Tak Berkutik, Pemuda yang Mengancam Penggal Kepala Presiden Dijemput Polisi

Indonews Kabupaten Bogor – Pemuda yang diduga melalukan pengancaman terhadap Presiden Joko Widodo tak berkutik saat petugas kepolisian menjemput di kediamannya, Perumahan Metro, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (12/5/2019) sekitar pukul 18.00 Wib tadi.

Pemuda berusia 25 tahun itu berinisial HS. Dia sempat viral di media sosial lantaran mengancam akan memenggal kepala Presiden Joko Widodo.

Akibat dugaan pengancaman itu, aparat Subdit Jatanras Polda Metro Jaya menangkapnya pagi tadi.

Penjemputan HS juga tersebar dalam video berdurasi 59 detik yang diunggah di akun Instagram @jacklyn_choppers, Minggu (12/5/2019). Saat penangkapan, polisi sempat memperlihatkan surat perintah sebelum menggelandang HS.

“Saya dari Polda Metro Jaya, Jatanras. Ada surat perintah tugas,” kata seorang polisi dalam video itu.

Sedangkan HS yang nampak panik, mengakui kesalahannya. “Kalau yang kemarin itu jelas memang menurut saya, di situ saya memang emosional. Memang saya akui salah,” ujar HS.

Penyidik pun lalu meminta HS untuk memberikan penjelasan lebih lanjut di kantor kepolisian. “Begini, ini kan hanya klarifikasi dulu, sampean ikut,” jawab polisi.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono kepada wartawan membenarkan video penangkapan tersebut.

“Saat ini pengancam Presiden Jokowi itu masih menjalani pemeriksaan. Dia dijerat beberapa pasal, salah satunya Pasal Makar,” katanya, Minggu 12 Mei 2019.

Raden menerangkan, HS diduga mengancam memenggal kepala Presiden Jokowi saat aksi unjuk rasa di depan Kantor Bawaslu, Jumat 10 Mei lalu.

“Ia diduga melakukan pengancaman pembunuhan terhadap Presiden RI dengan mengucapkan kata-kata yang tak pantas, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 104 KUHP,” tambahnya.

Selain itu, akibat ulahnya pelaku juga dijerat dengan Pasal 27 ayat 4 junto Pasal 45 ayat 1 UU No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Adapun Pasal 104 KUHP berbunyi, “Makar dengan maksud untuk membunuh, atau merampas kemerdekaan, atau meniadakan kemampuan Presiden atau Wakil Presiden memerintah, diancam dengan pidana matiatau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.”

Sementara Pasal 27 ayat 4 UU ITE berbunyi, “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hakmendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan/atau pengancaman.”

Dan Pasal 45 ayat 1 berbunyi, “Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).” (Trisno Ade Putro)

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook