Ironi Kabupaten Bogor: Masalah Sampah Hingga Banyak Desa Tertinggal

BOGOR, INDONEWS,– Ironis, Kabupaten Bogor yang memiliki Pendapatan Asli Daerah (PAD) tertinggi di Jawa Barat ternyata belum bisa maksimal membawa daerahnya lebih baik. Sebab, masih banyak desa tertinggal di Bumi Tegar Beriman ini.

Hal tersebut pun dibenarkan Bupati Bogor Ade Yasin. Dia mengakui masih ada desa tertinggal di kawasannya meski Kabupaten Bogor adalah kabupaten di Jawa Barat dengan PAD.

Dilansir dari situs Kabupaten Bogor, Selasa (8/10/2019), Anggaran Belanja Pendapatan Daerah (APBD) Kabupaten Bogor Tahun 2019 sebesar Rp 6.401.085.697.000,00.

Sedangkan dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bogor, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bogor tahun 2018 mencapai Rp 2.794.660.740.152,00. PAD berasal dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain.

Bila dibandingkan dengan 26 kabupaten dan kota lainnya di kawasan Jawa Barat, PAD Kabupaten Bogor memang paling tinggi. Ini terlihat dari data yang disajikan dalam ‘Statistik Keuangan Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten Kota di Provinsi Jawa Barat 2018’ dari BPS.

Namun demikian, masih banyak desa tertinggal di Kabupaten Bogor. Bupati Bogor Ade Yasin sendiri pada Agustus lalu menyatakan ada 45 desa di Kabupaten Bogor yang masih berstatus desa tertinggal. Ade sendiri menjabat sejak Desember tahun lalu.

“Kabupaten Bogor sangat luas tapi belum tersentuh banyak,” kata Ade Yasin di acara peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana Tingkat Kabupaten Bogor 2019, di Sekolah Daar El Salam, Bojong Kulur, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (8/10/2019).

Pernyataan itu rupanya ia tujukan pada pemerintah Provinsi Jawa Barat. “Iya, wilayah Kabupaten Bogor begitu luas, tapi luput dari perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Sebab, bantuan untuk Kabupaten Bogor, tidak pernah meningkat,” tutur Ade.

Ade juga mengaku banyak persoalan di Kabupaten Bogor. Mulai dari penanganan bencana, pencemaran lingkungan, hingga pembangunan yang belum merata.

Pencemaran lingkungan yang disinggung Ade Yasin salah satunya soal sampah. Selain itu, pencemaran di sungai, termasuk Sungai Cileungsi, yang airnya menghitam dan menimbulkan bau menyengat. Dia menyebut butuh bantuan semua pihak untuk mengatasi pencemaran sungai.

Menurut Ade Yasin, persoalan pencemaran sungai bisa diselesaikan dengan menindak tegas industri yang membuang limbah ke sungai. Selain itu, aksi bersih-bersih dan penyadaran masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai harus masif dilakukan. Namun, dia mengatakan, untuk melakukan itu, butuh kerja sama dan bantuan semua pihak, termasuk dari Pemprov Jawa Barat, dan wilayah yang berbatasan langsung dengan Bogor, yakni DKI Jakarta, juga pemerintah pusat.

“Terus terang saja, masalah lingkungan ini terlalu banyak birokrasi, terlalu panjang rentangnya,” ucap Ade Yasin.

“Tadi saya tanya, ternyata sungai ini juga tidak semudah ketika kita ingin membersihkan pekarangan. Aturan ini, aturan itu, ini tanggung jawab BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) dan sebagainya. Kapan kita bebersih kalau semuanya hanya urusan birokrasi yang selalu menghambat kita. Jadi bagaimana caranya supaya birokrasinya tidak kita tabrak tapi bisa kita lakukan kegiatan-kegiatan,” sambungnya. (Bon/Red)

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook