Warung Kopi BOGOR KAPAYUN: “MEREKA PEREMPUAN TANGGUH INDONESIA”

Bismillahirahmanirahiim,
Assalamualaikum wrwb,
Salam Damai & Sejahtera Untuk Kita Semua.
SAMPURASUN.

Innalillahiwainalillahi’rajiun; Hari ini, Sabtu, tanggal 1 Juni 2019, pukul 11.57 WIB, Ibu Ani Yudhoyono berpulang ke Rahmatullah. Beliau adalah mantan ibu negara dari SBY yang menjabat sebagai presiden RI tahun 2004-2014. Kini ibu Ani telah berkumpul bersama para almarhumah mantan-mantan ibu negara lainnya yang lebih dulu berada di surga. Diantaranya adalah, Ibu Fatmawati Soekarno lahir tahun 1923, wafat tahun 1980, Ibu Tien Soeharto (1923-1996), Ibu Hasri Ainun Habibie (1937-2010), dan Ibu Ani Yudhoyono kelahiran tahun 1952.

Saya adalah orang sunda, warga pasundan, warga parahyangan karena kelahiran di Jawa Barat. Sejak kecil mempunyai pertanyaan besar mengapa almarhumah ibu Inggit Ganarsih seolah terbuang dari sejarah. Bukankah beliau juga adalah istri syah Presiden Bung Karno?

Para Pembaca INDONEWS Yth,
Para RELAWAN JOKOWI SE-DUNIA Yth.

Bulan November 2016 lalu saya dan teman-teman MEDIA UMMAT bertandang kerumah beliau yang kini telah menjadi museum dan terletak di jalan Ibu Inggit Ganarsih No. 8, Astanaanyar, Bandung. Bahkan saya menyempatkan diri untuk sholat sunnah dan sholat ashar di bekas kamar pribadinya ini.

“Baru kali ini sepanjang museum ini berdiri, ada tamu yang ikhlas sholat di kamar ibu”, kata juru kunci yang saya lupa namanya.

Sayang saat itu saya belum sempat nyekar ke makam beliau di TPU-PORIB, Caringin, babakan Ciparay, Bandung karena sesuatu hal lain. Insya Allah, Next time.

Bagi saya beliau adalah wanita hebat yang berhasil membawa suaminya (Bung Karno) ke jenjang kesuksesan. Di kamar ini juga saya yakini banyak cerita indah dan duka saat beliau dan Bung Karno menetap disini yang dahulu bernama Jl. Ciateul sejak tahun1926-1934.

Dari juru kunci itu diceritakan bahwa beliau gemar membuat jamu untuk Bung Karno, juga tape bakar (colenak) serta kopi panas saat Bung Karno berkumpul bersama para aktivis yang kemudian melahirkan PNI (Partai Nasional Indonesia) tanggal 4 Juli 1927 hingga persiapan Sumpah Pemuda tahun 1928 silam.

Beliau dilahirkan di Desa Kamasan, Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada 17 Februari 1888, dan wafat di Bandung, Jawa Barat, pada 13 April 1984 di usia 96 tahun.

Ibu Inggit dinikahi secara syah oleh Bung Karno (BK) tanggal 24 Maret 1923 di rumah orang tua Inggit di Jalan Javaveem, Bandung. Pernikahan mereka dikukuhkan dengan Soerat Keterangan Kawin No. 1138 tertanggal 24 Maret 1923, bermaterai 15 sen, dan berbahasa Sunda. Saat itu usia BK sekitar 22 tahun dan beliau berusia 35 tahun. Usia yang cukup jauh berbeda.

Saat BK dipenjara di Banceuy dan Sukamiskin Bandung beliau harus meneruskan hidup, beliau pun menerima jahitan baju, membuka warung dan sebagainya. Termasuk saat mereka dibuang ke Ende, Flores bulan Februari 1934-1938 silam, sebelum dibuang kembali ke Bengkulu.

Kehidupan mereka di sana demikian prihatin, namun Inggit tetap setia menemani BK termasuk saat BK kritis karena malaria.

Inggit terus setia termasuk saat di Bengkulu BK menikahi Fatmawati. Inggit pun minta dicerai tanggal 29 Februari 1942. Inggit pun kembali ke rumah ini, sendiri, dan meneruskan kesibukannya membuat bedak dan jamu.

SIAPA INGGIT?
Para Pembaca INDONEWS Yth,
Para RELAWAN JOKOWI SE-DUNIA Yth,

Saat masih remaja, Inggit adalah kembang desa di kampungnya. Banyak lelaki yang berupaya mendekat untuk sekadar bisa mencuri perhatiannya. Ia terlahir dengan nama Garnasih saja. Garnasih merupakan singkatan dari kesatuan kata Hegar Asih, dimana Hegar berarti segar menghidupkan dan Asih berarti kasih sayang.

Kata Inggit yang kemudian menyertai di depan namanya berasal dari jumlah uang seringgit. Diceritakan bahwa Garnasih remaja putri nan menawan para laki-laki. Ia adalah gadis tercantik di antara teman-temannya. Di antara mereka beredar kata-kata, “Mendapatkan senyuman dari Garnasih ibarat mendapat uang seringgit.” Banyak pemuda yang menaruh kasih padanya. Rasa kasih tersebut diberikan dalam bentuk uang yang rata-rata jumlahnya seringgit. Itulah awal muda sebutan Inggit yang kemudian menjadi nama depannya.

Beliau pernah dipersunting oleh Nata Atmaja, seorang patih di Kantor Residen Priangan. Namun, pernikahan ini tidak bertahan lama dan berakhir dengan perceraian. Kemudian, ia menikah lagi dengan Haji Sanusi, seorang pengusaha yang juga aktif di Sarekat Islam. Pernikahan mereka baik-baik saja meskipun tidak bisa juga dibilang bahagia karena ia sering ditinggal suaminya yang terlalu sibuk.

Hingga kemudian datanglah BK yang waktu itu telah mempunyai istri bernama Siti Oetari. Namun, rasa cintanya pada Oetari lebih condong seperti cinta kepada adik. Mereka pun menikah.

Dua bulan sebelum beliau wafat, Ibu Fatmawati diantar Ali Sadikin menemui Inggit, di sana ibu Fatma bersujud dan meminta maaf kepada beliau.

Inggit Garnasih merupakan perempuann Indonesia yang tangguh dan memiliki jasa yang sangat besar untuk pribadi Bung Karno juga kemerdekaan Indonesia, beliau tetap setia sampai akhir usia.

Namun, sumpah sampai saat ini saya belum paham bagaimana kategori ibu negara itu? Selain Ibu Inggit yang sempat menjadi istri BK, bagaimana juga dengan istri-istri Bung Karno lainnya; Siti Oetari (1921-1923), Hartini (1953-1970), Haryati (1953-1966), Kartini Manopo (1959-1968), Ratna Sari Dewi (1962-1970), Yurike Sanger (1964-1968) dan Heldy Jafar (1966-1968). Apakah mereka tidak layak disebut ibu negara?

Apapun kepada almarhumah Ibu Inggit, ibu Fatmawati, ibu Tien, ibu Ainun, Ibu Ani, dan para mantan istri Bung Karno lainnya yang telah menghadap Illahi, teriring doa Al-fatihah untuk kalian semua para PEREMPUAN TANGGUH INDONESIA. Semoga surgalah tempat kalian saat ini berada, Aamiin YRA.

Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu’ anhu wa akrim nuzulahu wa wassi ‘mudkhalahu waghsilhu bilmaa`i wats tsalji wal baradi wa naqqihi minal khathaayaa kamaa naqqaitat tsaubal da arwah khabar min ahlihi wa zaujan khairan min zaujihi wa adkhilhul jannata wa a’idzhu min ‘adzaabil qabri au min’ adzaabin naar”.

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, terima kasihilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnyak, bersihkanlah ia dengan udara, salju dan udara yang sejuk. Bersihkanlah ia dari segala kesalahan, sebagana Engkau telah menyiapkan pakaian putih dari kotoran, dan gantilah rumah di dunia dengan rumah yang lebih baik di akhirat serta gantilah-rumah di dunia dengan keluarga yang lebih baik, dan pasangan di dunia dengan yang lebih baik. Masukkanlah ia ke surga-Mu dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka.

JOKOWI TELAH MENANG DIATAS 53%, RELAWAN JANGAN TIDUR: Holong Mangalap Holong, Kasih Berbagi Kasih; Wassalamualaikum wrwb, Mohon maaf lahir bathin; . #Waspada Kebangkitan Orde Baru#, — Arief P. Suwendi – Ketum PERI – Persatuan Relawan Indonesia, Penasehat Media Ummat & Indonews bidang Media – Event Organizer dan Sekjend DPD GMPK Kab. Bogor)

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook