Warung Kopi BOGOR KAPAYUN. “ALL ABOUT OJEK ONLINE !”

Warung Kopi BOGOR KAPAYUN.
“ALL ABOUT OJEK ONLINE !”
.
Di acara Indonesia Economic Forum 2018 lalu. Prabowo Subianto – Capres #02 melalui ‘meme presentasinya menunjukkan gambar 4 jenis topi, yakni topi SD-SMP-SMA; kemudian helm berwarna hijau (Red: Helm Ojek Online?). Dan Prabowo mengatakan, ..”Yang paling di sebelah kanan adalah topi SD, setelah ia lulus, ia pergi ke SMP, setelah ia lulus, ia pergi ke SMA, dan setelah lulus dari SMA, ia menjadi “PENGEMUDI OJEK”. Sedih, tetapi ini kenyataan. Ini adalah gairah saya, ini adalah dorongan batin saya, saya tidak merasa bahagia. Saya ingin pemuda Indonesia untuk menjadi pengusaha, insinyur, pilot. Juga memiliki restoran sendiri dan tidak menjadi pelayan di restoran, juga memiliki kafe sendiri, juga perusahaan sendiri, juga memiliki pertanian, dan tidak hanya menjadi kuli, itulah yang mendorong saya..” kata Prabowo di Shangri-La Hotel, Jakarta, Rabu (21/11). Mantan menantu Suharto ini mengaku miris terhadap tren pemuda Indonesia yang memilih menjadi tukang ojek begitu lulus SMA, itu poin-nya.
.
“Sayang ya seorang Capres tega-teganya merendahkan profesi tukang ojek seperti kami ini,om”, kata Oman – 36 tahun, nama samaran – saat saya minta tanggapannya tentang hal diatas.
.
Oman jebolan mahasiswa akutansi tahun 2013 ini tinggal dirumah kontrakan perbatasan Jakarta-Bogor, dirumahnya, sang istri membuka warung kecil sambil menjaga anaknya yang berusia 5 dan 2,5 tahun. Sebelum perusahaan bossnya bangkrut, ia menjabat sebagai accounting junior hingga tahun 2016 lalu. Dari uang pesangon dan bonus ia mengkredit motor ‘matic utk ngojek, sisanya nambah modal usaha istri. “Alhamdulillah hampir 1,5 tahun saya menjadi Ojol (Red:Ojek OL), mampu melunasi kredit motor, biaya sekolah sulung , tambah modal usaha istri dan biaya hidup lainnya. Inshaa Allah kalau sedang ‘bagus, dalam arti mau lebih ‘cape sedikit, income bisa melebihi UMR di kota Jakarta sekitar Rp.3,6 juta lho mas. Untuk hari Minggu dan hari libur lain saya stop ‘ngojek, waktunya untuk keluarga”, tambah Oman saat tiba ditempat tujuan.
.
“Saya menyesali Prabowo mengatakan hal itu, setelah statemen ‘Tampang Boyolali sekarang Profesi Ojek Online. Prabowo sepanjang hidup penuh dengan ‘ketersediaan materi dsb. Sehingga kurang ‘peka terhadap hal-hal seperti itu. Itu bukan canda ya, pasti ada yang merasa kecewa karena ke-dua hal ini. Kembali ke tentang Ojol, kita paham dalam 5 tahun belakangan ini masyarakat memiliki ketergantungan yang sangat besar thd Ojol. Dalam kekacauan macet, kita perlu transportasi yang murah, tepat dan cepat mencapai tujuan, dan Ojol adalah pilihannya. Mungkin di Jabotabek lebih dari 1 juta Ojol, dalam arti ini penyerapan lapangan kerja. Ojol adalah imbas dari buruknya layanan transportasi massal selama ini, Kemenhub era thn.2004-2014 apapun gagal dalam kinerja penyediaan trasnportasi umum sebagaimana diharapkan publik modern. Kecuali di Jakarta saat Jokowi-Ahok memimpin, munculah Busway yang hingga kini kita rasakan. Juga kualitas dan pelayanan kereta komuter yang terasa lebih baik, belum lagi LRT & MRT yang sedang digarap Jokowi. Ini yang kita garis-bawahi ya. Tuntutan publik mendapatkan pelayanan terbaik dari negara…”, kata Lae Jonny Sirait
.
Hal lain disampaikan Abdul Kadir Karding – Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf, kepada Pers, Rabu (21/11/2018) “Jangan rendahkan tukang ojek !, penghasilan tukang ojek juga semakin baik. Buat saya, itu sebagai bentuk pesimistis Prabowo, sifat pesimistis memang sudah menjadi ciri capres nomor urut 02 itu. Kebiasaan Pak Prabowo yang selalu pesimis dan mengeluh dengan keadaan..”,kata Karding.
.
“Yang jelas, bisa saya pastikan mitra Gojek (Pengemudi Ojol) ini adalah wirausahawan. Mereka adalah pengusaha mikro. Mereka membantu pertumbuhan ekonomi di Indonesia untuk skala yang cukup besar,” kata Vice President Corporate Affairs Gojek, Michael Say, kepada Pers ,Jumat, 23 November 2018.
.
PERAN OJOL BAGI SIAPAPUN ?
Saya ingat, Presidum Pengurus Pusat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Muslich Zainal Asikin mengatakan bahwa dari operator transportasi OL besar, seperti: Gojek, Grab atau Uber. Setiap hari diantara mereka mampu ‘mengantar > 2,5 juta perjalanan di Jakarta, baik mengantar orang, barang, dsb. Sedangkan Transjakarta hanya >400 ribu penumpang, bahkan KCJ (Kereta Commuter Jakarta – KRL) hanya > 989.000 penumpang/hari se-Jabodetabek. Lucunya, transjakarta maupun KCJ ada subsidi dari negara, sedangkan Ojol tidak, karena mereka punya dan menjalankan modal sendiri.Hal lain yang saya catat adalah nilai investasi dan perputaran uang Ojol bisa mencapai > Rp 50 triliun ?
.
Seorang teman di Gojek yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan beberapa hal, al; (1). 77% pengemudi berusia 20-39 tahun ,(2). 15% pengemudi merupakan lulusan Perguruan Tinggi/Sekolah Tinggi , (3). 83% pengemudi pendidikan SMP-SMA sederajat , (4). 78% mitra pengemudi memiliki tanggungan, (5). 90% pengemudi merasa kualitas hidupnya lebih baik-jauh lebih baik setelah bergabung dengan GO-JEK, (6). GO-JEK berkontribusi Rp 8,2 triliun/tahun ke dalam perekonomian Indonesia ,(7). GO-JEK berkontribusi Rp 1,7 triliun per tahun ke dalam perekonomian Indonesia melalui penghasilan Mitra UMKM.
.
Lalu, masihkah kita ‘mengecilkan peran dan manfaat Ojek Online baik sebagai driver maupun business-side effect-nya?. Sedangkan setiap tahun mereka ‘menyumbang min.Rp. 8 trilyun ke negara. Untuk saudara-saudaraku di Ojol manapun, apapun kata orang, profesi kita ini lebih mulia dari mereka yang gemar ‘memakan uang rakyat namun fasih bicara tentang agama. Kaum Munafiq,Ahahaha. Mohon maaf lahir bathin… (Arief P.Suwendi, Ketum PERI – Persatuan Relawan Indonesia, Penasehat Media Ummat & Indonews Bd.Media & Event Organizer)

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook