Disdukcapil Kabupaten Bogor Kebanjiran, Pengaruhi Layanan?

INDONEWS BOGORProgram jemput bola dinas kependudukan catatan sipil (disdukcapil) Kabupaten Bogor hingga kecamatan dan desa membuahkan hasil.
Hari sabtu, bahkan pelayanan perekaman kartu tanda penduduk elektronik (ktp-el) tetap dibuka. Kepala disdukcapil Kabupaten Bogor, Otje Soebagja mengatakan, berdasarkan data tahun 2017 jumlah penduduk Kabupaten Bogor sebanyak 4.246.307 Orang.
Masyarakat yang diwajibkan untuk memiliki ktp-el sebanyak 3.060.177. Sedangkan, yang telah melakukan perekaman 3.226.768 Warga. Lebih lanjut ia mengatakan, untuk jumlah ktp yang tercetak sebanyak 639.551.
Saat ini, sambungnya, disdukcapil juga terus melakukan upaya agar masyarakat dapat segera memiliki ktp-el. Mengingat, pemilihan kepala daerah (pilkada) 2018 akan dilaksanakan pada Juni mendatang.
Namun, untuk daftar pemilih tetap (dpt) pihaknya masih menunggu pelaporan dari kementerian dalam negeri (Kemendagri). Sebab, kpu ri juga menunggu data dari Kemendagri.
Namun sayangnya, keberhasilan itu ternyata tidak dibarengi dengan infrastruktur Kantor Disdukcapil. Masyarakat masih banyak mengeluh seperti yang dikatakan Agus Sofyan selaku Sekdis Disdukcapil kepada Indonews. “Kita mencoba terus berusaha memperbaiki pelayanan kearah yang lebih baik, yang sebelumnya tempat tunggu tidak ada kursi, serta atap terbuka. Sekarang sudah tersedia kursi serta atap tertutup. Saat ini yang menjadi permasalahan adalah genangan air akibat hujan lebat, Agus berjanji akan memperbaiki parit yang menjadi penyebab banjir ini. “Mungkin dari paritnya yang kurang lancar, karena sebelumnya walau hujan sedikit tidak terjadi genangan air,” ungkapnya pada Indonews.
Pada kondisi curah hujan yang tinggi Agus Sofyan ikut prihatin lagi, setiap hujan terus menerus di Bogor, Jakarta kebanjiran, seperti lagunya gambang kromong Benyamin S,” kata Agus dengan wajah yang sedih.
Persoalan lainnya masih adanya miss communication, misalnya Sistem pembuatan akta kelahiran dikeluhkan sejumlah warga Bogor. Keluhan itu umumnya mengenai lokasi pembuatan akta yang dipusatkan di satu titik dan sedikitnya kuota per hari.
Sebanyak 350 tumpukan berkas pembuatan akta ditumpuk dan diikat tali plastik. Sisanya, ditumpuk di atas kursi dan jumlahnya terus bertambah.
Sebagian warga sebenarnya sudah tahu bahwa berkasnya tidak akan diproses karena sudah melebihi kuota. Namun, mereka tetap menunggu dan berharap keajaiban.
Hingga pukul 07.30, tumpukan 350 berkas pembuatan akta kelahiran sudah dibawa masuk petugas Disdukcapil.
Selanjutnya adalah proses pemeriksaan berkas. Dalam proses itu, yang lengkap akan dibuatkan aktanya, sedangkan yang kurang lengkap dikembalikan.
Sementara itu, berkas yang lainnya masih ditumpuk di kursi di depan loket pembuatan akta. Warga masih terus berdatangan dan menaruh berkasnya di tumpukan tersebut.
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Bogor Oetje Subagdja mengatakan, membeludaknya antrean pembuatan akta disebabkan perubahan peraturan mengenai denda.
Akta yang dibuat lebih dari dua bulan setelah kelahiran semula didenda Rp 50.000, tetapi kini dendanya diturunkan menjadi Rp 10.000.
Denda tersebut dibayar langsung di loket pembuatan. Menurut Oetje, sistem pembuatan akta kelahiran sudah lebih baik karena langsung jadi satu hari.
“Makanya warga banyak datang disangkanya ada pemutihan, padahal bukan pemutihan,” ucap Oetje. (JS)

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook