Warung Kopi SUKABUMI AGEUNG!, “Disdukcapil Sukabumi Jangan Sombong” .

Warung Kopi SUKABUMI AGEUNG!,
“Disdukcapil Sukabumi Jangan Sombong”
.
Indonews, Sukabumi – Pulang dari Cisarua, Jawa Barat sengaja saya mampir ke warkop ini untuk menemui Pimp.Redaksi INDONEWS – Jonny Sirait,Amd  yang juga disana telah hadir ‘abah Jenggo pemilik warkop , Ketua PERI DPD Jawa Barat – Herny C.Monteiro , fotographer Indonews – Ervin dan beberapa ‘orang muda warga kabupaten Sukabumi.
.
“Sekitar bulan Maret 2018 lalu, ada 2 oknum karyawan Disdukcapil kabupaten Sukabumi tertangkap OTT oleh Polres Sukabumi Kota dengan dugaan Pungutan Liar (Pungli) e-KTP. Ini tentang bobroknya moralitas , sehingga wajar jika Disdukcapil kabupaten Sukabumi dikenal publik sebagai instansi yang berbelit-belit dan banyak maunya. Pekerjaan-pekerjaan baik yang telah dilakukan selama ini menjadi hancur karena soal sepele itu..”, kata abah Jenggo memulai diskusi.
.
“Kalau tidak salah dalam UU No.52/thn.2009, Bab VIII pasal 49 diamanahkan bahwa Pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib mengumpulkan, mengolah dan menyajikan data dan informasi kependudukan sebagai dasar kebijakan, penyelenggaraan pembangunan…”, tambah Lae Jonny, maka siapapun yang mengingkari baik secara sengaja atau tidak ada hukum yang akan menjeratnya, termasuk sangsi sosial. Oknum Disdukcapil yang melakukan itu sangat jauh dari sumpah setia yang telah diucapkannya, ini soal bobroknya moralitas. 
.
“Awal tahun 2018 tercatat jumlah pemilih kabupaten Sukabumi sekitar 1.846.721 dan 1,5% atau sekitar 12.000-nya adalah pemilih pemula, dalam arti mereka yang masuk usia 17 tahun. Usia generasi ‘millenial, usia rentan unntuk Golput. Apalagi manajemen E-KTP Disdukcapil-nya pun kurang baik, tahun 2014 lalu angka Golput-nya mencapai > 31%. Pada Pilkada Jawa Barat bulan Juni 2018 lalu ada ratusan ribu TKI asal kabupaten Sukabumi yang golput karena mereka bekerja di LN, ini pun harus dicari solusi bagaimana di Pilpres 2019 dan Pilbup Sukabumi 2020 tidak terjadi lagi. Jadi pekerjaan Disdukcapil itu tidak boleh main-main, harus serius…”, kata Lae Jonny lagi.
.
“Setuju, Disdukcapil Sukabumi jangan cepat bangga karena ada kenaikan 5% jumlah pemilih dibandiing tahun-tahun sebelumnya, angka 64% dari 59% bukan sesuatu yang besar , itu biasa saja, kan mereka memang kerjanya itu, digaji kan oleh negara?, kalau sdh mencapi diatas 77% barulah boleh dibanggakan, kalau naik hanya 5% itu sih biasa saja, jangan sombonglah..”, tambah abah Jenggo, diamini oleh hadirin.
.
Saya diam, menghela nafas, beruntunglah saat pilkada di kampung halaman saya, Pilkada Bupati Bandung Barat  & Gubernur Jabar 2018 lalu jumlah partisipasi warga mencapai diatas 74% dari 1,56 jumlah pemilih. Atau Kota Cimahi yang mencapai 80%, agh..sudahlah….. setiap daerah tentu punya cara sendiri, kelebihan dan kekurangannya……….. (Arief P.Suwendi – Ketum PERI – Persatuan Relawan Indonesia, Penasehat Media Ummat & Indonews bd.Media dan Event Organizer )

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook