Terungkap, Pelaku Pelecehan Seksual Remaja Disabilitas Ternyata Oknum Pegawai Dinsos Jabar

Ilustrasi (istimewa)

CIMAHI, INDONEWS,– Terungkap sudah, pelaku pelecehan seksual terhadap remaja disabilitas ternyata oknum pegawai Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Jawa Barat.
Hal itu diakui Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dinsos Jabar, Barnas Adjidin. Ia menyebutkan pelaku pelecehan seksual terhadap anak penyandang disabilitas dibawah umur adalah oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Dinsos.
Barnas juga mengungkapkan, korban berinisial SW yang masih berusia 15 tahun merupakan penyandang disabilitas tunarungu dan tunawicara yang tengah mengikuti pelatihan di BRSPD. Sementara pelaku berinisial SR (50 tahun), merupakan Widyaiswara Madya yang diberikan tugas menjadi instruktur untuk mengajar pada Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas (BRSPD) pada Dinsos Jabar.
“Kami baru mengetahui adanya informasi kejadian memalukan tersebut pada Jumat (14/6) sore. Kami langsung melaporkan kepada pimpinan sang oknum untuk ditindaklanjuti lebih jauh,” katanya, Rabu (19/6/2019).
Dia menegaskan, pelaku pelecehan seksual itu tidak menutup kemungkinan merupakan ASN di lingkungan Dinsos Jabar.
Pihaknya juga sudah meminta klarifikasi terhadap pelaku terkait adanya kasus dugaan pelecehan terhadap korban SW. Bahkan, pelaku sudah membuat pengakuan dan pembenaran dalam surat pernyataan.
”Kita menyayangkan kenapa sampai terjadi. Kejadian ini tentunya sudah memalukan Dinas Sosial yang selama ini bekerja keras menjaga citra. Namun, dengan kelakuan oknum ini, rusak sudah citra Dinsos Jabar. Saya secara pribadi dan kedinasan geram dengan kejadian ini,” ujarnya.
Barnas menilai, pelaku pelecehan seksual terhadap anak berkebutuhan khusus laik diberikan sanksi berat. Sebab, kelakuan bejat itu tidak pantas dilakukan. Terlebih oleh seorang pekerja sosial yang nota bene harus melindungi klainnya.
”Kejadian ini sudah dilaporkan kepada Badan Kepegawaian Daerah dan Inspektorat Provinsi Jawa Barat. Bahkan Kemensos pun sudah tau,” terangnya.
Tidak hanya itu, pihaknya juga sudah menyerahkan status hukumnya kepada pihak kepolisian. Dia juga menegaskan jika sanksi pasti akan diterima oleh pelaku.
”Masalah sanksi tentu ada aturan. Tapi kita juga tidak akan meminta penghentian proses hukumnya termasuk yang ditangani pihak kepolisian. Apa yang mau dibela dari prilakunya. Kita malu,” tegasnya.
Sementara terhadap korban, kata Barnas, pihaknya menegaskan akan tetap bertanggung jawab. Pihaknya akan tetap memberikan perlindungan terhadap korban dan keluarganya. Diberitakan sebelumnya, pelecehan terjadi bermula saat korban mengikuti pelatihan keterampilan di BRSPD Dinsos Jabar.
Kecurigaan ibu asuh korban dimulai ketika adanya perhatian lebih yang diberikan dari SR terhadap warga Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat.
Pasalnya, dibandingkan yang lain, korban ini paling sering dicari oleh SR. Bahkan, korban pernah dibelikan jam tangan dan datang langsung ke rumahnya untuk memberikannya secara langsung.
Kecurigaan semakin menjadi setelah korban menceritakan kejadian pencabulan yang dialami putri angkatnya. Apalagi ditemukan percakapan lewat pesan singkat dari pelaku. Kemudian, pelaku pun akhirnya mau menceritakan kejadian itu. []

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook