saling menyapa, guna membangun persahabatan dan komunitas yang tulus untuk menjawab dan memberikan solusi atas permasalahan persatuan dan kesatuan anak bangsa yang semakin tidak kondusif pada dekade terakhir ini, terangnya.

Disampaikan Lintong Manurung, bahwa memasuki era reformasi yang hampir dua dekade ini, Indonesia terus didera berbagai kasus diskriminasi yang berujung kekerasan di berbagai daerah hampir di seluruh Indonesia. Peristiwa diskriminasi yang terkait agama mendominasi kasus kekerasan yang terjadi, kemudian disusul dengan kekerasan etnis.

Menurut Lintong, bibit-bibit diskriminasi dan kekerasan yang diawali dengan bertumbuh kembangnya intoleransi di tengah masyarakat kemudian meningkat secara kualitatif dan kuantitatif menjadi tindakan radikalisme yang merusak dan menciderai prinsip-prinsip kebersamaan dalam perbedaan dan keberagaman (Bhinneka Tunggal Ika) di tengah-tengah masyarakat kita.

Kasus intoleransi dalam bentuk pasif umumnya diwujudkan dengan bentuk penolakan untuk hadir dalam kegiatan-kegiatan di luar kelompok dan menutup diri untuk tidak bersosialisasi di luar komunitasnya, sedangkan kegiatan intoleransi dalam bentuk aktif dimanifestasikan dalam bentuk kekerasan verbal maupun fisik, seperti ujaran kebencian, agitasi, provokasi, penolakan dan pengusiran terhadap kelompok agama tertentu sampai kepada aksi perusakan, pembakaran dan penolakan pendirian tempat ibadah, lanjut Lintong.

“Intoleransi dan pelanggaran kebebasan beragama ini dipicu oleh banyak faktor, seperti kesenjangan sosial-ekonomi dan pengetahuan, kepentingan politik praktis oleh kelompok kekuatan politik tertentu di dalam negeri serta  pengaruh konflik politik berbasis agama yang ada di luar negeri,” tegas Lintong.***

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook