Warung Kopi BOGOR KAPAYUN. “GURU HONORER KABUPATEN BOGOR KE-1” .

Warung Kopi BOGOR KAPAYUN.
“GURU HONORER KABUPATEN BOGOR KE-1”
.
Indonews, Bogor – Hari Minggu  lalu, kami (Saya, Pimred Indonews – Jonny Sirait,Amd & Puguh Kuswanto  – Caleg DPRD Kab.Bogor/Dapil IV Kab. Bogor) telah berada di teras Istana Bogor, Jawa Barat. Menanti Paduka Yang  Mulia Ir. Sukarno (Bung Karno) menerima kunjungan  Presiden Joko Widodo sebagaimana biasa mereka lakukan. Ke-3 gelas teh pahit dan panganan kacang rebus kami telah habis tanpa sisa, Lae Jonny sudah terlihat ‘suntuk karena keinginan untuk merokoknya kumat. Sedangkan Puguh sedang asik dengan laptopnya menulis artikel ‘Peran ke-arsipan dalam menyelamatkan aset negara. ‘widih.
.
Tak lama ajudan cantik Bung Karno mempersilahkan kami masuk ruang tamu, disana Bung Karno tersenyum menyambut, kami pun bersalaman penuh takjim. “Silahkan duduk, salam dari pak Jokowi untuk kalian, barusan beliau pamit karena ada kegiatan lain di Jakarta. Apa yang kalian pertanyakan tentang nasib guru honorer melalui WA kemarin malam pun sudah saya tanyakan kepada Jokowi..”, kata pria ganteng bergigi gingsul dengan berjuta julukan ini 
.
“Siap paduka, apa kata beliau”, tanya Lae Jonny. Bung Karno berdiri, ajudan cantik menghampiri dengan beberapa lembar halaman dokumen. “Ini dokumen dari pak Jokowi tentang permasalahan dan solusi terhadap Guru Honorer nasional, kalian tau selama 10 tahun ini nasib guru honorer masih ibarat sampan ditengah samudra, terombang-ambing. Padahal mereka bekerja untuk instansi pemerintah, tapi bukan pegawai negeri sipil (PNS). Gaji pun hanya ratusan ribu, mungkin lebih kecil dari gaji seorang barista coffe-shop. Mengapa selama 10 tahun ini didiamkan?..”,gigi seksi Bung Karno gemeretak, kami terdiam.
..
Putra Sang Fajar ini melanjutkan, bahwa ada kekisruhan saat ini yang seolah ‘disengaja untuk membuat Jokowi marah, khususnya dikalangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), mereka meminta agar segera mengangkat 1,2 juta guru honorer menjadi guru tetap dengan status Pegawai Negeri Sipil (PNS). Cilakanya bukan karena niat baik sebagai legislatif , mereka lebih bicara tentang ‘isue seksi menjelang Pilpres 2019. Jelas ini Paradigma salah, jika Jokowi mengangkat segera 1200 guru honorer itu maka otomatis kan mendongkrak suara. Aneh.Koplak. Bukan Jokowi tidak mendengar mereka, tap Jokowi lebih percaya kepada Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Syafruddin dong, karena berdasarkan hitungan dan analisis MenPAN-RB  jumlah guru honorer tinggal sedikit saat ini. Tapi, karena perekrutan di daerah terus berlangsung dan tidak bisa dimonitor oleh pemerintah pusat. Kalau tidak salah data tersisa yang memenuhi syarat > 13.3. Bahkan dibeberapa daerah ada Bupati yang tidak tahu , atau aparat sipil di lingkungannya. Karena mereka direkrut kepala sekolah, kepala dinasnya, orang-orang punya kepentingan di situ dan semua ‘quote and quote’ berdasarkan pertemanan dan persaudaraan. Kemudian kini ‘disodorkan ke Jokowi, Bola Panas ya?. Mereka lupa dalam UU No.5/ Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) tegas menyatakan setiap perekrutan mesti melalui tahapan seleksi. Persyaratan seperti batas usia diatur lewat Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil.  Jadi otomatis guru honorer yang ada sekarang ini, sebenarnya di dalam undang-undang tidak diakomodir lagi.Untuk detilnya coba cross check ke Disdikbud Kab.Bogor.”,papar Bung Karno.
.
Kini giliran Lae Jonny bicara, “Guru honorer artinya guru yang menjadi pegawai tidak tetap di sekolah-sekolah, umumnya sekolah negeri yang dikelola pemerintah. Kenapa bisa ada guru yang dipekerjakan berbasis kontrak jangka pendek seperti itu?. Pendidikan adalah fondasi masyarakat. Idealnya, bagian ini sudah rapi sebelum kita membangun bagian lain. Kebutuhan tenaga pendidik seharusnya sudah selesai puluhan tahun yang lalu. Artinya, penerimaan guru di sekolah-sekolah seharusnya mengacu pada sebuah rencana rapi. Ada rencana penerimaan sekian orang berdasarkan kebutuhan, lalu rencana itu dianggarkan dananya, kemudian diproses penerimaan…”, Bung karno manggut-manggut, kemudian Puguh Kuswanto menambahkan

“Setuju, yang terjadi saat ini kita memang kekurangan guru, tapi pemerintah tak punya cukup anggaran untuk menggaji mereka. Beberapa daerah masih kekurangan guru, pemerintah seharusnya mengangkat guru-guru baru untuk memenuhi kebutuhan itu, tapi tidak punya anggaran untuk menambah pegawai baru. Solusi daruratnya adalah dengan mempekerjakan guru-guru itu dengan sistem kontrak berjangka. Pendidikan diselenggarakan secara darurat. Pedihnya, situasi darurat itu sudah berlangsung bertahun-tahun. Harus ada paradigma benar dan tepat untuk menyelesaikannya, khususnya meniadakan sistem kontrak berjangka, pemberi kerja tidak perlu dibebani oleh beban jangka panjang yang melekat pada pegawai tetap. Mereka bisa memutus kontrak ketika masanya sudah berakhir. Ironisnya, sistem ini justru dijalankan pemerintah selama ini. Dunia pendidikan seperti  memakai sistem perburuhan.Ini yang terjadi selama ini, apakah Jokowi bisa mengatasi dan memberikan solusi terbaiknya?, bisa, namun jangan dijadikan komiditi poltik apalagi menjelang Pilpres 2019. Kita percayakan saja kepada MenPAN-RB ..””,pungkas Puguh.
.
“Maka kami mendukung upaya Guru Honorer dimana saja berada khususnya di Kab. Bogor dalam mencapai niatnya menjadi ANS/PNS tetap, tentunya dengan terlebih dahulu pematangan anggaran baik di pemda setempat dan di pusat, harus sinerji. Bukan untuk janji kampanye Pilkada atau Pilpres, harus karena niat tulus. Yang saya tahu, Untuk tingkat SD, 5 daerah dengan rasio guru terendah adalah Papua, Jawa Barat, DKI, Banten, dan Bangka Belitung. Sedangkan, daerah dengan jumlah guru honorer tertinggi adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Riau, dan Aceh. Gambaran sekilas ini menunjukkan bahwa pengadaan guru honorer tidak serta merta merupakan langkah untuk mengisi kekurangan guru.  Kita juga tidak menafikan masih banyak guru honorer yang berdedikasi, kita juga tidak bisa menutup mata pada kenyataan bahwa ada banyak dari mereka yang menjadi guru honorer karena tidak diterima bekerja di tempat lain. Tidak heran bila mereka bertahan dengan honor sekian ratus ribu sebulan. Gaji yang sedikit itu pun masih lebih baik ketimbang tidak ada pemasukan sama sekali.Termasuk dedikasi menjadi ‘Pahlawan Pendidikan yang jumlahnya semakin menurun karena kebutuhan ekonomi dan politik. Semoga hal ini tidak terjadi di kabupaten Bogor, yang jelas kita semua harus bersatu-padu mewujudkan itu semuua sebagai bagian dari “MEMBANGUN INDONESIA LEBIH BERADAB, Aamin yarabil’alamiin”, tutup Bung Karno , kemudian beliau pamit untuk menemui tamu yang lain. Dan beliau berjanji akan ada waktu khusus tentang diskusi guru honorer di kabupaten Bogor setelah menerima tamu. Kami pun menunggu. Sampa jumpa pada tulisan berikutnya. Mohon maaf lahir bathin..(Arief P.Suwendi – Ketum Persatuan Relawan Indonesia (PERI), Penasehat Media Ummat & Indonews bd.Media & Event organizer) ————— BERSAMBUNG —-

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook