Warung Kopi BOGOR KAPAYUN ! “TIRU JOKOWI, LELANG JABATAN ATAU KORUPSI?”

Warung Kopi BOGOR KAPAYUN !
“TIRU JOKOWI, LELANG JABATAN ATAU KORUPSI?”
.
Indonews, Bogor – Malam ini,  kami  (Saya & Yuto HA.Silondae,SH – Ketua DPW PERI Prov.Sulawesi Tenggara (Sultra) / Pem.Redaksi Suara Indonesia) – baru saja hendak  check out  dari sebuah Hotel di Kendari Beach karena seluruh kamar akan di book oleh sebuah Instansi pemerintah. “Ini hotel sangat bagus fasilitas dan pelayanannya, sayang kita harus check out dari sini. Mereka demikian mengedepankan kepuasan pelanggan, saya ‘recomended jika ke Kendari lagi pasti akan ambil disini”, kata saya sambil memasukan ‘perlengkapan lenong ke mobil.  Semua karyawan resepsionis dan security  berdiri hormat, maklum sudah  3 malam kami disini, sehingga satu sama lainnya sudah kenal. “Jangan bosan mampir kesini om”, kata mereka mengantar hingga area parkir. Saya dan Yuto mengangguk, demikian membekas.
.
Tiba-tiba seluler berdering, dan saya paham sekali nomor si penelepon tersebut. Ya, dialah Jonny Sirait, Amd – Pem.Redaksi Indonews. “Horas Abangku, kulihat di sosmed abang masih di Kendari ya?, Bang, to the point saja ya. Untuk edisi mendatang, aku ingin abang menulis tentang pentingnya Pelayanan Masyarakat oleh para  Kepala Daerah. Dan Pejabat terkait satu program kerjanya. Seperti di Kabupaten Bogor ini bang, pelayanan dan percepatan pengurusan E-KTP, Akte Lahir dsb masih lamban.  Saya ingat ceritera abang saat di Kabupaten Bandung Barat sana, Kepala Dinas Dukcapil-nya dalam menanda-tangani dokumen-dokumen selalu dimulai dengan ucapan dan doa ‘bismillahirahmanirahiim  dan shalawat Nabi , itukan ngeri-ngeri sedap bang.  Juga dalam hal penanganan sampah, maka jangan heran jika kemudian daerah kami ini akan dikenal sebagai Kabupaten Penuh Sampah. Di kami ini sampah bisa tidak terangkut hingga dua minggu lamanya, bang. Hallooowww…hallooowww…. “,.. saya tersenyum saja.
.
“Ya sudah jika abang sibuk dan tak menjawab tak apa, abang dengarkan saja ya. Selain kepengurusan kependudukan, sampah bertumpuk, ada juga kasus banyaknya jalan rusak, irigasi mangkrak , pasar tradisionil yang tidak tertata rapih, pengangguran  dan kemiskinan yang masih tinggi, kemacetan , minimnya PJU, angkot ngetem sembarangan, peredaran narkoba meningkat, kriminalitas, semua ini karena orang yang mengurus tentang hajat publik tidak maksimal, dalam arti  pokoknya banyak kali  ‘bah yang belum maksimal, bang. Bisa abang tulis itu nanti ya?”, ..saya tidak menjawab, tersenyum saja.
.
BICARAKAN DENGAN JARO ADE
“Lae ini sedang telepon siapa?”,..”Ya Abangda lah”,..”Lah aku kan tidak ikut Nyabup Bogor, seharusnya masalah-masalah inilah yang para calon sampaikan kepada publik sebagai materi kampanye. Itu lebih cocok saya pikir Lae, makanya saya bilang lakukan ‘zoning masalah per-desa, rumuskan dan tetapkan sebagai materi kampanye. Dan tanyakan kepada para paslon apakah mereka  berani ‘kontrak politik, dalam arti jika mereka terpilih menjadi Bupati/Wabup Bogor thn.2018-2023, kemudian mengingkari janji-janjinya apakah mereka berani  ‘turun-dijalan alias Lengser Keprabon sebagaimana Soeharto lalu?. Kita sudah banyak pengalaman terhadap kepala daerah atau legislatif  disaat mereka menjabat maka mereka akan ‘tutup panca-indera mereka.  Malah mereka menjadikan korupsi dan narkoba sebagai ‘life-style. Jangan lupa Lae, hingga tahun 2017 lalu ada lebih 392 Kepala Daerah yang tersangkut hukum, dan diantaranya , sekitar 313 kepala daerah berurusan dengan KPK karena korupsi. Juga ada 900-an kepala desa yang korupsi. Pelayanan dan Pengabdian itu adalah moralitas, namun dia akan kalah saat ‘materialistis mendominasi, khususnya mereka yang ‘tipis-iman. Maksiat jabatan. Lupa kau, Lae?”, tanya saya, Lae Jonny terdengar batuk-batuk. Kemudian hening.
.
“Sebelum melayani orang lain, layani dulu diri sendiri secara baik sebagaimana agama masing-masing mengajarkan.  Termasuk melayani moralitas, mental dan rohani. Di jaman pilpres dan pilkada itu menjadi ‘sasaran tembak, satu-sama lainnya saling serang banyaknya anggota parpol tertentu yang dipenjara KPK atau ditangkap BNN. Sekaligus pembelaan terhadap parpolnya yang tidak demikian. Sehingga melupakan program-program prioritas yang berkaitan dengan ‘Keadilan Pembangunan Nasional dan Daerah’. Bahkan fitnah SARA, dan sumpah-serapah akan menjadi pilihan kampanye. Swing-Votter di Kabupaten Bogor ini cukup potensial, kalau boleh saya duga mungkin mencapai 400.000 suara dari 3,3 juta, pemilih thn.2018 ini. Jika salah kemas maka mereka akan memilih ‘Golput, lihat saat Pilbup Bogor thn.2013 lalu, Golput-nya mencapai lebih dari 1 juta orang dari 3,1 juta pemilih. Kualitas materi kampanye menjadi tolak ukur kesuksesan sebuah pilkada atau pilpres. Maka para paslon Bupati Bogor yad bagusnya ambil materi tentang bagaimana meningkatkan kerja dan pelayanan pemerintah kepada masyarakatnya, jangan dibalik…”, kata saya terhenti karena tiba-tiba mobil rem mendadak. “Kenapa , to?”, tanya saya kepada Yuto. “Itu bang ada jalan lubang besar padahal ini jalan nasional, yang juga dilalui Kepala daerah dan anggota DPRD..”, Ahahahah…kami pun tertawa
.
”..Haloowww, kalian mentertawakan aku?”,…”Bukan Lae !”, ..”Oghh, Jadi kemana masalah masalah tadi ini saya sampaikan bang?”, tanyanya, volumen speaker seluler saya besarkan agar Yuto mendengar jelas juga.  ..”Aku pikir begini Lae, kita ini hanya media, yang  salah-satu fungsinya menjadi ‘sosial kontrol mereka, tidak lebih. Kita hanya terus menghimbau agar para pejabat publik termasuk kepala daerah dan legislatif ingat bahwa saat menjabat mereka disumpah dibawah kitab suci. Jadi selain bertanggung-jawab kepada publik, juga kepada Tuhan. Tapi siapa yang perduli?. Nah, kau kan cukup dekat dengan Jaro Ade, ketua DPRD Kab. Bogor yang kini ikut ‘nyabup. Bicaralah dari hati-kehati, lalu cari solusi, dan eksekusi. Begitu kan,Lae?”, ..”Iya Abang, kadang-kadang aku jadi frustasi dalam situasi seperti ini bang”,..”No,No,No… dalam agama apapun dianjurkan untuk saling menasehati dalam kebaikan. Dan kita sebagai pekerja media telah melakukan itu, Ini soal moralitas, ‘enough…”, ..disana terdengar Jonny batuk-batuk lagi.
.
MENIRU JOKOWI ITU TIDAK SALAH
“..Ada contoh lain yang berkaitan dengan maksimalisasi pelayanan masyarakat, Lae. Kita waktu itu demikian tidak paham kalau pun kita adalah relawan beliau. Yaitu saat Jokowi selaku Gubernur DKI jakarta melakukan program ‘Lelang Jabatan’. Khususnya kepada para camat dan lurah, akhirnya kita paham itu adalah strategi dahsyat beliau dalam  mengatasi adanya campur tangan para politisi dalam birokrasi pemerintahan. Kita masih ingat saat Jokowi berkata, “…Sebagai seorang Gubernur yang diangkat melalui jalur politik, saya  mengakui adanya tekanan untuk mengangkat orang-orang tertentu dalam birokrasi. Namun saya  berusaha menghindarinya dengan menerapkan kebijakan lelang jabatan. Sebenarnya bisa saja saya sebagai seorang pemimpin tunjuk langsung lurah di daerah B. Saya panggil 1 orang, tanya kalau mau camat di kecamatan C, tapi 5 tahun lagi harus menangkan partai saya, gimana? Kalau kamu mau nanti saya angkat. Sayangnya saya bukan seperti itu, saya hanya berharap tata kelola Pemprov DKI Jakarta akan berjalan baik, maksimal, proporsional dan profesional. Itu salah satu membuat pelayanan menjadi lebih baik, cepat dan tepat. Banyak yang bilang saya pencitraan, tapi saya tidak perduli. Masih ingat, Lae ?”,.. Suasana hening, tidak ada jawaban. ‘Aghh…rupanya seluler Lae anak Porsea ini sudah mati. Biasa itu, kalau bukan karena baterai ngedrop, pasti pulsanya habis.
.
Saya dan Yuto tertawa ngakak, dan melanjutkan perjalanan menuju hotel yang kami tuju. ‘Mohon maaf lahir bathin…(Arief P.Suwendi, Ketum Persatuan Relawan Indonesia (PERI) & Penasehat Indonews Bd. Media & Event Organizer)

Terkirim dari tablet Samsung.

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook