Warung Kopi BOGOR KAPAYUN. “DARAH MAHASISWA ITU MERAH, JENDERAL !”

Warung Kopi BOGOR KAPAYUN.
“DARAH MAHASISWA ITU MERAH, JENDERAL !”

Indonews, Bogor – Usai pekerjaan dan amanah yang diminta seorang teman di sekretariat kampus Trisakti ‘complished, kami (saya & Jonny Sirait,amd)  menuju halaman utama kampus. Dan,  duduk terdiam diantara Monumen 12 Mei Reformasi.  Tepat diantara  tugu setinggi tiga meter yang dibangun untuk mengenang empat pahlawan reformasi 1998. Seolah video lama terputar kembali didepan mata, khususnya saya, saat itu tahun 1997-1998. Saya dan beberapa teman aktifis ‘Kemang, Jakarta Selatan sejak thn.1997 mengikuti semua kronologis menjelang Lengser Keprabonnya Suharto Mei 1998 lalu.
.
Saat itu, di basecamp ‘Kemang  jauh hari sudah beredar isu jika seluruh lampu2 jalan seputar Tol Cawang – Grogol akan ‘dipadamkan khususnya diantara tgl.9-13 Mei 1998. Kewaspadaan dan komunikasi pun dibangun dengan semakin baik, aktifis dan mahasiswa dan seluruh jaringannya ‘menghindar dari tindakan fisik (tidak represif), jangan terpancing apalagi isu tersebarnya provokator dan sniper pun semakin gencar. Tujuan agar Suharto ‘Lengser Keprabon harus elegan, bukan cara parlemen jalanan. Namun kami juga tidak bisa mencegah teman2 yang memang berhaluan ‘keras. Maka wajar saja jika dalam setiap ‘rapat ada yang gebrak meja bahkan lempar gelas untuk mempertahankan alibinya, satu tujuannya “SUHARTO LENGSER KEPRABON !”.

Suharto harus bertanggung-jawab atas carut-marutnya Ekonomi Indonesia  saat itu, akumulasi kemarahan rakyat melalui mahasiswa dan aktifis meledak di tgl.12 Mei 1998. Ribuan Mahasiswa & aktifis pun melakukan demonstrasi besar-besaran  long-march ‘aksi damai ke Gedung Nusantara, termasuk mahasiswa Universitas Trisakti. Mereka melakukan aksi damai dari kampus Trisakti menuju Gedung Nusantara pada pukul 12.30.  Diantara jalan layang dan Polres Jakarta Barat kami berkumpul disana. Namun aksi damai  ini  dihambat oleh blokade dari Polri dan TNI. Beberapa mahasiswa mencoba bernegosiasi dengan pihak mereka, namun selalu gagal. Situasi semakin panas karena jumlah mereka semakin banyak dan ‘sangar. Akhirnya, pada pukul 17.15, kami  mundur termasuk para mahasiswa mereka masuk kampus, sedangkan aktifis non-mahasiswa berpencar kesegala arah, dengan kewaspadaan tinggi karena diduga sniper sudah berada diposisi baik yang dijalan layang maupun yang berada digedung bertingkat lainnya. Teman-teman yang ‘berhaluan keras menjadi pagar-betis mahasiswa, namun aparat semakin maju dan mulai menembakkan peluru ke arah demonstran termasuk mahasiswa yg sdh didalam kampus. Dan gugurlah 4 mahasiswa Trisakti, yaitu;  Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977 – 1998), Hafidin Royan (1976 – 1998), dan Hendriawan Sie (1975 – 1998). Mereka ‘gugur karena peluru tajam di kepala, tenggorokan, dan dada. Ini belum termasuk puluhan orang yang terluka.

Lae Jonny Sirait, membuka kaca-mata hitamnya dan berbisik, “Sekitar pkl.19.00-22.00 , di tgl 12 Mei itu. Saat tembakan dari aparat mulai mereda, rekan-rekan mahasiswa & aktifis mulai membantu mengevakuasi korban menuju RS. Tak lama  kembali panik karena terlihat ada beberapa aparat berpakaian gelap di kampus dan sniper (penembak jitu) di atas gedung yang masih dibangun. Mahasiswa berlarian kembali ke dalam kampus , ruang kuliah, mushola, toilet dsb dengan segera memadamkan lampu untuk sembunyi. Setelah melihat keadaan sedikit aman, mahasiswa mulai berani untuk keluar dari ruangan. Lalu terjadi dialog dengan Dekan FE untuk diminta kepastian pemulangan mereka ke rumah masing- masing. Terjadi negoisasi antara Dekan FE dengan Kol.Pol.Arthur Damanik – Polres Jakbar, yang hasilnya bahwa mahasiswa dapat pulang dengan syarat pulang dengan cara keluar secara sedikit demi sedikit (per 5 orang). Mahasiswa dijamin akan pulang dengan aman. Aneh ya?”
.
Kemudian Lae Jonny menambahkan, “Sekitar pkl. 01.30 dini hari, dilakukan Jumpa pers oleh Pangdam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin, Kapolda Mayjen (Pol) Hamami Nata, Rektor Trisakti Prof. Dr. R. Moedanton Moertedjo, dan dua anggota Komnas HAM AA Baramuli dan Bambang W Soeharto. Apakah ini menyelesaikan masalah?, Tidak ! Luka hati kita sudah demikian parah..” Lae Jonny terdiam kemudian.

Hari-hari sesudahnya, tgl. 12-18 Mei 1998 Jakarta membara, entah bagaimana ceritanya ribuan orang  berdatangan ke Jakarta dan menyebar secara sistematis, pastinya  lagi mereka bukan warga Jakarta, mereka datang  seolah ‘mengomandoi penjarahan, pembakaran hingga perkosaan. Dan ini menyebar ke Solo, Bandung, Yogyakarta dsb . Sentimen etnis Tionghoa menjadi pembenaran. Sesudah itu pun semua pihak berlomba-lomba menyampaikan rilis tragedi dan korban yang ditimbulkan, kalau pun semuanya tidak ada yang ‘klop, seperti : Pemprov DKI Jakarta mengatakan Korban tewas > 288 orang, Perusakan & Pembakaran Fasilitas umum > 516 unit, Kendaraan dibakar > 1948 unit, Pembakaran & perusakan bangunan > 5.723. Adapun versi TGPF, 47 tewas, dan versi Kodam V jaya > 463 orang tewas?. Terserah !
.
Jangan lupa ini terjadi saat Orde Baru, dimana kemudian keadilan hukumnya tenggelam dan tak berkesudahan hingga saat ini sebagaimana ‘pesanan dan bargaining penguasa Orba. Lalu bagaimana kita menikmati kalimat “Enak Jamanku toh?, koplak !

Gerimis semakin deras, bau tanah kampus Reformasi ini menyeruak tajam, bau darah para pahlawan dan aktifis terluka seolah hadir disini. Innalillahiwainalillahirajiun, beristirahatlah kalian di surganya Allah, hanya kepada DIA lah kita memohon keadilan dan kebenaran hakiki, dan bukan kepada Orba. Maka waspadalah jika ada kelompok orang yang ‘merindukan manisnya Orba. Apalagi jika tidak ada yang bertanggung-jawab atas gugurnya 4 pahlawan reformasi dan ratusan jiwa warga sipil lain yang tak bersalah. “Darah Mahasiswa itu merah, Jenderal!”. Mohon maaf lahir bathin.. (Arief P.Suwendi, Ketum PERI – Persatuan Relawan Indonesia, Penasehat Media Ummat & Indonews Bd.Media & Event Organizer)

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook