Warung Kopi BOGOR KAPAYUN ! “Pilihan RBJK kepada Jaro Ade – Ingrid bukan teori ?“

Warung Kopi BOGOR KAPAYUN !
“Pilihan RBJK kepada Jaro Ade – Ingrid bukan teori ?“
.
Indonews, Bogor – Bismillahirahmnirahim, Assalamualaikum wrwb, Salam Sejahtera, Sampurasun: Pagi itu ,Kamis, tgl. 15 Maret 2018. Lobby sebuah Homestay seputaran Pantai Mandalika, Kuta, Lombok,NTB dimana tempat saya dan teman-teman menginap masih sepi. Namun beberapa turis ‘bule sudah mempersiapkan diri untuk ‘berspeda. Saya pun memesan Kopi dan Omlet sebagai menu sarapan. Ini bukan karena ‘style tapi karena mereka tidak menyediakan Nasi Goreng atau Nasi Uduk idola saya. “Maaf om, disini memang tidak sediakan menu nasi, maklum yang punya orang asing..”, kata petugasnya. “Ini Indonesia mas, suruh mereka yang menyesuaikan diri, bukan kita !”, selak saya. “Disetiap meja kamar ada lembar isian, mungkin om bisa tulis tentang itu..”, saya manggut-manggut walau pun dada sesak nahan marah. Singkat ceritera, saya berkenalan dengan seorang insinyur muda yang sedang menggarap ‘venue disana. Sebut saja namanya ‘Putra (47 thn) asal Pejaten, jakarta Selatan. Dia mengambil 4 kamar disana, 3 untuk tim-nya, dan satu kamar untuk dia, istri dan ke-2 anaknya. “Iya kang, kerja sambil wisata keluarga, wisata sambil kerja”, kata mas Putra. ‘Ini yang benar !, akhirnya saya ambil kesimpulan jika mas Putra ini adalah relawan juga. Dia dan tim-nya demikian ‘concern terhadap infrastruktur disatu daerah. ‘Di-Llihat, Di-kaji & Di-Laporkan. Baik kepada Penegak hukum & KPK jika ada temuan ‘aneh atau ke-kementerian/instansi terkait.
.
“Saya di Pilgub DKI Jakarta sangat anti Jokowi, saya pikir beliau adalah orang luar Jakarta. Mana mampu memimpin Jakarta. Nyatanya hingga saat ini kita merasakan itu terbalik 380 derajat. Jokowi bukan milik parpol pendukung, dia kini adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Harus terus dikawal hingga 2 periode kedepan. Semoga muncul nanti pengangganti-pengganti beliau yang tidak kalah kinerjanya, saya berharap itu muncul dari pada kepala daerah yang ada. Kita jemput mereka untuk menggantikan Jokowi.”,kata Mas Putra sambil menyuap potongan buah
.
TOP DOWN & BOTTOM UP ‘ALA’ JOKOWI..!?
Sambil ngopi, kami diskusi juga tentang pesatnya pembangunan era-Jokowi thn.2014-2018. Diantaranya tentang: Pemerataan & Keadilan Pembangunan Nasional yang dilakukan sejak tahun 2014 sampai saat ini, — pembicaraan terhenti — karena muncul teman-teman relawan dari Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) , Jawa Barat dan Jonny Sirait,Amd bergabung diskusi sambil ngopi.
.
Kami lanjutkan, dibawah pemerintahan Presiden Jokowi & JK telah dirasakan banyak manfaat semua masyarakat, termasuk saudara-saudara kita di kawasan Indonesia Timur yang selama ini seolah ‘terlupakan. Jokowi telah memberikan tauladan dengan kerja-keras, kerja bersama-Bersama kerja & kejujuran bagaimana melakukannya secara terukur, cepat, tepat, dan berkesinambungan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat baik secara materiil maupun spiritual. Dan semua ini tercapai disaat masyarakat ikut andil kedalamnya, salah-satunya melalui dan menggali sumber dana dari dalam negeri berupa pajak.Jokowi bersama Menkeu demikian mengejar target pencapaian pajak/tahunnya , dan selalu diatas > 80%, terakhir thn. 2017 mencapai 91,3% (Rp 1.147,59 triliun) dari target > Rp.1.283,6 triliun
.
“..Maka sudah dapat dipastikan di tahun 2018-2019 akan banyak lagi pembangunan dan renovasi infrastruktur nasional yang berjalan. Sebagaimana thn.2016, yang mencapai Tahun 2016 tercapai > 87,2% – Rp.1.105 triliun dari target > Rp 1.355 triliun…”,timpal Lae Jonny Sirait,Amd.
.
Ditambahkannya lagi, “Ada yang secara kasat mata terlupakan orang, sebagaimana APBD dari seluruh Provinsi, Kota & Kabupaten yang kemudian disatukan dalam APBN/tahunnya dimulai dari ‘bawah (Bottom-up) , daerah mengusulkan anggaran dan dirangkum dalam APBN. Kemudian di eksekusi Jokowi dengan kerja-kongkrit yang salah satu modal kerjanya itu dari pencapaian Pajak Nasional. “, kami pun mengangguk setuju.
.
Dr.Syaiful Bakhri, Ketua ISNU – Ikatan Sarjana Nadlatul Ulama Kab.Konawe, Sultra – ikut andil diskusi, katanya. “..Setuju, dengan tercapainya pajak dengan baik maka di thn.2018-2019 akan ada : Pemasangan listrik di desa-desa tertinggal untuk menggenapkan 25.000-30.000 desa yang telah berlistrik di thn.2014-2017, Pembangunan 1 juta rumah /tahun yang hingga saat ini baru terealisasi > 64%/tahun, dsb. Intinya, dengan segala kekurangannya, Jokowi telah bekerja karena ada proses Top –Down dan Bottom Up yang cantik. Jokowi memang eksekutor handal, wajar jika dunia internasional pun mengakui kerja Jokowi .”
.
Benar, Untuk Bottom-Up, dalam referensi manajemen disebut sebagai gagasan yang di-awali oleh identifikasi berdasarkan pola dan landasan terdasar , Jokowi telah mendapat ‘amanah sebagaimana yang ada di APBD/APBN untuk di-eksekusi. Ada pun Top-Down adalah teori yang berdasarkan Bottom-Up, setelah meng-eksekusi , Jokowi terus mengawal dan mengawasi penggunaan APBD/APBN tersebut secara tegas, cepat dan profesional. Yang ‘miring-miring dan un-commited, maka sudah pasti akan dipenjarakan KPK atau ditangkap BNN karena uang rakyat itu dipakai untuk pesta Narkoba.
.
BOTTOM -UP ALA RELAWAN JARO ADE !?
Apapun bentuknya , hal ini mulai dilakukan oleh para Relawab Bogor Jadi Kapayun (RBJK), saat melakukan acara diskusi perdana di kediaman Pem.Redaksi Indonews, Jonny Sirait,Amd. Yang juga adik kelas saya saat SMA di Jakarta . Sabtu, 17 Maret lalu. Pada kesempatan itu , saya diberikan waktu untuk ‘share’ pengalaman selama ini. Sejak menjadi jurnalis jalanan sampai saat ini. Yaitu harus berani mengambil peran penuh dengan konsep2 nyata hingga menusuk wilayah ‘musuh. Kerja Senyap, Ojo Gaduh.
.
Kata saya, dalam ke-relawanan apapun kadang ditahap awal kita akan menghadapi ‘ke-njlelimet-an, euphoria, pro-kontra hingga sumpah-serapah. Karena itu, relawan harus punya konsep & strategi jitu yang sulit dibaca lawan. Saya juga selaku Penasehat Indonews berpesan dan berharap dalam gerakan ke-relawanan hendaknya mengedepankan kualitas konsep/program (quality) bukan kuantiti atau jumlah orang. Dengarkan apa kehendak masyarakat , dicatat untuk dijadikan ‘modul dasar kerja’ itulah yang saya namakan ‘Bottom Up Concep (BUC) , kemudian dirumuskan dan di-eksekusi. Baik untuk kosumsi Pilpres atau Pilkada Serentak 2018.
.
Karena menjelang Pilbup Bogor thn.2018-2023, maka RBJK pun harus bersikap sama sehingga tidak seperti ‘menjual kucing dalam karung. RBJK wajib menjaga dan mengawal komitmen, karena BUC lahir dari masyarakat. Pertanyaannya, beranikah si-paslon ‘meng-eksekusi atas BUC tersebut?, jika berani maka dialah ‘Top-Down itu, Eksekutor demi kesejahtraan masyarakat (Top-Down Execution).
.
Top Down Execution (TDE) adalah bagaimana meraih simpati dan suara pemilih sebagaimana yang diamanahkan RBJK dalam Bottom-Up Concept (BUC) , posisi RBJK adalah mitra-kerja/partnership bisa juga sebagai ‘eksekutor jika sudah berhadapan dengan masyarakat calon pemilih Cabup/Wabup tersebut.
.
Saya katakan juga sudah tidak jaman menjadi relawan sosmed, dia harus berani berdiri terdepan bersama masyarakat. Top-Down Execution . Waktu tersisa kita demikian sempit, mungkinkah kita mampu mencapai > 62% dari 3,3 juta pemilih?
.
Inshaa allah Jokowi akan ‘melaju terus hingga thn.2024, maka diperlukan para pembantu dan kepala daerah yang ‘pekerja keras, para kepala daerah yang menjaga Ke-Bhinneka Tunggal Ika-an, menjalankan program2 Nawacita dan kepala daerah yang mendukung Keadilan Pembangunan Nasional. Disatu sisi Jokowi akan memagari mereka dengan KPK, BNN dan penegakan hukum lainnya.
.
Banyak pekerjaan besar yang harus dilakukan RBJK kedepan, maka gerakannya harus terkonsep. Ingat, jangan melibatkan diri dengan janji-janji ‘pembangunan infrastruktur karena itu bukan tugas relawan. Lihat ceritera kuno tentang prajurit SPARTA lalu, kalau pun jumlah mereka sedikit dibanding pasukan Romawi yang ribuan jumlahnya. Mereka selalu memenangkan peperangan karena mereka punya strategi perang yang jitu, mobilisasi masyarakat, perang yang melibatkan masyarakat sebagaimna jaman kemerdekaan dimana kita menggunakan taktik ‘Gerilya. Kerja Senyap, Ojo Gaduh.
.
Jika RBJK kemudian lebih ‘memprioritaskan bersinerji dengan Jaro Ade – Ingrid Kansil pun itu bukan ke-haraman, karena hak relawan untuk mendapatkan Bupati & Wabup Bogor thn.2018-2023 yang amanah . Yang kelak tidak akan ‘menutup-gerbang saat ada komitmen yang dilanggarnya. Tapi keluar rumah dan menemui relawannya. Dari beberapa kasus jatuhnya ‘pejabat publik, diantaranya karena laporan relawannya sendiri melalui Kepolisian, KPK, BNN dsb.
.
Pilihan RBJK kepada Jaro Ade – Ingrid bukan teori, dia adalah bola salju (Snaw-ball), yang terkonsep bukan karena ‘Cinta buta, tapi Cinta Kasih atas Keadilan Pembangunan Nasional thn.2018-2023. Biarkan saja orang lain menduga-duga negatif, kepada Allah SWT, Tuhan YME kita memohon ridha. Demikian, Wilujeng Ngopi. Mhn maaf lahir bathin. Kerja Senyap, Ojo Gaduh.. (Arief P.Suwendi, Penasehat Indonews Bd.Media & Event Organizer)

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook