Warung Kopi BOGOR KAPAYUN !, “OPTIMISME JOKOWI & POLITIK TIJI TIBEH”

Warung Kopi BOGOR KAPAYUN !,
“OPTIMISME JOKOWI & POLITIK TIJI TIBEH”
.
Indonews, Bogor – Pagi ini, Bung Karno masih berpiyama tidur, namun aura negarawan dahsyat dan ke-seksiannya tidak berkurang. Kami (Saya, mas Ary Dicky Buntoro & Jonny Sirait) telah duduk bersama beliau sejak pkl.06.00 pagi di teras Istana Bogor. Tentunya Kopi pahit ala Bogor dan panganan pisang goreng ada juga disana.
.
Sambil berjalan kebelakang istana dan memberi makan rusa-rusa, Bung Karno membuka pembicaraan, ..“Usai shollat subuh tadi, saya mendengar khotbah dari seorang ulama yang usianya jauh lebih muda dari saya. Dia banyak bicara tentang figur KH. Syaichona Cholil, Al-‘Alim al-‘Allamah asy-Syekh Haji Muhammad Kholil bin Abdul Lathif Basyaiban al-Bangkalani al-Maduri al-Jawi asy-Syafi’i (Syekh Cholil) , ulama besar asal Kemayoran, Bangkalan,Madura . Kelahiran thn.1820 dan wafat diusia 105 tahun sekitar thn.1925. Syekh Cholil adalah seorang Ulama kharismatik yang rela berkorban untuk umat dan bangsa, serta guru dari banyak ulama besar pada generasi sesudahnya. Kecintaannya kepada NKRI tidak akan pernah diragukan, beliau akan selalu terdepan. Saya adalah salah satu pengagumnya, sebagaimana saya mengagumi ulama-ulama asal NU lainnya.
.
Saya tahu ulama pengkhotbah itu usianya lebih muda dari usia saya, hukumnya saya menjaga etika untuk menghormatinya, apalagi didalam materi dakwahnya itu demikian banyak menekankan akan pentingnya menjaga & mengamalkan Pancasila & Bhinneka Tunggal Ika. Kami cocok. Kami satu tujuan. Saya memang presiden dan panglima tertinggi, itu jabatan duniawi. Namun ulama muda itu pangkat dan jabatan rohaninya, ke-Islamannya, pastinya lebih tinggi dari saya jika kita bicara agama, itu etika dan akhlak terpuji bagaimana kita saling hormat-menghormati..”, papar Bung Karno mengawali diskusi pagi ini.
.
POLITIK ABAL-ABAL & ISLAM NUSANTARA
Bung Karno melanjutkan, Ulama muda itu juga menyampaikan , bahwa “ Dalam agama apapun diajarkan bagaimana kita menjaga baik akan Akhlak dan etika, karena itu ibarat cermin diri. Cermin kebiasaan dan perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-harinya. Untuk ummat Islam, Akhlak itu menyangkut hal yang berhubungan dengan perbuatan baik, buruk, benar dan salah. Maka kewajiban kitalah untuk senantiasa bersandar kepada Al-Quran dan Hadis Rasulullah SAW sebagai dasar menjaga Akhlak. Ada pun etika atau norma (morality) itu bersumber dari hasil budaya dan adat istiadat suatu tempat yang berlaku dalam suatu masyarakat. Inilah salah satu sumber mengapa muncul sikap ISLAM NUSANTARA, Islam yang Rahmatan Alamiin, yang menjaga adat-istiadat sebagaimana amanah Pancasila & Bhinneka Tunggal Ika.
.
Kalian juga paham dan rasakan, bahwa menjelang Pilpres 2019 ini, telah tercium gaduh yang terkonsep & sistimatis. Bahkan ada ‘orang yang akan menggeruduk KPU jika curang,… “Kalau perlu jumlah massa yang datang ke KPU akan lebih dari 7 juta orang saat di Monas”, mengapa terus paranoid untuk kalah, bahkan mereka lupa hoax 7 kontainer berisi 70 juta surat suara yang telah di-coblos terbukti fitnah bahkan pelakunya telah dipenjara. Mengapa kurang akal?, mengapa harus takut untuk tetap dalam hati & jiwa yang tenang?, mengapa harus membangun provokasi?, Anak saya bilang ‘Politik abal-abal. Karena penuh kepalsuan & angkara murka. Ahahahah…
.
Para pembaca INDONEWS Yth,
Kami bersyukur, Jokowi telah mengajarkan kami selaku relawannya untuk senantiasa berjiwa ‘Optimis (percaya kepada Allah SWT-Tuhan YME yang akan selalu mempermudah apapun jika untuk tujuan baik), sebaliknya ‘diseberang sana, banyak yang pesimis. Bagai minyak dan air, tidak akan pernah bertemu. Namun kami jalan terus mewujudkan Nawacita semaksimal mungkin.
.
Kesuka-relaan kami bersama Jokowi sejak thn.2012 bukan karena struktural partai, kami independen, lebih bebas bergerak tanpa ambisi jabatan politik. Lillahi’ta’alla. Sosok Jokowi adalah penawar rindu kami yang hampir ditelan bumi selama ini, kami belajar bagaimana Jokowi mencontohkan sebagai simbol optimisme negarawan sejati. Tidak cengeng. Kalau pun diseberang sana ada yang percaya jika bangsa dan negara besar ini akan bubar thn.2030. ‘Come – on !, Ahahah..
.
ETIKA POLITIK & TIJI TIBEH
Para pembaca INDONEWS Yth, Saat-saat seperti ini mengingatkan kita pada seorang filsuf, sejarahwan, penulis dan diplomat Italia jaman Renaissance, Niccolo di Bernardo Machiavelli (1469-1527). Namanya terutama dikenang dalam istilah negatif “Machiavellisme” untuk mencirikan para politisi jahat yang digambarkan dalam bukunya The Prince. Buku itu menjadi sangat laris dibaca dan dikutip karena si pengarang seolah-olah membenarkan perilaku yang identik dengan setan dan immoralitas. “Perbuatan kejam, curang, dan irreligius meningkatkan martabat penguasa baru dalam sebuah Negara, saat kemanusiaan, ketangguhan, dan agama tidak mempunyai kekuatan lagi, Maka main kotor tidak apa-apa”, karena politik yang baik adalah politik yang bisa mencapai tujuannya, apapun caranya. Dari sinilah muncul istilah “tujuan menghalalkan cara” (finis iustificat medium).
.
Bagi Machiavelli, politik yang baik pasti punya tujuan yang baik, maka tidak apa-apa diraih dengan cara apapun: kalau tidak bisa dengan cara yang baik, dengan cara kejam, curang dan kotorpun jadi! Apalagi dalam situasi dimana agama tak lagi menjadi kekuatan moral (moral force), bahkan sudah direndahkan menjadi alat kepentingan politik.
.
Bung Karno menghentikan bicaranya, sambil menyeruput teh hijau kesukaannya, beliau melanjutkan, “Menjadi pertanyaan, ukuran “baik” itu menurut siapa? Bagaimana kalau politik itu baik di permukaan atau dalam rumusan visi-misi saat kampanye, tetapi sebenarnya menyembunyikan tujuan-tujuan dan agenda terselubung (hidden agendas) yang akan dipaksakan setelah terpilih? “
.
Para pembaca INDONEWS Yth,
Menurut Aristoteles, politik (Yunani: polis = kota) dipahami sebagai tatacara mengelola kota (negara) untuk kesejahteraan bersama seluruh warganya (polites). Seni mengelola kekuasaan dengan konstitusi (politeia) demi kepentingan umum. Jadi, tujuan akhir politik adalah kepentingan umum seluruh rakyat, bukan kepentingan partai, kelompok penguasa, apalagi pribadi. Tetapi karena politik selalu menyangkut kekuasaan, maka praktis politik tidak bisa luput dari perilaku koruptif (=penyalahgunaan kekuasaan) para pelakunya. Tidak ada yang salah dan kotor dengan politik; yang membuat politik kotor adalah para politisi immoral.
.
Pilpres 2019 syarat dengan janji-janji , idealnya seorang capres/wapres adalah menawarkan solusi dalam berkampanye. Bukan melulu mengkritik tanpa solusi, ber-kampanye adalah ibarat kita bercermin. Lihat siapa diri kita, sebelum berkampanye. Bagaimana bicara kemiskinan jikalau selama hidupnya dalam kegelimangan harta?, Bagaimana bisa bicara menjadi pemimpin negara yang mayoritas Islam jika belum mampu menjadi imam shollat atau mengaji?,
.
Para pembaca INDONEWS Yth,
Kampanye menurut definisi Rogers & Storey (1987) adalah serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan untuk menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak, dan dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu. ‘Winning is not everything, kemenangan bukan segala-galanya’. Tetapi tatkala orientasi konstestan adalah ‘kekuasaan’, maka prinsipnya , “Winning is not everything, it’s the only thing, kemenangan bukan segala-galanya, melainkan satu-satunya!”. Disinilah bisa muncul para pengikut Machiavelli yang menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan. Kalau pun gagal , Tiji Tibeh, Mati Siji, Mati Kabeh. ‘Waspada Bangkitnya Orba.‘Paham !?’, Bung karno bertanya, kami mengangguk-angguk. Demikian, Mohon maaf lahir bathin ——— (Arief P.Suwendi, Ketum PERI – Persatuan Relawan Indonesia, Penasehat Media Ummat & Indonews Bd.Media & Event Organizer + Sekjend DPD GMPK kab. Bogor )

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook