Warung Kopi BOGOR KAPAYUN !, “HALLO BU RISMA, HALLO BU AIRIN. AHAY !” .

Warung Kopi BOGOR KAPAYUN !,
“HALLO BU RISMA, HALLO BU AIRIN. AHAY !”
.
Bismillahirahmnirahiim,
Assalamualaikum wrwb,
Salam Damai & Sejahtera Untuk Kita Semua,
SAMPURASUN.
.
Sejak Senin (18/3) kota Bandung trus diguyur hujan, dibeberapa ruas jalan pun banyak genangan air. Saya dan Ir. Chrisman A. Simanjuntak – sahabat lama yang kini menjadi Caleg Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk DPRD Prov. Jawa Barat Dapil I – kota Bandung & kota Cimahi terus ‘menerabas menuju tujuan menjumpai Komandan BUMI RELAWAN NGAHIJI (BRN), Jalan Saad, Bandung yang juga Sekjend Jaringan Makmur Nusantara dan Kordinator Konsorsium Relawan Jokowi (KRJ), Ary Dicky Buntoro. Yang akrab kami panggil Mas Dicky.
.
Usai keluar tol Pasteur, masih seperti lalu, kabel-kabel listrik (PJU) masih ‘ting-garantung dan kumuh, kenapa sih belum mampu juga dipendam dalam tanah?, apalagi ditambah kumuhnya baliho/spanduk para Caleg dan Pilpres 2019, juga papan-papan reklame yang asal ‘nancep , maka lengkap sudah ‘derita Paris Van Java ini. . Saat menuju jembatan Pasupati / jalan layang Pasupati (Pastur-Suropati)yang menghubungkn bagian utara dan timur kota Bandung sepanjang 2,8 Km yang ‘maunya dibangun’ sejak thn.1921 namun baru terealisasi thn.2005 ini, tiba-tiba beberapa motor anak alay zig-zag didepan mobil kami, berkejaran dengan raungan knalpot yang memekakkan telinga siapapun, kenapa sih demikian susah menertibkan knalpot-knalpot seperti itu di kota Bandung?, dan kenapa sih motor boleh lewat jalan layang? .
.
Jika saja tahun 2012 lalu Jokowi adalah Gubernur Jawa Barat atau Walikota Bandung, saya yakin hal semua diatas ini tidak akan pernah terjadi. Kalau pun mau mengejar PAD , masih banyak jalan yang lebih santun, khususnya tentang keberadaan papan reklame sepanjang Pastur atau di seluruh kota Bandung.
.
Penataan kota Bandung sebagai ibukota Jawa Barat masih dibawah standar, berbeda 200% saat saya ke kota Surabaya sepekan lalu. Jangankan papan reklame yang asal ‘nancep, sampah pun sangat sulit ditemui di jalan-jalan protokol kota Surabaya. Gak percaya?, banyak-banyak pikniklah kesana. . “Ibukota Jawa Barat selama 10 tahun ini tidak ada kemajuan dan inovasi pembangunan fiik dan sarana kotanya, jembatan Pasupati maupun Fly-over Kiaracondong tidak juga menyelesaikan macet dan menambah valeu estetika kota, bahkan bisa sebaliknya. Saya pernah membaca tulisan dimana disana disebutkan ada sebuah musium di spanyol yang merupakan hasil peninggalan stasiun KA, kalau tidak salah namanya musium Guggenhein di kota Bilbao yag mampu mendatangkan lebih dari 4 juta wisatawan dengan nilai Rp. 14 trilyun dalam 4 tahun. Kenapa kota Bandung yang kaya akan warisan bangunan kuno tidak mampu melakukan itu?”, kata Lae Chrisman sambil mengemudi. Saya menggeleng-geleng karena tidak tahu apa jawabannya.
.
Namun untuk mencairkan suasana saya pun berceritera, “Sejak kecil hingga usia remaja saya tinggal di Pajajaran, kota Bandung. Kini saya ber-KTP kabupaten Bandung Barat. Salah-satu alasan saya pindah kesana karena iklim disana agak lebih fresh dari kota Bandung. Dibeberapa waktu lalu hujan asam kota Bandung lebih mengerikan dari kota Jakarta, jika usai hujan dibeberapa pohon, genteng dan patung-patung terbuat dari tembaga ini akan mmeninggalkan bercak berwarna hijau. Hal ini karena zat asam yang dibawa hujan , dalam beberapa sumber disebut kadar pH normal adalah diangka 5,6 namun kota Bandung bisa mencapai angka 4 berarti dibawah normal. Salah-satunya karena tingginya tingkat Polusi kota Bandung. Maka walikota Bandung yang baru ini, Oded M. Danial maupun gubernur jabar – Ridwan Kamil harus mampu ‘merubah kota Bandung lebih baik dalam segala hal. Mereka harus mampu mengurangi angka kemiskinan kota Bandung yang kini masih berada disekitar 443.000 orang atau sekitar 115.000 KK?.termasuk jumlah pengangguran yang masih mencapai 102.000 orang. Jadi jangan puas dirilah, kang Emil dan kang Oded harus lebih cepat bekerja…” .
.
“Setuju kang, kota Bandung adalah ibukota provinsi Jawa Barat. Jangan mau kalah dengan kota Surabaya, kang Emil dan Kang Oded harus punya banyak waktu juga untuk membenahi KBU – Kawasan Bandung Utara yang sudah di-ujung tanduk sebagai kawasan resapan air dan polusi udara di Jawa Barat ini. Khususnya kang Emil, beliau sudah merasakan langsung bagaimana dahsyatnya banjir berulang-ulang di kota Bandung selama menjadi walikota Bandung. Kelemahan kordinasi antar kepala daerah baik kota Bandung, kabupaten Bandung, kabupaten Bandung Barat & kota Cimahi yang selama ini dibilang Kang Emil selalu ‘terbentur regulasi. Kini setelah kang Emil menjadi Gubernur Jabar, tidak ada lagi alasan seperti saat menjadi walikota Bandung. KBU merupakan kawasan strategis provinsi (KSP). Sejatinya, yang bertanggung jawab penuh adalah provinsi karena KBU berada di empat kabupaten/kota, disini ‘kepiawan kang Emil di-uji. Apalagi mereka didukung Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 tahun 2008 yang direvisi dengan Perda Nomor 2 tahun 2016 tentang pengendalian pemanfaatan ruang di KBU. ..”,tambah Lae Chrisman. .

.“Ya begitulah Paris Van Java dari waktu kewaktu, Kita tahu bahwa saat ini ada sekitar 17 aliran sungai yang berhulu di KBU dan semuanya dalam kondisi kritis, jika musim kering mengalami keretakan dan saat hujan akan berdampak kepada longsor dan banjir hingga kota Bandung, Ini sudah puluhan tahun, belum juga dapat terselesaikan baik.. Ahahahah,kalau kang Emil atau kang Oded belum juga mampu membenahi hal-hal diatas, bagaimana kalau kita minta ke Jokowi agar Gubernur Jawa barat diganti ibu Tri Rismaharini. Dan walikotanya menjadi ibu Airin Rachami Diany – walikota Tangerang Selatan. Ahahahah..”, kata saya , kami pun tertawa sedih. ‘maklum guyon sarkasme. .
.
“Mengapa Ibu Risma?, karena saat Pilpres 2014 lalu di kota Surabaya, suara Jokowi mendapat 64,14% atau lebih dari 1.390 juta suara , dan beliau saat itu adalah walikotanya Surabaya. Mengapa Ibu Airin?, karena suara Jokowi di kota tangerang Selatan saat Pilres 2014 mencapai sekitar 359.788 suara (54%) sedangkan Prabowo-Hatta > 336.141 suara.Dan ibu Airin adalah walikotanya..”, tambah saya.
.
“Maksud kang Arief, akang ragu dengan kerja kang Emil & kang Oded untuk urusi bandung thn.2019-2024 ?”, tanya Lae Chrisman , saya terbatuk-batuk. ‘Ahahahah…
.
Menjelang tiba di jalan Saad,Naripan, Bandung. Sebuah stasiun radio di mobil memutarkan lagu Halo-halo Bandung, “…Halo-halo Bandung /Ibu kota Periangan /Halo-halo Bandung / Kota kenang-kenangan / Sudah lama beta / Tidak berjumpa dengan kau / Sekarang telah menjadi lautan api /Mari bung rebut kembali…” ‘Dugh, sakitnya tuh disini…Ahay. .
.
Wassalamualaikum wrwb, Mohon maaf lahir bathin; .JOKOWI HARUS MENANG DIATAS 53%; …… #Waspada Kebangkitan Orde Baru#, — Arief P.Suwendi – Ketum PERI – Persatuan Relawan Indonesia, Penasehat Media Ummat & Indonews bd.Media – Event Organizer + Sekjend DPD GMPK kab.Bogor)

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook