Warung Kopi BOGOR KAPAYUN !, “BUNG KARNO, SOEHARTO, GUS DUR, JOKOWI & MA’RUF AMIN”

Warung Kopi BOGOR KAPAYUN !,
“BUNG KARNO, SOEHARTO, GUS DUR, JOKOWI & MA’RUF AMIN”
.
“Saya ini tak tahu diri, sudah tua kok masih berambisi jadi ketua panitia. Ngurusi ini-itu. Ya benar-benar tua tapi tak tahu diri dan tidak sadar diri.”, Teriak KH. Munasir Ali, Ketua Hizbullah dan pensiunan tentara saat menyampaikan sambutan atas nama panitia Muktamar NU di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa barat  thn.1994 lalu. Ini sindiran sekaligus ‘uper-cut telak kepada Soeharto yang juga hadir saat itu. Soeharto dianggap  berlebihan membenci Gus Dur karena tidak ingin figur Gus Dur lebih ‘ngetop darinya sebagai Presiden RI yang mayoritas berpenduduk Islam. Suasana semakin riuh apalagi disaat ratusan  hadirin berdiri dan bertepuk-tangan tiada henti, diluar  para – tentara siap siaga, para santri pun tidak kalah siaga, mereka saling berhadapan. ‘Mengerikan !
.
Para Pembaca INDONEWS Yth,
Suara KH. Munasir Ali ini merupakan ‘akumulasi’ kemarahan warga NU karena begitu ‘ngotot-nya Soeharto untuk menggembosi Gus Dur sekaligus membungi-hanguskan NU yang dirasa Soeharto akan memperlambat jalannya. Semua cara dilakukan Suharto terhitung sejak thn.1984 dimana Gus Dur mulai menjadi Ketua Umum PBNU. Gus Dur dianggap sebagai seorang tokoh yang kritis terhadap Soeharto.
.
Selama ini upaya Soeharto selalu kandas, maka muncul ide ‘pembusukan Gus Durr dari internal NU. Dan Soeharto menggunakan kelompok anti Gus Dur di dalam tubuh NU, maka munculah Abu Hasan, orang  NU juga yang kemudian  dijadikan ‘penghalang Gus Dur. Mereka kemudian disebut sebagai kelompok ABG (ASAL BUKAN GUS DUR). Saat di Muktamar itu, ada skenario besar bagaimana caranya Gus Dur tidak bisa duduk dekat Soeharto. Gus Dur ‘ditaruh di kursi  barisan ketiga bahkan ia tidak disapa sang presiden. Ahahahah..
.
Bahkan dengan alasan keamanan, Soeharto melalui Pangab – Faisal Tandjung ‘menurunkan’ lebih dari 1500 tentara yang kemudian ‘berseragam banser, bahkan mereka tidak malu mengeluarkan beberapa panser disekitar muktamar.  Melihat pemandangan ini, dalam malam terakhir muktamar, Gus Dur secara berkelakar berterimakasih kepada tentara yang telah meminjamkan serdadu tambahan kepada Banser. 
.
Para Pembaca INDONEWS Yth,
Rekayasa dibuat sedemikian rapih dan profesional untuk menjadikan Abu Hasan sebagai Ketum NU, namun Allah SWT berkehendak lain. Saat penghitungan suara putaran 1, suara Gus Dur 157 suara, Abu Hasan 136, Fahmi Saifuddin 17, dan Chalid Mawardi 6 suara. Suasana  semakin tegang, kelompok Abu Hasan mulai memprovokasi, melihat peta tak terduga ini, yang tercium akan chaos, kaum muda NU kebingungan dan beberapa kiai sepuh menangis, mereka bahkan bermunajat agar  ALLAH SWT – Tuhan YME  ikut campur dalam hal ini.
.
Ketika hasil perhitungan suara akhir sekitar pkl.03.00 dinihari , suara Gus Dur mencapai 174 suara sedangkan Abu Hasan 142, keharuan menyeruak di ruang sidang. Para hadirin pun ber-shalawat dan banyak diantara mereka yang menangis atas dikabulkannya doa-doa mereka agar boneka orde-baru itu tidak menang. Sebagian diantara mereka, khususnya para kaum muda NU membentuk barisan melingkar sambil meneriakan yel-yel berbahasa Inggris: SOEHARTO HAS TO GO !, SOEHARTO HAS TO GO! (Soeharto Turun! Soeharto Turun!). ‘Ahahahah..
.
Para Pembaca INDONEWS Yth,
Melihat realita itu, tidak terbayang bagaimana ‘sakit hatinya Soeharto dan para kroni yang tidak suka kepada Gus Dur dan berkembangnya NU.  Pasca Muktamar yang memilih Gus Dur untuk yang ke-3 kalinya sebagai Ketum PBNU. Jarak Soeharto dan Gus Dur + NU semakin renggang, Gus Dur tidak kalah akal,  diantara thn.1994-1996  Gus Dur pun sering mengajak Mbak Tutut keliling ke basis/kantong-kantong masa  NU. Akhirnya saat acara Kongres Rabithah Maahid Islamiyyah (RMI), wadah perhimpunan pondok pesantren NU, di PP. Zainul Hasan Genggong, thn.1996 lalu. Soeharto & Gus Dur pun bertemu dan bersalaman  disaksikan putrinya, Mbak Tutut.  Pada media Gus Dur berkata, “Mari kita terus berdoa. Saat shalat ketika lafadz Iyyaaka Na’budu Waiyyaka Nasta’in , mohon bersitkan doa untuk keamanan dan kedamaian negeri ini. Mari tetap bersatu dalam bingkai NKRI”, ‘Mak Jleb,  ‘Ahahahah..
.
Bagi pengagum Soekarno (Soekarnoisme) perlawanan Gus Dur terhadap Soeharto ibarat ‘’semangat baru’’  bersinerjinya  kaum Nasionalis & Religius. Dan PDI-Perjuangan menangkap ini dengan baik. Maka wajar jika  sejak era PDI-P versi Hj.Megawati Sukarnoputri orde baru akan terus ‘meng-halangi  Megawati dan PDIP-nya menjadi besar. ‘Ahahah…
.
Para Pembaca INDONEWS Yth,
Berita ini pernah beredar seru, diceritakan suatu waktu menjelang Pilpres thn.1999 , Gus Dur bersama Megawati SP, Kiai Noer,  serta Kiai-kiai di Jawa Timur berziarah ke makam Bung Karno, Blitar.  Pada saat akan membaca tahlil, tiba-tiba Gus Dur menunjuk Kiai Noer untuk memimpin doa. “Selang beberapa menit tahlil, saya diserang rasa kantuk yang hebat. Beberapa menit sempat tertidur di sela-sela tahlil. Saya merasa bermimpi melihat Bung Karno memberikan keris kepada Gus dur,” kata Kiai Noer. “apa tandanya itu Gus?”, tanya Kiai Noer kemudian kepada Gus Dur. “Itu tandanya Soekarno merestui saya menjadi presiden”,jawab Gus Dur, dan benar saja ia pun terpilih menjadi presiden RI ke-4 periode tgl. 20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001.
.
JOKOWI, MA’RUF AMIN = NASIONALIS & RELIGIUS
Para Pembaca INDONEWS Yth,
Kamis (9/8/2018) lalu , Presiden Joko Widodo memutuskan Prof.KH.Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden pendampingnya dalam Pilpres 2019. Hal itu disampaikan Jokowi dalam jumpa pers bersama para ketua umum dan sekretaris jenderal parpol pendukung di Restoran Plataran, Jalan HOS Tjokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat, “Saya memutuskan dan telah mendapat persetujuan dari partai-partai koalisi yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Kerja bahwa calon wakil presiden  saya  untuk tahun 2019-2024 adalah Profesor Kyai Haji Ma’ruf Amin,”, diluar lokasi ribuan bahkan jutaan santri, ulama dan relawan Jokowi sontak melakukan shalawat bahkan banyak diantara mereka menangis atas keputusan besar itu. 
.
Para Pembaca INDONEWS Yth,
Mengapa menjadi keputusan besar Jokowi?, (SATU). Romantisme sosok Bung Karno dan Gus Dur menyertai itu, karena Ma’ruf Amin adalah NU ‘sejati. Jokowi dikenal selama ini sebagai Keturunan Ideologis Bung Karno yang demikian mengagungkan Pancasila & Bhinneka Tunggal Ika. (DUA) Belajar dari Pilgub DKI Jakarta 2012 & 2014, Pilpres 2014, Pilgub Sumut 2018, Pilgub Jabar 2018 dsb senantiasa ‘kental pembenturan SARA khususnya muslim – non muslim. Sosok Ma’ruf Amin adalah ‘bridge to winner (Jembatan kokoh untuk menjadikan Jokowi menang karena jumlah NU > 80 juta ummat) , (TIGA). Indonesia thn.2019-2024 adalah menyempurnakan Nawacita melalui program peningkatan SDM hingga desa-desa seluruh Indonesia. Dalam arti jika selama ini Nawacita telah berhasil menyempurnakan infrastruktur darat, laut & udara dengan baik. Maka saatnya pondasi2 yang telah dibangun itu di-charge dengan kualitas SDM sebagaimana  diamanahkan dalam Pancasila khususnya Sila Kemanusiaan dan Keadilan sosial (Humanity & Justice) dalam segala bidang,  khususnya SDM masyarakat desa diseluruh Indonesia.(EMPAT). Jokowi adalah Insinyur, pekerja-keras dan pekerja cepat. Maka figur Ma’ruf Amin selaku ‘orang tua  dan tokoh pluralis / penganut Gus Dur/NU merupakan penyeimbang gerak dan pola pikir Jokowi. (LIMA). Jokowi paham ada sekelompok orang yang mulai menghembuskan romantisme bangkitnya ORDE BARU & operasi senyap HTI  dengan segala packaging dan tiruannya, maka bersama para parpol pendukung yang notabene anti orba & anti intoleransi sepakat memerlukan ‘garda-pendobrak dan penjaga NKRI lain, dan NU – lah pilihan Jokowi melalui Prof.KH. Ma’ruf Amin.
.
Para Pembaca INDONEWS Yth,
ROMANTISME NASIONALIS & RELIGIUS, dengan segala ketidak-sempurnaan alm.Bung Karno dan alm.Gus Dur, spirit ke-duanya dalam ‘Menjaga Pancasila & Bhinneka Tunggal Ika”  ini seolah  kembali terjalin melalui duet Jokowi – Ma’ruf Amin di Pilpres 2019-2024. Ini yang membuat lawan-lawan Jokowi seolah kehabisan cara untuk ‘melengserkan Jokowi. Termasuk HTI dengan segala antek-antek-nya. Maka banyak ‘tricking yang kemudian menjadi blunder, ingat saja kasus Ratna Sarumpaet, 70 juta kontainer surat suara, hoaks ijasah palsu Jokowi, 10 juta TKA aseng, Jokowi disebut pro-asing kemudian terbantahkan saat skore untuk Freeport menjadi 51-49%, Jokowi disebut anti-ormas Islam saat membubarkan HTI mereka lupa bahwa Jokowi adalah penjaga Pancasila, dsb. Ahahahah
.
Saya dan teman-teman Relawan lainnya bukanlah struktural PDI-Perjuangan, namun siapapun orang yang bertekad mengawal dan mengamalkan Pancasila & Bhinneka Tunggal Ika dalam kesehariannya, maka dialah sahabat kami. Jika dia pemimpin bangsa dan negara besar ini, maka haram hukumnya jika kami ‘tidak’ mendukungnya. Ir.H. Joko Widodo & Prof. KH.Ma’ruf Amin adalah pilihan kami sebagai Presiden – Wapres RI Thn.2019-2024 karena mereka mendapat mandat untuk itu. NASIONALIS & RELIGIUS, MERAH – HIJAU !, Aamiin Yarabilalamiin. Wass wrwb. Mohon maaf lahir bathin…. Waspada Bangkitnya Orba !” —–  (Arief P.Suwendi, Ketum PERI – Persatuan Relawan Indonesia, Penasehat Media Ummat & Indonews Bd.Media & Event Organizer + Sekjend DPD GMPK Kab. Bogor )

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook