Nenek Saeni Pertaruhkan Nyawa di Gubuk Reyot

Owner Sahabat Kita Indonesia (SKI) Kota Bogor, Diky saat melihat kondisi rumah Nenek Saeni yang ambruk

BOGOR, INDONEWS,– Masih ada saja warga Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang tinggal digubuk tidak layak huni. Seperti nenek Saeni (60), ia harus mempertaruhkan nyawa lantaran tinggal di sebuah gubuk reyot berukuran 5 x 6 meter di Kampung Leuweng Gede, RT04/03, Desa Tenjo, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor.

Melihat kondisi itu, owner Sahabat Kita Indonesia (SKI) Kota Bogor, Diky, merasa iba dan mengunjungi Nenek Saeni, Selasa (17/9/2019).

“Kami prihatin atas kondisi ini. Nenek Saeni tinggal dan tidur di sebuah ruangan rumah tak layak huni bersama satu anaknya. Meski ditakuti rasa cemas, namun tidak ada pilihan bagi Nenek Saeni selain bertahan hidup di rumah yang nyaris ambruk itu,” ungkap Diky.

Dijelaskan, sudah tiga bulan rumah bagian belakang Nenek Saeni ambruk akibat tiang penyangga tak kuat lagi menahan beban atap genteng.

“Nenek lima anak ini sehari-hari jadi petani padi milik warga sekitar. Semenjak pisah (cerai) dengan suaminya 10 tahun lalu, kini Nenek Saeni hidup bersama anak keempatnya,” pungkasnya.

Sementara anak keempat Nenek Saeni, Ujang (25 tahun) menuturkan bahwa ia dan sang ibu tidak bisa memperbaiki rumah yang nyaris ambruk lantaran himpitan ekonomi.

“Untuk makan pun kami terkadang susah. Ibu saya buruh tani. Ketiga kakak saya sudah berumah tangga. Dan yang paling bontot kerja di Jakarta. Jadi kami tidak bisa mengandalkan mereka,” tutur Ujang, lirih.

Ujang sendiri bekerja sebagai tukang pikul di Jakarta. Upah yang ia dapat hanya cukup untuk menafkahi ibunya. Terkadang, Ujang sendiri harus menjual beras dari penghasilian buruh tani. Ujang pun merasa was-was, melihat kondisi rumahnya. Dia dikhawatirkan rumah ambruk dan menimpa ibunya.

“Selain ambruk bagian belakang, setiap sudut sudah mengalami kropos, terutama pada tiang penyangga. Dapur dan ruangan tengah sudah ambruk, tersisa hanya satu kamar, Ibu saya tidur di kamar tengah,” tambah Ujang.

Ujang mengatakan, untuk mandi atau keperluan lain, ia numpang di sumur tetangga. Apalagi, setelah rumahnya ambruk tiga bulan lalu, ia mengaku jarang tidur di rumah.

“Saya ingin ngebahagian ibu saya, tapi boro-boro buat bangun rumah, untuk makan saja saya susah. Terkadang saya suka tidur di pos kamling,” pungkas Ujang.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Bogor bisa memberikan bantuan baik dana tunai atau melalui bantuan rumah tidak layak huni untuk memperbaiki rumahnya itu. (Wawan Kurniawan)

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook