Administrasi di Al-Hidayah Amburadul

Surat audensi yang dilayangkan LSM GMBI kepada Yayasan Al-Hidayah, Cibinong

BOGOR, INDONEWS,– Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Hal itu yang dialami Aditia, salah satu siswa di Yayasan Al-Hidayah. Pasalnya, Aditia dikeluarkan pihak Yayasan Al-Hidayah sekaligus ijazahnya ditahan.

Bahkan, pil pahit juga harus ditelan Aditia lantaran dana bantuan pemerintah melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP) tak jelas rimbanya.

Kepala MTs Yayasan Al-Hidayah, Syahril saat dikonfirmasi, Rabu (22/8/2019) beralasan, berdasarkan keterangan pihak Tata Usaha Al-Hidayah, bahwa ada saat pengambilan dana KIP, orangtua Aditia tidak datang.

“Dan TU bilang uang KIP Aditia dibayarkan untuk kekurangan pada saat ujian. Saya cari berkasnya, TU juga lagi nyari,” jelas Syahril yang saat dikonfirmasi sebelumnya sempat menggebrak meja.

Administrasi Amburadul

Ironis memang, administrasi di Yayasan Al-Hidayah dianggap ambruladul, dengan fakta, bukti transaksi di sekolah tidak ada, bahkan rekening Aditiya pun disinyalir raib sehingga standar operasional prosedur (SOP) dilanggar oleh Yayasan Al-Hidayah. “Rekeningnya sedang saya cari. Saya hanya lihat tulisan dari TU, bukan rekening,” tutur Syahril.

Sementara staf guru SMU di yayasan tersebut saat dikonfirmasi mengaku bahwa Aditia tidak dipecat atau dikeluarkan dari sekolah. “Aditia tidak dipecat, masih siswa kami. Jadi bukan tidak diterima lagi di sekolah, juga bukan karena biaya, tapi Aditia nya tidak masuk-masuk sekolah,” ungkap salah seorang staf di SMU tersebut.

Ditanya apakah Aditia ini penerima KIP, staf TU perempuan tersebut mengaku tidak tahu karena yang lebih tahu adalah Ujang, staf lainnya.

Ditempat terpisah, Aditia Saputra (19 tahun) saat dikonfirmasi mengaku tidak pernah mendapatkan surat dari pihak sekolah terkait tidak masuknya ke sekolah. “Sekolah bilang saya enggak masuk selama setahun, padahal saya hanya 6 bulan gak masuk, ibu saya sakit. Guru pun gak pernah datang ke rumah saya. Kemarin-kemarin saya disuruh masuk lagi ke sekolah. Tapi sebelumnya saya tidak boleh masuk,” ujarnya.

Adit mengaku saat itu dirinya tidak diperbolehkan masuk ke kelas, bahkan hingga ibunya datang ke sekolah. “Padahal banyak siswa yang bolos sekolah, nongkrong-nongkrong di warung, tapi gak tahu kenapa kok kayaknya saya saja yang ditekan. Saya gak masuk sekolah juga karena ngurus ibu yang sakit,” ungkap dia.

Adit juga mengaku mencairkan dana KIP ketika masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Keluas 2 SMP hanya diminta data-datanya tapi tidak ada kabar selanjutnya, dan KIP tidak dicairkan sekolah. “Tahun 2016-2017 saya tidak mendapatkan uang KIP, di SMU juga saya tidak mendapatkan,” pungkasnya.

Sebelumnya, setelah lulus di jenjang SMP, Aditia melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA di Yayasan tersebut juga hingga kelas 11. Pada tahun ini, ia dikeluarkan dari sekolah tanpa ada surat keterangan resmi juga tanpa alasan jelas mengapa dia dikeluarkan. Tak pelak, persoalan ini pun menjadi sorotan.

Pihak Yayasan sebelumnya menyatakan bahwa dana KIP Aditia tidak cair. Sedangkan berdasarkan data di Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bogor, pada tahun 2016/2017 KIP milik Aditia cair.

“Tahun 2016-2017 di data kami KIP anak tersebut cair. Setahun Rp.750.000, per semester berarti dibagi dua. Otomatis ini sudah masuk ke rekening,” kata Miftachul Huda, staf Kemenag Kab. Bogor sat ditemui Indonews, Senin (19/8/2019).

Lantas, kemana larinya dana KIP siswa tersebut? Dalam hal ini, Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor diminta segera turun tangan menindaklanjuti persoalan ini.

“Kami sudah berusaha mengkonfirmasi ke yayasan, namun belum juga mendapat titik temu, bahkan kepala MTs Yayasan Al-Hidayah malah emosian dengan menggebrak meja saat ditanya. Maka, kami minta Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor turun tangan menindaklanjutinya,” kata salah seorang anggota LSM GMBI Edward Sibarani. (Bon)

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook