Warung Kopi BOGOR KAPAYUN. “CERITRA HITAM AKHIR ORDE BARU 1998” .

Warung Kopi BOGOR KAPAYUN.
“CERITRA HITAM AKHIR ORDE BARU 1998”
.
Warung kopi ini terasa sunyi,mungkin karena hujan deras yang terus-menerus sejak magrib tadi. Kami (Saya & Jonny Sirait,Amd) masih disana ditemani kopi panas pahit dan panganan singkong rebus. Tiba-tiba Lae Jonny mengeluarkan selembar kliping surat-kabar nasional lawas, “Abang tahu siapa gadis manis ini?”, tanya Lae Jonny. Saya mengambil kliping lusuh itu. “Kalau tidak salah dia adalah  Ita Martadinata Haryono, gadis manis berusia 18 tahun ,  aktivis kemanusiaan & HAM Indonesia yang tewas dibunuh secara misterius thn.1998 lalu…”,jawab saya.
.
“Iya bang, nama lengkapnya Martadinata Haryono,dipanggil Ita. Siswi kelas III SMA Paskalis ini ditemukan mati dibunuh pada tanggal 9 Oktober 1998 di kamarnya di Jakarta Pusat. Perutnya, dada dan lengan kanannya ditikam hingga sepuluh kali, sementara lehernya disayat. Hal ini terjadi hanya tiga hari setelah Tim Relawan untuk Kemanusiaan dan beberapa organisasi hak-hak asasi manusia lainnya mengadakan konferensi pers, dan menjelaskan bahwa beberapa orang dari anggota tim ini telah menerima ancaman akan dibunuh apabila mereka tidak segera menghentikan bantuan mereka terhadap investigasi internasional atas perkosaan, pembunuhan, dan pembakaran atas sejumlah gadis dan perempuan Tionghoa dalam kaitan dengan Kerusuhan Mei 1998..”,kata Lae Jonny lagi sambil mengelap kaca-mata hitamnya.
.
“Saat itu, Pihak yang berwajib mengumumkan bahwa kematian Ita hanyalah suatu kejahatan biasa, yang dilakukan oleh seorang pecandu obat bius yang ingin merampok rumah Ita, namun tertangkap basah, sehingga kemudian ia membunuh gadis itu. Namun banyak pihak yang meragukan pernyataan ini. Apalagi menurut rencana Ita dan ibunya, Wiwin Haryono, akan segera berangkat ke Amerika Serikat dengan empat korban Kerusuhan Mei 1998 sebagai bagian dari Tim Relawan Kemanusiaan, untuk memberikan kesaksian kepada Kongres Amerika Serikat tentang tragedi itu. Ita dan ibunya diketahui cukup banyak terlibat dalam memberikan konseling kepada para korban kerusuhan tersebut. Karena itu Tim Relawan berpendapat bahwa peristiwa ini sesungguhnya dimaksudkan sebagai ancaman kepada mereka yang terlibat di dalam aktivitas kemanusiaan ini untuk menghentikan kegiatan mereka..”, tambah Lae Jonny  yang juga Ketum Bogor kapayun, Sahabat Jokowi Kerja (Joker) & Ketua DPD GMPK kab. Bogor  sambil menutup kliping itu rapat-rapat. 
.
“Iya begitulah Lae, saya juga pernah baca disebuah on-line, bahwa Ita F Nadia – Tim Relawan untuk Kekerasan Terhadap Perempuan dan Sandyawan Sumardi, anggota TGPF  yang pertama datang ke rumah Ita di kawasan Sumur Batu Jakarta mengatakan, mereka melihat jasad Ita dikamarnya , Ita  meninggal akibat luka pada bagian leher dan (maaf) kemaluannya yang bersimbah darah segar.  Setelah pembunuhan Ita, para relawan pendamping diminta untuk tidak berbicara tentang kasus perkosaan sementara waktu, sampai situasi mereda. Semua data dan bukti pun disimpan dengan rapi. Semua hardisk  di komputer yang berisi data kasus perkosaan dicopot lalu disimpan di luar kantor mereka (Kalyanamitra) untuk menjaga hal-hal yang tidak dinginkan dan benar saja besok malamnya kantor mereka dibobol orang yang berusaha mencuri hard disk. Bahkan para relawan perempuan termasuk Ita Nadia pun kerap diancam melalui telepon untuk ‘jangan macam-macam’  kecuali jika ingin diperkosa dan anak-anaknya diculik..”,kata saya sambil menghirup habis kopi yang tersisa ampasnya itu.
.
Sekitar November-Desember 1998  saya dan beberapa teman sempat mencari dokumen ttg laporan Komnas Perempuan yang berjudul Disangkal!, karena disana ada ceritera seorang korban dengan nama samaran Lani, seorang pedagang kue yang diperkosa lalu diselamatkan Haji Ramli (bukan nama sebenarnya). Ketika mengetahui Lani merupakan korban perkosaan, suaminya tidak mau mengakui dia sebagai istrinya, tidak mau menyapa dan bahkan mengusirnya karena dianggap sebagai pembawa petaka dan aib. Lani pergi bersama tiga anak dan ibunya mendatangi Pak Haji yang membantunya menyewakan sebuah rumah.
.
Dalam laporan itu Lani mengatakan jika  dia sempat ingin bunuh diri, namun teringat ibu dan anak-anaknya. Dengan bantuan keluarga Pak Haji, Lani perlahan kembali bangkit dari trauma. Bermodalkan uang pinjaman dari Pak Haji, Lani pun kembali berjualan, Lani juga berkata , …”Sampai sekarang saya tidak habis pikir, mengapa hanya karena pergantian presiden (Soeharto), ada segelintir orang tega memperkosa..?, .. Mengapa ada orang yang tega menelanjangi dan memperkosa seorang perempuan beramai-ramai, seperti binatang?”, ….. pembicaraan saya dan Lae Jonny terhenti karena suara petir demikian dahsyatnya, seolah alam pun tidak ingin mengingat tragedi Mei 1998 yang terjadi di ujung akhir masa orde baru itu. 
.
Apapun doa kami menyertai  Ita – Relawan Kemanusiaan & seluruh korban Mei 1998, semoga mereka kini dalam lindungan dan pelukan Allah di Surga-Nya. Inalillahiwainalillahirajiun. Rest In Peace My Dear. Aamiin Yarabil’alamin. Masih  percaya ‘Penak jamanku toh?, Ahahah. Mohon maaf lahir bathin — (Arief P.Suwendi, Ketum PERI – Persatuan Relawan Indonesia, Penasehat Media Ummat & Indonews Bd.Media & Event Organizer)

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook