Warung Kopi DEPOK DEPROK ! “MUSEUM APA RUMAH ISTRI KE-2?”

Warung Kopi DEPOK DEPROK !
“MUSEUM APA RUMAH ISTRI KE-2?”

Indonews, Depok – Sejak otonomi daerah diberlakukan, perhatian pemerintah terhadap museum sudah kurang, terbukti minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap pengembangan museum. Selain anggaran untuk pegawai, operasionil, sosialisasi-promosi, pemeliharaan juga pengadaan koleksi, museum juga membutuhkan anggaran yang besar untuk biaya perawatan benda-benda bernilai sejarah tersebut.
.
Salah satu yang saya rasakan benar itu adalah saat waktu lalu ‘plesiran ke Museum Negeri Sulawesi Tenggara yang berada di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara (Mei/2018) lalu demikian memprihatinkan terutama keberadaan benda-benda bersejarah seakan tak mendapat perhatian dan perawatan lagi. Sejumlah gedung yang dibangun pada era tahun 90-an itu, nampak tak terawat padahal di dalam gedung itu cukup banyak benda-benda bersejarah yang seharusnya setiap tahun mendapat perawatan, kini tak pernah lagi dilakukan karena tidak adanya anggaran untuk itu.
.
MUSIUM DI DEPOK ?
Sumpah , sampai saat ini saya tidak tahu apa benar di kota Depok belum ada musium?, namun yang jelas dengan adanya RUMAH CIMANGGIS yang merupakan peninggalan Gubernur Jenderal Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), Petrus Albertus van der Parra ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Kota Depok akan menjadi nilai plus bagi kota Depok baik dalam hal edukasi maupun destinasi wisata baru.
.
Kalau pun saya belum juga kesana , belajar dari Musium Kendari dan musium lainnya, kiranya Rumah Cimanggis (Landhuis Tjimanggis) yang dibangun pada 1771 ini fokus terlebih dahulu bersinerji dengan lingkungan sekitar , inventarisasi kelengkapan situs dan segera berkoordinasi dengan Kementerian Agama untuk menentukan zonasi situs Rumah Cimanggis. .
.
SK (surat keputusan tentang cagar budaya) yang telah dikeluarkan Wali Kota Depok Muhammad Idris akan penetapan Rumah Cimanggis menjadi cagar budaya adalah ‘bendera – start untuk memulai semua itu. Apalagi prosesnya telah dimulai sejak tahun 2011 di Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang, yang membawahkan berbagai situs sejarah di sebagian wilayah Jawa Barat. Rumah Cimanggis pun terdaftar dan masuk inventarisasi sebagai cagar budaya nomor 009.02.24.04.11. Konon, Bangunan itu sempat akan dirobohkan karena terkena imbas lahan proyek kampus Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).

Rumah Cimanggis atau Landhuis Tjimanggis dibangun oleh David J. Smith antara 1775-1778. Rumah itu kemudian ditempati oleh istri gubernur jenderal VOC ke-27, Van der Parra. Letaknya pada kilometer 34 arah Bogor sebelum masuk kawasan Cimanggis, kini masuk wilayah Sukmajaya, Depok. Rumah itu kini ada dalam lahan kompleks RRI (Radio Republik Indonesia).
.
Disaat semua sedang sibuk mempersiapkan itu semua, khususnya mengkaji sisi arkeologis, sejarah, arsitektur, serta urgensi menetapkan Rumah Cimanggis sebagai bangunan cagar budaya. Keingin warga tidak sepenuhnya di-respon pemerintah pusat, apalagi dengan munculnya pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menolak Rumah Cimanggis menjadi cagar budaya. Karena bangunan itu awalnya adalah rumah istri kedua dari penjajah yang korup. “Masak situs itu harus ditonjolkan?, Apa yang mesti dibanggain?”
.
VAN DER PARRA & HIDUP GLAMOR
Pada 15 Mei 1761, Dewan Hindia Belanda mengangkat Van der Parra sebagai gubernur jenderal menggantikan Jacob Mossel. Dia merayakan pengangkatannya dengan upacara besar-besaran. Hari kelahirannya pun dia tetapkan sebagai hari pesta nasional. Track record-nya bisa dibilang sering korupsi karena memang banyak kesempatan, Pola hidup semacam ini, ikut mempengaruhi keuangan VOC, yang memang sudah masuk dalam periode 40 tahun menjelang organisasi itu bubar (1799).

Tak sedikit yang membenci Van der Parra karena korupsi dan gaya hidupnya yang glamour, dia meninggal karena sakit di rumahnya yang mewah pada 28 Desember 1775. Kini rumahnya menjadi RS Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Penyebab kematiannya masih misteri, apakah alamiah atau diracun. Van der Parra menikah dua kali. Istri pertamanya, Elisabeth Patronella van Aerden lahir di Batavia. Mereka menikah di Kolombo pada 1733. Dan istri ke-2 nya bernama Adriana Johanna Bake, keturunan gubernur Belanda untuk Ambon. Mereka menikah pada 1743, dua tahun setelah kematian istri pertamanya. Istri keduanya inilah yang menempati Landhuis Tjimanggis yang dikenal awalnya sebagai ‘rumah peristirahatan istri ke-dua.

Apapun endingnya, jika RUMAH CIMANGGIS ini kelak dijadikan museum, maka inilah museum pertama di Kota Depok. Kita awasi anggarannya !, Mohon maaf lahir bathin… ….. (Arief P.Suwendi, Ketum PERI – Persatuan Relawan Indonesia, Penasehat Media Ummat & Indonews bd.Media dan Event Organizer)

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook