Warung Kopi SUKABUMI AGEUNG !, “Barade Yeugh..”

Warung Kopi SUKABUMI AGEUNG !,
“Barade Yeugh..”

Indonews, Sukabumi – Hujan sejak Bogor ke Sukabumi cukup merata hari ini, namun Alhamdulillah saya dan Pimpinan Redaksi INDONEWS – Jonny Sirait,Amd telah tiba di warung kopi ini. Disana sudah menanti ‘Abah Jenggo dan beberapa temannya yang aktif di sektor KUKM.
.
Pembicaraan ini dimulai dengan ‘tapak sejarah tentang Kabupaten Sukabumi, dimana nama Sukabumi itu berasal dari bahasa Sunda yaitu, Soekaboemi yang berarti senang diam dirumah karena udara sejuk dan nyaman. Pada tahun 1941 Pemerintah Hindia Belanda menjadikan Kota Sukabumi sebagai “Bugerlijjk Bestuur” dengan status “Gemeenteraad Van Sukabumi” dengan alasan bahwa di kota ini banyak berdiam orang orang. Warga Belanda dan Eropa pemilik perkebuman-perkebuman yang berada di daerah Kabupaten Sukabumi bagian Selatan.
.
Sejak ditetapkan Sukabumi menjadi Daerah Otonom pada bulan Mei 1926, maka resmi diangkat “Burgemeester” yaitu : Mr. GF. Rambonnet. Pada masa inilah dibangun sarana dan prasarana penting seperti Stasiun Kereta Api, Mesjid Agung, Gereja dan Pembangkit Listrik.
.
“Adapun Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat , atau terletak di kaki Gunung Gede dan Gunung Pangrango yang ketinggiannya 584 m diatas permukaan laut (mdpl),  banyak hal menarik yang bisa didapat jika kita jalan-jalan ke kabupaten  Sukabumi. Selain hawanya yang sejuk, tanahnya yang subur, juga masyarakatnya pun ramah. Daerah Sukabumi kini banyak dilirik oleh para investor asing terutama dari Cina. Mereka banyak menanamkan sahamnya di wilayah disana, hal ini terlihat dari menjamurnya perusahaan asing dibidang pertekstilan & pertanian”, kata abah Jenggo sambil ‘melinting rokok kawungnya.
.
Berangkat dari berkembangnya usaha di bidang tekstil inilah, yang menyebabkan banyak warga yang membuka pabrik Boneka,  mereka pandai memanfaatkan limbah yang dihasilkan dari perusahaan textil. Limbah pabrik berupa sisa potongan-potongan bahan-bahan kain ternyata disulap menjadi suatu karya yang menarik dan bisa menghasilkan rupiah.
Dari olahan tangannya, mereka  bisa terus menghasilkan karya kreatif dan inovatif dengan cara mendesain berbagai motif boneka, dompet, sarung bantal, ikatan rambut bahkan topi dan sajadah.
.
“Produksi rumahan ini terus berkembang seiring waktu hingga menjalar ke kota dan kecamatan-lainnya di kabupaten Sukabumi bahkan sebagian diantaranya mulai merambah ke limbah pohon pisang  dan aneka buah lain dan limbah industri serta rumah-tangga baik sebagai media lukisan , jam tangan,  mobil mini, kaca-mata dsb…”, tambah abah Jenggo ini dibenarkan oleh Mang Uha sambil memperlihatkan cindera-cindera mata tersebut.
.
Saya bangga melihat ini semua, kata saya .”Kerajinan Tangan Indonesia telah memiliki tempatnya di pasar dunia, khususnya yang berasal dari buah dan turunannya. Industri ekonomi kreatif ini telah mampu mendorong pertumbuhan ekonomi negara khususnya dalam sektor handicraft/kerajinan, industri ini mengalami peminat yang terus bertambah. 
.
Bisnis kerajinan tangan di negeri kita memang terus menggeliat dengan pasar ekspor yang sangat luas. Salah satu kegiatan disektor ini adalah kerapnya dilaksanakan pameran kerajinan tangan INACRAFT (International Handicraft Trade Fair) , sebagai salah satu daya dukung pemerintah dalam menggeliatkan hand made Indonesia.

Lae Jonny menambahkan, “Upaya pemerintah lainnya ialah melalui Kementrian Perdagangan yang berencana mengeluarkan program buyer mission, sebuah cara mendapatkan pembeli dari luar negeri. Agar efektif biaya dan akomodasi pembeli asing ke Indonesia akan ditanggung oleh Kementerian Perdagangan. Untuk keperluan itu, Kementerian Perdagangan itu menganggarkan Rp. 35 juta lebih untuk calon pembeli asing yang datang ke Indonesia melalui program buyer mission.Ini pernah ‘booming di tahun 2013-an, semoga Pemkab Sukabumi dapat meneruskan hal ini secara mandiri..”
.
“Betul Lae, Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik sejak tahun 2014 sampai saat ini pasar tujuan ekspor produk Indonesia  terus meningkat khususnya Amerika Serikat >  45,56%, Jepang dengan pangsa pasar 11,56%, Inggris 4,23%, Jerman 3,7% dan Belanja 3,10%. Kabupaten Sukabumi harus lebih jeli dan optimal dalam hal ini, karena kita diwarisi banyak hal dibanding daerah lain. Semoga Bupati Marwan dan Wabup Adjo lebiih maksimal lagi untuk hal ini.”, kata saya. Abah Jenggo, Lae Jonny  dan yang lain tersenyum. Kami pun sama-sama menyeruput kopi dengan panganan pisang rebus. 
.
Diluar sana tampak ‘Mak Uju sedang menjajakan hasil-kerajinannya, “Barade yeugh,…barade yeugh… yang dalam bahasa Indonesianya berati ‘hayo siapa yang mau beli. Indahnnya, Inshaa Allah. 
(Arief P.Suwendi, Ketum PERI – Persatuan Relawan Indonesia & Penasehat Indonews dan Media Ummat bid.Media & Event Organizer)

Terkirim dari tablet Samsung.

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook