Warung Kopi SUKABUMI AGEUNG !, “LISTRIK & PINGGANG PEREMPUAN BESAR ?” .

Warung Kopi SUKABUMI AGEUNG !,
“LISTRIK & PINGGANG PEREMPUAN BESAR ?”
.
Indonews, Sukabumi – Sebelum tahun 2014, beredar issue jika > 20% wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat khususnya didaerah pelosok/terpencil,belum menikmati aliran listrik . “Akses jalan menjadi salah satu kendala masih banyak pemukiman warga di Kabupaten Sukabumi yang belum teraliri listrik, sedangkan untuk memasok listrik diperlukan pembangunan jaringan listrik yang membutuhkan material seperti kabel dan tiang listrik dan karena akses jalan yang sulit ditembus oleh kendaraan dan berada di pelosok sehingga PLN mengalami kesulitan untuk mendatangkan material..”, demikian saat itu alasan dari PLN kabupaten Sukabumi menanggapinya khususnya untuk wilayah selatan Kabupaten Sukabumi, al; Kecamatan Surade, Ujunggenteng dan Jampangkulon. 
.
Namun, Ketua Forum Pemuda Desa Kabupaten Sukabumi Tateng Tris  saat itu membantahnya bahwa bukan hanya warga desa saja yang mengalami, warga perkotaan pun bernasib sama. Seperti di Kecamatan Gunungguruh yang sangat dekat dengan wilayah pusat Kota Sukabumi, sehingga ia mengatakan insfrastruktur bukan alasan listrik tidak sampai ke masyarakat. 
.
Itu ceritera lama, yang terbaru di tahun 2018 ini pun tetap ada karena hingga Februari 2018 lalu warga Kampung Cigintung, RT 41/9, Kedusunan Cirampo, Desa Padabeunghar, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi masih hidup dalam kegelapan karena belum ada listrik.
.
Hal ini bertolak-belakang dengan tujuan (saat itu) Gubernur & Wagub  Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) – Deddy Mizwar yang  menjanjikan program ‘Jawa Barat Caang (terang) di tahun 2018 akan mencapai 100%. 
.
“Jika desa di Jawa Barat lebih dari 5.000 dan baru teraliri listrik 98%, maka masih ada sekitar 1,2% desa yang masih gelap gulita kecuali penerangan lampu cempor (minyak tanah) dsb. Pertanyaannya bangsa dan negara ini telah merdeka lebih dari 73 tahun, bang. Bagaimana ini bisa terjadi?”, tanya Pimred Indonews – Jonny Sirait,Amd. Melalui seluler.
.
Saya tersenyum, “Begini Lae, pasca jaman purba, jaman kegelapan, Listrik adalah kebutuhan utama  manusia karena fungsinya sangat vital untuk peningkatan ekonomi, kesehatan, keamanan, pendidikan dan kesejahteraan warga. Maka dari  itu PLN yang diberikan amanah untuk itu harus maksimal melakukannya, dimana ada Kementerian BUMN, Kementerian ESDM, Kepala Daerah,  dan instansi terkait untuk itu termasuk Presiden Indonesia selaku pimpinan tertinggi bangsa dan negara. Jadi jika itu tidak berjalan baik, wajib kita evaluasi ‘’siapa yang bertanggung-jawab untuk ini minimal 10 tahun terakhir ini..”,  kata saya.
.
“ PT PLN (Persero)  melalui General Manager (GM) PLN Distribusi Jawa Barat Iwan Purwana mengatakan target  100%  rumah tangga di Jawa Barat akan teraliri listrik pada bulan Maret 2019 mendatang. Sedangkan tahun 2019 adalah tahun politik, bagaimana ini bang?”, tanya Lae Jonny lagi.
.
“Lagh itu bagus dong, punya target kerja punya semangat tinggi, engga ada masalah iitu Lae. Dalam catatan saya saat ini, rasio elektrifikasi (jumlah pelanggan resmi PLN dibanding jumlah kartu keluarga) di Jawa Barat baru mencapai 98%. Adapun  saat ini jumlah pelanggan listrik PLN di Jawa Barat adalah 13,4 juta pelanggan, dengan 12,5 juta di antaranya berada di lingkup rumah tangga. Tapi data yang ada pun mengatakan jika saat ini masih ada sekitar 300.000 rumah tangga yang belum teraliri listrik. Dan pastinya ini termasuk target listrik masuk desa di Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi kan?”, jawab saya lagi.

Apapun kita selaku relawan Jokowi mendukung upaya-upaya Jokowi sejak tahun 2014 bagaimana untuk hal itu, maka diperlukan stabilitas keamanan nasional & iklim yang bak untuk megejar ketertinggalan selama 10 tahun belakangan ini. Kita juga mendukung pencapaian target 100%  rasio elektrifikasi, dimana PLN menggunakan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) yang dicanangkan oleh Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM. Dimana, Lampu itu dapat dipakai hingga 3 tahun, sebelum listrik permanen masuk ke desa yang masih tertinggal. Jika di Indonesia ada lebih 74.000 desa dan saat ini masih tersisakan sekitar 3660 desa atau lebih dari 400.000 KK yang belum masuk listrik tersebut.Maka diperlukan ‘tangan dingin  penuh amanah untuk menyelesaikannya sedangkan disatu sisi biayanya demikian besar > Rp. 15,9 triliun. Kata saya lagi , Lae Jonny terbatuk-batuk mendengarnya. “Jika Bangsa dan negara ini selalu gaduh, bagaimana kita menciptakan pembangunan yang berkeadilan dengan cepat?, karena enerji kita habis untuk hal-hal yang tidak perlu..”, tambah saya lagi, Lae Jonny semakin terbatuk-batuk. Ahahah..

MATI LAMPU , TANPA LISTRIK & PINGGANG BESAR?
Diluar tentang masalah diatas, saya pernah baca hasil riset Institute of Cancer Research, London yang diantaraya mengatakan bahwa Paparan sinar lampu pada saat tidur pada malam hari bisa memicu kenaikan berat badan. Ahahah..
.
Dinyatakan juga bahwa  dalam penelitian  yang melibatkan 113.000 responden wanita itu  bahwa wanita yang tidur dengan lampu menyala terang memiliki lingkar pinggang yang lebih besar dibanding mereka yang tidur dalam keadaan gelap. Secara keseluruhan hasil penelitian ini menekankan tentang pentingnya tidur dalam keadaan gelap.
.
Semoga terlambatnya listrik masuk desa di Jawa Barat selama 10 tahun belakangan lalu itu bukan karena PLN menginginkan pingang-pinggang perempuan Jawa Barat agar ‘tidak besar. “Ahahahah, abang bisa saja”, Lae Jonny yang juga Ketum Bogor Kapayun dan Sahabat Jokowi Kerja (Joker) pun tertawa ‘ngakak. ‘Mohon maaf lahir bathin….. (Arief P.Suwendi, Ketum PERI – Persatuan Relawan Indonesia, Penasehat Media Ummat & Indonews bd.Media dan Event Organizer)

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook