Tasini, Pengganti Kantong Plastik yang Ramah Lingkungan

SERPONG, INDONEWS,– Sejak pertama kali dibuat pada pertengahan abad ke-19, keberadaan kantong plastik tak bisa dipisahkan dengan kehidupan manusia. Mulai dari membungkus makanan, sayuran, pakaian, dan berbagai belanjaan di pasar atau mal plastik selalu ada.
Namun demikian, kantong plastik juga menimbulkan dampak negatif dan mengancam kesehatan manusia. Selain sampah plasti berserakan di mana, plastik juga merupakan jenis sampah yang sulit hancur.
Tak pelak, kantong plastik membuat persoalan serius yang mesti ditangani serius juga.Sseperti yang dilakukan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Pemilik gerai Alfamart dan Alfamidi ini mulai menjual tas-tas pengganti kantong plastik untuk membungkus belanjaan konsumen seperti yang diluncurkan Kamis 11 Juli 2019.
Communication General Manager Alfamart Nur Rachman, menuturkan, kantong penggati plastic yang dinamai Tasini merupakan tas lipat hasil daur ulang sampah botol plastik. Setiap satu Tasini terbuat dari dari dua botol plastik yang dihancurkan lalu menjadi benang-benang halus. Benang itulah yang dijadikan bahan dasar membuat Tasini.
“Kita kerja sama dengan yayasan, kita rancang desainnya yang ditawarkan mereka sebagai alternatif tas belanja konsumen. Harganya Rp 39.900 per tas,” kata Nur Rachman di Kantor Pusat Alfamart, Serpong, Banten, Kamis (11/7).
Tasini, produk tas lipat Alfamart pengganti kantong plastik. Foto: Ema Fitriyani/kumparan
Tasini merupakan ide dari organisasi lingkungan yang juga perusahaan sosial bernama Making Oceans Plastic Free yang ada di Indonesia dan Jerman, digagas oleh 4 orang sahabat. Adapun bentuk tas lipatnya seperti gantungan kunci berbentuk berbagai binatang laut mulai dari gurita, kura-kura, dan lumba-lumba.
Nur mengatakan harganya lumayan mahal karena memang produksinya tidak murah. Meski harganya setara minyak goreng 4 liter, tapi kegunaannya tahan lama ketimbang kantong plastik yang dikenakan biaya Rp 200 per lembar.
Tapi tas lipat Tasini hanya berupa alternatif saja yang baru terdapat di Jabodetabek. Pembeli bisa memilih berbagai tas lipat pengganti kantong plastik lain yang disediakan gerai dengan harga jauh lebih murah, yakni Rp 3.500 per lembar. Nur mengatakan perusahaan tak menargetkan penjualan dari Tasini, tapi kalau yang membeli banyak, berarti dianggap pengalihan kantong plastik berhasil.
“Ini bisa jadi pilihan pembeli. Tujuannya untuk mengurangi sampah plastik,” kata dia.
Selain membuat tas-tas pengganti kantong plastik, perusahaan tak lagi menggratiskan wadah praktis ini setiap pembeli datang. Sejak Maret 2019, pembeli di Alfamart dan Alfamidi kena Rp 200 per lembar kantong plastik.

Harga kantong plastik ini bisa berubah menjadi Rp 500 per lembarnya jika pemerintah jadi menerbitkan aturan cukai kantong plastik.
“Itu artinya cukai yang dibebankan ke pelanggan nanti kita akan tinjau, berapa yang harus dibayar konsumen. Kalau dari arahan kementerian itu kemungkinan nilai jualnya Rp 450 sampai Rp 500 per lembar. Artinya ada Rp 200 untuk cukai, Rp 200 lagi buat biaya produksi plastik, sisanya buat biaya distribusi. Maksimum (Alfamart jual) Rp 500 per lembar,” katanya.
Nur Rachman mengatakan, dari program Kantong Plastik Tidak Gratis (KPTG) ini, ada penurunan konsumsi plastik ke pembeli yang cukup signifikan. Pada periode Maret-Juni 2019, rata-rata pemakaian kantong plastik per toko Alfamart turun hingga 35 persen dibandingkan periode yang sama di tahun lalu.
Sepanjang 2018, konsumsi plastik Alfmarat mencapai 1,23 juta kantong plastik dengan rata-rata per bulannya mencapai 103 ribu lembar atau sekitar 7.622 lembar per gerai. Meski begitu, pengunaan kantong plastik 0 persen tidak mungkin bisa dilakukan perusahaan dalam waktu dekat, tapi bertahap.
“Jika pada tahun 2018 rata-rata tiap toko mengeluarkan 7.600 lembar kantong plastik, maka periode Maret-Juni (tahun ini) bisa ditekan hingga 4.900 per lembar saja,” ucap Nur Rachman. [Ricky Munir E]

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook