Gaji Belum Dibayar 2 Bulan Buruh Demo PT Sentosa Utama Garmindo

Gaji Belum Dibayar 2 Bulan Buruh Demo PT Sentosa Utama Garmindo

Indonews Sukabumi. Aksi unjuk rasa buruh PT Sentosa Utama Garmindo yang menuntut pembayaran upah berlanjut hari ini, Senin (28/1/2019.

Ribuan buruh PT Sentosa Utama Garmindo di Kampung Caringin Karet, Desa Nyangkowek, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi demo menuntut pembayaran gaji yang dua bulan terakhir belum dibayar.

Dalam orasinya, buruh menuntut pembayaran gaji mereka untuk bulan Desember dan Januari yang sudah terlambat sekitar 14 hari. Buruh sendiri sudah beberapa kali melakukan aksi serupa namun belum ada tanggapan serius dari perusahaan dan pemerintah.

“Kami menuntut gaji segera diberikan, kalau memang ternyata perusahaan belum juga menunaikan kewajibannya kami akan mengerahkan massa dan aksi lebih besar dengan mendatangi Gedung Pendopo,” teriak Ketua Gerakan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) Dadeng Nasarudin dalam orasinya, Senin (28/1/2019).

Berbekal kertas berisi tulisan “Buruh Tidak Akan Mundur” dan “Kembalikan Kesejahteraan Kami,” ribuan buruh terlihat duduk-duduk di area dalam pabrik sesekali mereka serempak menyuarakan tuntutan.

“Kami tidak akan pulang sampai hak diberikan, sudah dua bulan hanya diberi janji tanpa kejelasan. Kami enggak akan mundur, semoga pihak pemerintah daerah segera mengambil sikap,” kata Asriana salah seorang buruh kepada awak media.

Hingga saat ini aksi terus berlanjut, Dinas Tenaga Kerja, DPRD, perwakilan buruh dan pemilik perusahaan masih melakukan negoisasi di salah satu ruangan kantor.

Sementara itu Kepala Bidang Hubungan Industrial Disnakertrans Kabupaten Sukabumi, Muladi mengatakan, pihak perusahaan belum bisa melaksanakan kewajibannya. Rencana penjualan aset perusahaan untuk pembayaran upah pun belum bisa terlaksana.

“Calon pembeli aset sudah ada. Cuma permasalahannya didalam ini kan tumpang tindih,” ujar Muladi dimintai keterangamnya di pabrik PT Sentosa Utama Garmindo.

Muladi menambahkan, struktur manajemen perusahaan kerap berganti-ganti. Hingga saat ini, tidak ada keputusan terkait siapa yang berhak menyetujui penjualan aset.

“Mungkin dia kontak-kontakan dengan bosnya, kemarin diperkirakan nilai aset yang mau dijual sekitar Rp 2,5 miliar. Tapi itupun masih hitungan kasar, karena teknis penjualan aset kan yang mau dijual itu kain dan tidak mudah. Itu hanya angka perkiraan saja, kalau memang betul dan segalanya mulus bisa dibayarkan untuk karyawan,” tambah Muladi.

Ia menambahkan, informasi sementara pembayaran upah kepada buruh baru bisa dilakukan jika aset tersebut terjual. Permasalahan di pabrik tersebut kembali dibahas bersama perwakilan sejumlah instansi terkait hari ini.

“Tentunya ada langkah-langkah seperti sekarang keterlambatan pembayaran gaji. Perusahaan kena denda dan dihitung kalau juga tidak selesai salah satu pihak meminta kepada dinas untuk dimediasi tripartite,” kata Muladi.

“Apabila di mediasi selesai nanti keluar anjuran. Kalau anjurannya perusahaan harus segera membayar dan perusahaan keberatan atau apa, salah satu pihak bisa mengajukan ke peradilan hubungan industrial di Bandung. Nanti keputusan hakim pengadilan hubungan industrial yang vonis. Tergantung perusahaan, kuncinya perusahaan,” pungkasnya.(R. Iyan Muft/***)

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook