Warung Kopi BOGOR KAPAYUN ! JARO ADE-INGRID  “MOAL KEOK”

Warung Kopi BOGOR KAPAYUN !
JARO ADE-INGRID  “MOAL KEOK”

INDONEWS, LEBAK – Keragaman budaya di Indonesia menimbulkan perbedaan dalam masyarakat termasuk partisipasi politik, dengan dilangsungkannya pemilihan umum sebagai metode dalam memilih pemimpin di Indonesia. Akan tetapi, hal tersebut tidak diikuti oleh sebagian masyarakat adat yang memegang teguh prinsip warisan leluhur, seperti masyarakat Baduy yang memegang teguh adat Pikukuh Karuhun. Mereka menerapkan sikap Lunang (Milu Kanu Meunang) atau ikut pada yang menang.

Tahun Pilkada 2018 Menjadi Momentum Untuk memilih Pemimpin yang Bersih, Tanpa Korupsi untuk menghadirkan hukum yang adil, diperlukan konfigurasi politik yang demokratis. Para elit yang dihasilkan dari sistem pemilu yang bersih, jujur dan adil. Sistem pemilu yang menghasilkan pemimpin kekuasaan karena rekam jejak dan integritas-moral serta kapasitas-intelektual, bukan karena modal-finansial, apalagi melalui praktik nakal politik uang.

Saat awak media Indonews menyambangi desa ciboleger kecamatan Leuwi Damar Kab, Lebak Jumat 30/03/2018. Saat itu kami diantar oleh seorang pemandu wisata untuk menuju suatu perkampungan yang berada diatas gunung dengan berjalan kaki kira kira sekitar 10 km,melewati bebatuan dan jalanan setapak serta licin diwaktu musim penghujan, didalam perjalanan banyak cerita atau larangan yang disampaikan oleh pemandu tersebut yang tidak boleh dilanggar saat kami hendak bertamu.

Dengan perjalanan kurang lebih dua jam kami sampailah ketempat yang kami tuju, waktu itu kami dipertemukan dengan seorang Puun (kepala adat) untuk bersilaturami dengan beliau.

Kami disambut dengan hangat serta ramah oleh seorang orang tua yang usianya sudah sangat tua dan akrab dipanggil “Aki” yang tinggal sendiri digubuk karena istrinya sudah meninggal serta anak anaknya sudah pisah rumah, yang rumahnya ini menggunakan bahan baku yang berasal dari alam. Bahan seperti kayu digunakan untuk membangun pondasi, sedangkan pada bagian dasar pondasi menggunakan batu kali atau umpak sebagai landasannya.

Hal yang unik dari pembangunan rumah ini adalah dibangun dengan mengikuti kontur tanah. Hal ini berkaitan dengan aturan adat yang mengharuskan setiap masyarakat yang ingin membangun rumah tidak merusak alam sekitar demi membangun suatu bangunan. Karenanya, tiang-tiang rumah adat Suku Baduy tidak memiliki ketinggian yang sama. Sedangkan anyaman bambu digunakan dalam pembuatan bilik dan lantai rumah. Untuk atap, rumah adat Suku baduy menggunakan ijuk yang terbuat dari daun kelapa yang telah dikeringkan.

Walaupun demikian kami merasa betah lama lama berada digubuk tersebut dan kami disuguhi makan nasi merah yang hasil panen dan lauknya hanya garam dan pete, tetapi entah mengapa rasanya makanan tersebut sangat nikmat dan sampai beberapa kali nambah. Dibandingakan makanan yang ada dikota jauh lebih nikmat dan berkah walau makan seadanya serta sangat sederhana sekali.

Selang dengan waktu kami membicarakan pilkada yang akan dilaksanakan serempak pada tahun ini, Ketika ditanya mengenai hal itu, Puun atau orang yang dihormati di desa tersebut, “Aki, menjawabnya dengan penuh kebanggaan. “Kami tidak memilih atau mencoblos. Itu karena kami menganggap semua calon adalah saudara kami. Jadi siapa aja yang menang kami mendukungnya,” Kata Aki kepada Media Indonews.

Saat ditanyakan untuk Cagub kab Bogor dan memperlihatkan photo Jaro Ade yang terpampang pada Surat kabar dari media kami,  ” tenang ceng beda saeutik oge MOAL KEOK”(tenang nak beda sedikit tidak bakal kalah) ucapnya.
Adenopiansyah

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook