Sistem PPDB Bentuk Zonasi Harus Dievaluasi

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto. (foto; Ist)

KOTA BOGOR, INDONEWS,– Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPBD) Online dalam bentuk zonasi di Kota Bogor, Jawa Barat diminta dievaluasi. Hal itu dikatakan Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto.
“Kami meminta sistem PPBD online bentuk zonasi ini dievaluasi. Pasalanya, sistem PPDB yang kini diterapkan pemerintah pusat dalam hal ini Menteri Pendidikan dianggap terlalu ambisius. Tujuannya baik dan ideal. Tapi apakah mungkin, apakah ideal untuk membuat kualitas pendidikan ini sama,” ujar Bima usai menghadiri musrembang RPJMD di Botani Square,belum lama ini.
Permintaan evaluasi, katanya, berkaitan dengan adanya laporan kecenderungan manipulasi kartu keluarga.
“Laporan itu sedang kami dalami. Saya perintahkan disdukcapil, camat, lurah, disdik, untuk mendalami ini. Satu dua hari ini saya mendalami betul laporan yang saya terima.Ini ada ruang manipulasi adminsitrasi,” imbuhnya.
Selain itu, tambah Bima, alasan kedua PPDB online sistem zonasi harus dievaluasi berkaitan dengan infrastruktur yang belum merata, sehingga menurutnya tidak seimbang.
“Dengan alas an itu, menurut saya ini harus dievaluasi. Menimbulkan kekacauan. Ya karena secara sistem belum siap. Pertanyaan mendasar adalah, ya apakah memang kualitas pendidikan itu bisa disamakan secara rata semuanya. Menurut saya ini harus dievaluasi. Menimbulkan kekacauan ya karena secara sistem belum siap. Harusnya tidak seperti ini,” tegas Bima.
Sementara itu, PPDB Online di tingkat SMA/SMK di Kota Bogor telah dimulai sejak Senin (17/06/2019). Antrean pendaftar terpantau panjang di hari pertama pendaftaran online itu. Bahkan di sekolah tersebut ada beberapa orang tua murid yang rela antre sejak dini hari.
Humas SMAN 1 Kota Bogor, Yusuf Sulaiman menyebutkan, terjadinya antrean panjang lantaran adanya kesalahan pahaman informasi soal PPBD online.
“Ada kabar yang daftar duluan lebih diprioritaskan, sehingga berguling-guling, padahal informasi itu tidak benar,” katanya kepada wartawan.
Yusuf juga mengaku tak menyangka akan terjadi antrean panjang. Pasalnya, jika melihat tahun sebelumnya, pada hari pertama pendaftaran cenderung sepi.
“Tahun sebelumnya, keramaian terjadi di pertengahan, tapi kali ini sudah ramai di hari pertama. Tahun lalu hari pertama itu sepi, paling 10 sampai 15 orang, mungkin itu juga karena ada isu siapa yang daftar lebih dulu itu yang diutamakan, padahal tidak, tadi saya juga sudah jelaskan,” katanya. [Wawan Kurniawan]

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook