Warung Kopi BOGOR KAPAYUN !, “ JOKOWI & AHOK , 4EVER !” .

Warung Kopi BOGOR KAPAYUN !,
“ JOKOWI & AHOK , 4EVER !”
.
Bismillahirahmanirahiim,
Assalamualaikum wrwb,
Salam Damai & Sejahtera.
SAMPURASUN.
.
Dianggap keras kepala karena Bung Karno tetap tidak mau tunduk kepada Belanda, Surabaya dan beberapa kota lain pun hendak digempur Belanda dari darat, laut & udara. Bung Karno pun mengontak KH Hasyim Asyari – Pendiri NU di Jombang untuk minta dukungan perjuangan. Dan sepekan kemudian tepatnya tgl. 17 September 1945, KH Hasyim Asyari menjawab agar para santri, ulama dan rakyat Indonesia secara total membela Tanah Air, dengan semangat ‘Jihad fi sabilillah (berjuang karena Allah SWT – Tuhan YME) . Dan Rapat Besar Nahdlatul Ulama tgl. 22 Oktober 1945 menghasilkan keputusan “Resolusi Jihad”, dimana berisi perintah & kewajiban setiap umat Islam untuk mempertahankan dan berjuang demi NKRI; Ratusan ribu bahkan jutaan santri, ulama dan warga non-muslim pun berdiri terdepan ‘menyambut Belanda dimedan perang.
.
Khususnya para santri , ulama & tokoh agama lainnya – keseharian mereka itu adalah memperdalam agama, jauh dari kalimat ‘perang. Selama ini ‘mereka diam, menanti titah para kyai, ulama dan tokoh agama yang menjadi panutannya. Dan disaat ‘panggilan agung untuk mempertahankan NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika telah tiba. Mereka pun serahkan jiwa-raga, mereka yang selama ini diam bersatu padu , ‘Merdeka atau Mati !
.
Itu sebagian contoh bagaimana kekuatan ‘Silent Majority demikian dahsyat dijamannya.
.
Para Pembaca INDONEWS Yth,
VOCAL MINORITY (VM) adalah istilah bagi mereka yang kreatif dan kritis. Cenderung aktif bersuara secara langsung dan punya peran besar di setiap lini kehidupan. VM membentuk dan menanggapi isu dengan berbagai gaya dan cara, baik melalui forums resmi, media cetak, elektronik, media sosial, youtube bahkan ‘turun kelapangan.
.
Adapun SILENT MAJORITY (SM) atau disebut ‘Mayoritas Diam’. Ke-pasifan masyarakat dalam tindakan apapun . Namun saat munculnya kasus Ahok yang kemudian dirasa demo-demo yang dilakukan sebagian orang itu mulai hendak memecah belah NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika – maka munculah gerakan mereka (SM) dalam bentuk 1 juta bunga di Balaikota maupun 1 juta lilin hampir diseluruh Indonesia dan LN.
.
Tapi mohon ‘di-catet, belum tentu juga yang melakukan semua itu adalah Ahoker, bahasa ekstrimnya mereka tidak melulu etnis Tionghoa, tapi semua etnis dan agama campur-aduk, bersatu, bersama. Seperti saya dan teman-teman relawan lain pun banyak yang non-etnis Tionghoa. Ini yang orang banyak lupa !
.
“Ahok bagi kami adalah simbol perlawanan, kami sekarang bersuara dan menggalang kekuatan untuk mempertahankan NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Bangsa dan Negara besar ini sedang dapat ujian berat , kita sekuat tenaga wajib memelihara keutuhan eksistensi negara-bangsa (nation- state) Indonesia…”, demikian seorang relawan Ahok saat ‘Malam 1000 lilin di Bandung thn.2017 lalu, dia adalah seorang dokter gigi yang juga dosen sebuah PTS di Bandung. Yang juga bukan berasal dari etnis Tionghoa.
.
Para Pembaca INDONEWS Yth,
Mayoritas rakyat Indonesia mencintai & menjaga NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Dan mereka akan ‘bergerak disaat NKRI sedang diujung-tanduk. Kasus 1 juta bunga dan 1 juta lilin itu salah satu gerakan moral yang dipertunjukan. Dan mereka mempunyai kekuatan hukum untuk melawan siapapun yang anti Pancasila, hanya saja kita jauhkan dari pola barbar atau main hakim sendiri, karena itu pun melanggar hukum. Dan mereka, saya dan teman-teman relawan lainnya paham soal ini.
.
“ Silent Majority (SM) itu identik dengan gerakan moral, yang tunduk kepada NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika . Sekaligus meredam dan mencegah munculnya kelompok intoleran. Jika kelompok SM ini diam, berarti mereka membenarkan apa yang dilakukan kelompok intoleran.Gerakan SM juga bisa mendesak pemerintah membubarkan kelompok-kelompok intoleran. Kita jangan pungkiri bangsa dan negara besar ini dibangun berdasarkan keragaman atau kemajemukan sehingga kelompok intoleran tidak layak hidup di Indonesia. Jika kita diam terus, kelompok ini seolah-olah mendapatkan legitimasi untuk terus bertindak intoleran, menggunakan kekerasan dan memaksakan kehendak termasuk mengganti ideologi negara, yakni Pancasila. Pemerintah Jokowi wajib bertindak tegas terhadap kelompok-kelompok intoleran ini. Negara, harus hadir untuk menjaga dan menciptakan toleransi dengan tidak membiarkan kelompok intoleran bergerak bebas di Indonesia..”, ungkap Mas Ary Dicky Buntoro – Dewan redaksi INDONEWS bd.Community Development melalui seluler saat ditanyakan hal ini.
.
“Negara kita adalah negara Pancasila yang berdasarkan hukum. Karena itu, negara tidak boleh lemah dalam menindak kelompok intoleran termasuk membubarkannya. Hukum harus ditegaskan, hukum tidak boleh tunduk terhadap kekuatan massa dari kelompok intoleran. Jokowi jangan terkesan lemah dalam menindak kelompok-kelompok intoleran. Karena mereka kerap bertindak anarkis dan memaksakan kehendak, menghina kelompok lain dan pendiri bangsa seperti Proklamator Soekarno, bahkan menghina Pancasila. Merekalah kelompok Intoleransi. Silent Majority ibarat gunung es dilautan, terlihat kecil namun dia berakar kuat didasarnya maka jika gunung atasnya bergerak seluruh akar dibawahnya akan ikut bergerak kuat…, tambah Jonny Sirait,Amd – Pimred INDONEWS yang juga Ketum LSM Bogor Kapayun & Sahabat Jokowi Kerja (Joker)
.
Saat ini jumlah penduduk Indonesia lebih dari 250 juta jiwa, bersebaran di 17.000 pulau dan lebih dari 1300 etnis suku. Saat di Pilpres 2014 Jokowi mendapat suara lebih dari 70,9 juta, itulah kita yang setia kepada NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Yang anti fitnah, anti hoaks, anti kebohongan, anti caci-maki, anti meng-kafir kafirkan orang lain, dan menolak intoleransi tumbuh subur. Demi Tuhan, kita adalah orang yang tidak ingin Bangsa dan Negara besar ini seperti negara negara di Timur Tengah yang umumnya penuh konflik bersenjata.
.
Para Pembaca INDONEWS Yth,
Sebelum Jokowi menjadi Presiden mereka seolah ‘dipelihara, bebas menggunakan ruang publik untuk menegaskan diri, lengkap dengan tujuan yang intinya menafikan NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Merekalah kelompok INTOLERANSI !, sayangnya banyak masyarakat dan teman-teman kita yang ‘melupakan ini karena ASAL BUKAN JOKOWI, ‘Hellooowww…. !!
.
SILENT MAJORITY & JOKOWI
Kini spirit Silent Majority ini muncul kembali disaat paslon #02 demikian vulgar di era Pilpres 2019, yang memaksakan kehendak ABJ – Asal Bukan Jokowi. Kami, relawan Jokowi non-partisan pun kebagian ‘getahnya ditengah minimnya logistik & amunisi. Kami harus lebih giat meredam hoaks. Dengan cara turun langsung ke masyarakat , formal dan informal.
.
Silent Majority itu bukan melulu di kota-kota besar, namun dia ada di desa-desa terpencil juga. Lihat saat ribuan santri dan ulama di Kudus , Jember, Pengurus MUI Sukabumi, dsb melakukan perlawanan kepada Fadli Zon yang dianggap telah melecehkan kyai besar mereka, KH.Maimun Zubair (Mbah Moen). Mereka umumnya tinggal di desa-desa.
.
Atau lihat saat ribuan alumni PTN/PTS, alumni SMA, ribuan habaib & ulama serta ribuan purnawirawan TNI/Polri di seluruh Indonesia mendeklarasikan diri untuk setia mendukung Jokowi sebagai presiden RI Thn.2019-2024 mendatang.
.
Merekalah sesungguhnya kaum Silent Majority pengawal setia NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Yang kini bergerak bersama memenangkan Jokowi-KH.Ma’ruf Amin di Pilpres 2019 mendatang. Agar Bangsa dan Negara besar ini tetap terjaga dengan baik. Titik !
.
JOKOWI LOVERS & AHOKER adalah Snaw-ball (bola salju), menggelinding & menghadang kelompok Intoleransi di Bangsa dan negara besar ini, NKRI. Inshaa Allah ……… Mohon maaf lahir bathin…. #Waspada Bangkitnya Orba !# —– (Arief P.Suwendi, Ketum PERI – Persatuan Relawan Indonesia, Penasehat Media Ummat & Indonews Bd.Media & Event Organizer + Sekjend DPD GMPK Kab. Bogor )

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook