Warung Kopi SUKABUMI AGEUNG ! “AYO BANTU MADJO & MANGGIS SUKABUMI”

Warung Kopi SUKABUMI AGEUNG !
“AYO BANTU MADJO & MANGGIS SUKABUMI”
.
Indonews, Sukabumi – Pulang dari Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat – saya dan Pimpinan Redaksi Indonews, Jonny Sirait,Amd menyempatkan diri mampir ke Warung kopi ini. Memang warkop ini tidak luas seperti Warkop BOGOR KAPAYUN, yang luasnya hampir 1 hektar. Namun Warkop SUKABUMI AGEUNG!, ini tidak berada diradius polusi kota, disini lebih asri jauh dari pabrik dan industri.
.
Kami pun tiba di Warkop ini, disana sudah ada Abah Jenggo – pemilik Warkop. Di hadapan abah tampak tumpukan buah manggis dsb, sambil menghirup kopi yang baru dihidangkan, abah bertutur, ….” Banyak orang lupa jika potensi buah di Kabupaten Sukabumi seperti Rambutan, Pepaya, Mangga, Pisang dan Manggis memiliki potensi ekonomi cukup besar, misalnya buah Manggis, setiap tahun bisa memproduksi > 831,8 Ton, lebih tinggi dari Pisang > 201.946,8 Ton….”, kami pun dipersilahkan mencicipinya satu-persatu.
.
“Selain Pisang, Jeruk, Rambutan dan durian, Manggis pun mempunyai potensi memberikan keuntungan bagi petani sekitar Rp.15 – Rp20 juta/ bulan dari setiap satu hektarnya”, tambah Abah kami pun manggut-manggut
.
Bahkan menurut Abah, Manggis hasil perkebunan di Kabupaten Sukabumi sudah sejak lima tahun ke belakang diekspor ke luar negeri, khususnya ke negara-negara di timur tengah. “Maka kita harus mendukung Pemkab Sukabumi khususnya kepemimpinan Marwan-Adjo (MADJO) untuk mengupayakan perluasan area tanaman manggis. Sehingga kuantitas pengeksporan manggis bisa lebih banyak. Karena saat ini jumlah luasan area manggis di Sukabumi barulah dibawah 2.000 hektare khususnya di kecamatan Cikembar, Cicantayan dan Gunungguruh. Saya mohon kalian bantu bagaimana Sukabumi mampu memiliki minimal 5.000 hektar di tahun 2019 nanti, syukurlah setiap tahun menaik 5.000 hektar hingga nanti mencapai 1 juta hektar..”, kata abah lagi, kami menelan ludah, ‘Glek..
.
Kata Abah lagi, Buah manggis dengan nama Latin ‘Gracinia Mangostana sebetulnya buah iklim tropis namun bisa juga tumbuh dalam iklim lembab sebagaimana di kabupaten Sukabumi ini dianatara 400-1000 mdpl. Manggis dikenal sebagai ‘Ratu buah, sebab khasiatnya yang dimiliki buah dan kulit buahnya kaya dengan 40 lebih zat xanthones yang merupakan salah satu antioksida yang sangat bermanfaat di dunia, tidak hanya itu manggis juga memiliki kandungan polikasanida, cathechins, dan polyphenols yang merupakan salah satu bahan antikulat dan anti bakteri.

Manggis selama ini memang lebih dominan tumbuh di Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Jawa Barat (Jasinga, Ciamis, Wanayasa), Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, Jawa Timur & Sulawesi Utara. Maka ini kesempatan Kabupaten Sukabumi mengambil peran.
.
Akar tanaman manggis memang sangat sedikit, sehingga tidak bisa banyak menyedot air dan pupuk. Akibatnya tanaman ini tumbuh lambat. Untuk memperbanyak akar tumbuhan, kita siasati menanam tiga benih tanaman manggis dalam jarak berdekatan. Ketiganya disatukan, dibiarkan tumbuh menjadi satu namun dengan tiga cabang akar utama, yang dapat menyerap lebih banyak air dan pupuk. Dengan cara tanam yang disebut “three-in-one” ini, petani dapat menghemat 8 hingga 10 tahun waktu tanam. Saya lupa detilnya, namun teori ini merupakan hasil riset lebih dari 6 tahun oleh seorang saat disertasi doktoralnya pada tahun 2003 di IPB.
.
Menjelang pkl.11 siang Abah pamit karena ada urusan lain, saya dan Lae Jonny tinggal berdua di Warkop. “Apa rencana abang?”, tanya Lae Jonny.
.
Saya tidak langsung menjawab, saya mengaduk kopi terebih dahulu. “.. Abah tadi bilang bahwa saat ini dengan luas 2.000-an hektar kita mampu produksi lebih dari 800 ton Manggis/tahun. Maka, suatu waktu kita silahturahmi ke Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) kabupaten Sukabumi. Kita ‘mapping kecamatan mana saja yang termasuk di 30.000 area dan lahan kritis. Karena di tahun 2017 lalu di kabupaten Sukabumi ada lebih 30.000 hektar lahan kritis, Inshaa Allah budidaya buah Manggis salah satu solusinya. Jika saja budi daya Manggis mampu berproduksi di 30.000 hektar maka hitungannya sederhana saja; 12.000 ton/tahun X Rp.15 juta/bln sebagai income petani X 12 bulan = Rp. 2,1 triliun/tahun. Jika setiap hektar mampu menyerap 5 orang pekerja maka untuk 30.000 hektar seharusnya mampu memperkerjakan lebih 150.000 orang mmasyarakat sekitar. Ini bukan mimpi , tinggal keinginan keras kita semua untuk mewujudkannya dan saya yakin di tahun 2019 mendatang kita bisa mulai ini…”, Saya menghirup kopi, Lae Jonny manggut-manggut. Dari balik awan biru, tampak rembulan tersenyum cerah. Inshaa Allah..
.
(Arief P.Suwendi, Ketum PERI – Persatuan Relawan Indonesia, Penasehat Indonews & Media Ummat Bd.Media dan Event Organizer)

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook