Warung Kopi BOGOR KAPAYUN ! “JANGAN LAGI ADA DEMO DI KABUPATEN BOGOR !” .

Warung Kopi BOGOR KAPAYUN !
“JANGAN LAGI ADA DEMO DI KABUPATEN BOGOR !”
.
Indonews, Bogor – Sepulang dari Lombok,NTB lalu. Saya menyempatkan diri untuk mampir ke Warung Kopi BOGOR KAPAYUN !, kalau pun malam mulai menjelang larut, dan kebetulan bersama seorang Penasehat Indonews lainnya yaitu, Maydin RH.Sitanggang,SE,MM atau yang akrab kami panggil ‘Bang May’ ini. Sesampainya dilokasi , saya berkeliling dengan bang May. “Itu ruang apa bro?”, tanya Bang May yang juga  alumni/ kakak kelas kami  di SMA 53, Jakarta ini  sambil menunjuk semacam area luas 8 X 20 meter yang terdiri atas  ruang ‘ngopi dan stage/panggung yang terletak disisi kiri warung Kopi ini  “Itu ruang Rembug Rakyat, kami namakan “Rembug Center”, multi-fungsi, bisa menjadi panggung kesenian, musik bisa juga menjadi panggung terbuka untuk diskusi para warga Kabupaten Bogor..”, jawab saya. “Kalau yang itu?”, tanya Bang May lagi menunjuk area sisi kanan yang luasnya pun sama. “Itu rencananya akan diisi oleh kios-kios karang-taruna se-kabupaten Bogor, jika saja saat ini ada 40 kecamatan maka disana akan ada 40 kios. Untuk ukuran sedang kami hitung kembali, kami namakan ,”Youth Center”. Mereka boleh menjual cindera-mata, dsb. “ Bang May manggut-manggut. Kami pun berjalan menuju  warkop, disana kami tunjukkan lahan yang akan diisi oleh  budi-daya tanaman hias, ikan hias dan burung. Nanti saya akan kerjasamakan dengan TP-PKK atau Dekranasda Kabupaten.Bogor.
.
“Horas, selamat pagi abang-abangku semua..”, kami dikejutkan kehadiran pemimpin Redaksi Indonews, ‘Lae Jonny Sirait, Amd. Kami pun berjabatan tangan sambil menuju ruang utama Warung kopi, dan ..Ahaaayyyy… ada senyum Arum disana. Putri Abah penjaga Warkop ini. Setelah basa-basi, panganan dan kopi pun tersaji di meja. Tiga kopi gelas kopi kampung tanpa gula, Pisang rebus dan sepiring combro. Ahay dusta mana lagi yang kau ingkari, ahahahah..
.
Bang May dan Lae Jonny duduk depan meja , sedangkan saya duduk berdua dengan Arum, saya tahu Lae  Jonny kurang suka. Tapi sudahlah Lae, terima-saja nasibmu. Ahahaha..
.
Bang May kemudian berkata, “Warung Kopi BOGOR KAPAYUN ! ini harus menjadi trend-setter warkop-warkop lain disini, selain menyajikan kopi lokal, eksplore seni budaya lokal juga pemberdayaan masyarakat (Community Development). Semua dimulai dari bagaimana kita mengemas ‘komunikasi, banyak program-program pemerintah pusat dan daerah yang belum maksimal di dengar masyarakat, disinilah kita ambil peran, dengan gaya dan style kita sendiri. Kita belum maksimal dalam program pembangunan 1 juta rumah, kita belum maksimal bagaimana mengantisipasi peredaran narkoba, dsb..”, kata Bang May sambil membetulkan letak cincinnya, sepertinya ini cincin baru karena saya jarang melihatnya. ‘Cieee..
.
“Boleh saya ikut bicara bang?”, selak Arum yang mirip artis Asmiranda ini. Kami mengangguk, Arum mengerdipkan matanya ke saya, Lae Jonny langsung tepok jidat.  Arum membetulkan hijabnya, kalau pun seharian kuliah dan bekerja di warkop ini , manisnya tidak luntur satu-persen pun. “..Berkomunikasi sama dengan rangkaian  membuat perancangan, penyusunan, kepimpinan atau pengawalan. Dalam pembangunan sumber manusia, komunikasi ialah elemen penting bagi pembangunan individu, prestasi, pembangunan pengetahuan, pembinaan kompetensi, latihan atau pembangunan organisasi. Justeru itu kemahiran komunikasi sangat diperlukan oleh pengamal pembangunan sumber manusia terutama dalam konteks interpersonal, penulisan, penyampaian latihan, intervensi dan perundingan. Maka saya setuju jika disini akan dibangun Warung Kopi BOGOR KAPAYUN ! dalam bentuk ‘Rembug Center dan Youth Center. Disini pula kita saling berdiskusi menyampaikan hal-hal yang terjadi di masyarakat agar cepat sampai ke pemerintah pusat dan kabupaten Bogor. Jika saja saat ini jumlah penduduk Kabupaten Bogor ada sekitar 5,6 juta orang. Maka ada segmen anak ‘milenial hingga 10%, dan jika kita mampu mencapai minimal 1% saja, itu sudah prestasi. Dalam arti kita mampu mengurai masalah yang ada secara profesional. Warung kopi ini juga menjadi solusi untuk masyarakat Kabupaten Bogor, khususnya menghindari tersumbatnya komunikasi antara publik dan pemerintah. Ekstrimnya, kita menghindari disini marak Unjuk rasa atau demonstrasi, kalau pun demo adalah sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum. Namun realisasinya, demo banyak merugikan publik, karena disertai  pengrusakan terhadap benda-benda dan sumpah serapah bahkan fitnah.   Hal ini dapat terjadi akibat keinginan menunjukkan pendapat para pengunjuk rasa yang berlebihan. Ini potensi konflik, saya tidak setuju….”, kata Arum sambil lagi mengerdipkan matanya ke saya. Lae Jonny kembali ‘nepok jidat.
.
Bang May mengambil forum lagi, “Betul, saya setuju dengan statemen Dik Arum, masih kuliah ya dik?”. “…Iya bang May, kuliah tingkat  akhir di salah satu Akademi Bahasa Internasional jurusan Bahasa Korea. Tapi jangan panggil ‘Dik ya bang, cukup Arum saja”, jawab Arum sambil lagi mengerdipkan matanya ke saya. Lae Jonny kini bukan lagi nepok jidat tapi ‘nepok perut. Ahahahah..
.
“Sejak dahulu , demonstrasi adalah ungkapan manusia ber-demokrasi, karena itu dilindungi oleh UU dan aturan lainnya. Selama itu tidak anarkis dan merugikan publik, it’s oke, fine. Namun bolehlah saya sebut karena semua ini terjadi akibat tidak adanya lagi saluran komunikasi yang baik antara yang berdemo dan yang didemo. Tidak ada lagi diskusi, silahturahmi atau musyawarah, semua bersikap egois, mau menang sendiri. Saya pernah tahu jika kang Arief waktu maraknya Reformasi 1998 , menyelinap masuk ke fraksi-fraksi yang ada di MPR-DPRRI sana, dia hanya berdua dengan temannya, dia tidak berdemo tapi membawa surat ijin ‘hearing satu organisasi aktifis saat itu, akhirnya semua terselesaikan dengan baik dan profesional. Mereka berdiskusi dengan semua perwakiilan legislatif dengan satu tuntutan “Lengser Prabonkan Suharto”, ini salah satu contoh bahwa ‘hearing atau dengar pendapat mungkin lebih baik dibanding pengerahan masa. .”, kata Bang May lagi. Saya tersentak, rupanya Bang May masih ingat peristiwa thn.1998 itu. Arum mengerdipkan matanya lagi kesaya, ‘cling. Lae Jonny buang muka, entah dibuang kemana?. Ahahah..
.
Lae Jonny sambil menyeruput kopi, mulai angkat bicara. Dengan terlebih dahulu membetulkan letak kaca-mata hitamnya yang miring.  “Demonstrasi  identik dengan Demokrasi,  namun siapa yang dapat menjamin semua ‘akan terkendali aman. Mengapa ?, bagi saya, SATU – kecenderungan menjadikan masyarakat/warga negara sebagai partisipan pasif dalam proses politik. Masyarakat hanya menjadi obyek pasif, yang hanya histeris diseberang panggung. Posisinya hanyalah pem-beo pada agitasi dan propaganda para demagog/orator. DUA – semakin meningkatnya kepongahan elite dan kecenderungan mentradisikannya. Seorang tokoh politik atau elite yang sering di elu-elukan ditengah histeria massa, merasa memiliki eksistensi diri yang tinggi, dan lebih segalanya. Seringnya orang beragitasi ditengah massa yang menjadikannya sebagai candu yang akan diulang-ulang. Dan, KE-TIGA,….. menjauhnya essensi komunikasi antara massa dan elite. Hal ini merupakan akibat langsung dari yang pertama dan kedua. Komunikasi ini terputus oleh sifatnya yang linear dan doktriner. Tidak mungkin upaya meningkatkan kemandirian individual dan sosial masyarakat dibangun dalam ruang publik yang penuh dominasi semacam ini. Bukankah bangsa ini dikenal santun dan mengedepankan musyawarah?, maka kami menyetujui konsep Kang Arief untuk menjadikan warung Kopi ini bukan sekedar warung-kopi biasa, tapi warkop yang ikut ‘menjembatani harapan masyarakat Kabupaten Bogor, juga menghindari ‘maraknya  demonstrasi..”, kata Lae Jonny membetulkan kerah kemeja Indonews-nya sambil mengerdipkan matanya ke Arum, Arum melotot dan ‘me-melet-kan lidahnya. Ahahahahahah…kami pun tertawa terbahak.
.
Terbayang sesaat dalam lamunanku, bagamana Bupati & Wabup Bogor Thn.2018-2023 mendatang sepi dari ‘demo masyarakatnya, karena semua terkomunikasikan dengan baik.
.
Tiba-tiba, …’Gedombraaaaannnggg !!!!, Abah melemparkan pancinya di dapur, tanda warung ini akan ditutup karena sudah larut malam, kami malah kembali tertawa-tawa. ….. Mohon maaf lahir bathin… (Arief P. Suwendi, Penasehat Indonews Bd.Media & Event Organizer)

 

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook