Pungli Pengadaan Bangku Sekolah di SDN 4 Tarikolot Janggal

K3S Citeureup, Nani

BOGOR, INDONEWS,– K3S Citeureup, Nani mengaku tidak mengetahui adanya pungutan liar alias pungli di SDN Tarikolot 4, Kp. Bojong Unduk, Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di mana salah satu orangtua siswa yang meminta tak disebutkan namanya ‘curhat’ soal beban dari pungutan tersebut.

Nani yang juga kepala SDN 03 Citeureup enggan berkomentar banyak karena tidak mengetahui adanya berita pungli di Sdn Tarikolot 4.

“Saya sebagai K3S bukannya tidak mau menanggapi, tetapi berita itu belum nyampe ke saya. Kalau soal adanya penambahan bangku sekolah, itukan kiriman pemerintah,” ujarnya, Selasa (5/11/2019).

Dikatakan, kaitan berita tersebut biasanya dikonfimrasi juga ke pihak UPT atau pengawas. “Saya bukannya tidak mau menjawab beberapa pertanyaan wartawan, tapi informasi SDN Tarikolot 4 ini belum sampai ke saya. Mungkin wartawan ke UPT atau pengawas dulu ya,” tutur Nani.

Dari pernyataan K3S tersebut, dapat digarisbawahi bahwa poin adanya pungutan untuk bangku atau kursi sekolah merupakan bantuan dari pemerintah. Sehingga, pungutan yang dilakukan sekolah dengan dalih untuk pengadaan bangku sangat janggal.

Pungutan biaya untuk penambahan bangku dilakukan dengan menyertakan amplop yang disediakan pihak sekolah kepada orangtua. Sedangkan menurut informasi dari orangtua murid, rata-rata mereka menyerahkan uang kisaran Rp10.000, dan lebih.

Diberitakan sebelumnya, SDN Tarikolot 4 melakukan pungutan biaya pengecatan ruang kelas dan biaya penggantian sampul raport dipungut hingga mencapai Rp50.000 per murid. Dan biaya kegiatan kemping sekolah yaitu sebesar Rp40.0000 untuk murid yang ikut.

Sementara saat dikonfirmasi wartawan di ruang kerjanya beberapa waktu lalu, Kepala SDN Tarikolot 4, M. Rokib, S.Pd membenarkan adanya pungutan tersebut.

“Semua pungutan yang ada di sekolah diserahkan kepada komite, dan melalui persetujuan komite. Memang ada BOS, tapi itu tidak terkaper,” katanya.

Diakui, soal pergantian sampul raport, sekolah sudah memangil orangtua dan mereka setuju untuk pergantian ini. “Dan yang menyampaikan program saya semua komite. Yang bicara kepada orangtua adalah komite. Dan mereka setuju,” ungkapnya, seolah mengambinghitamkan komite.

Sebagai catatan, berdasarkan keterangan salah seorang guru, SDN Tarikolot 4 memiliki 500 orang siswa lebih. Ia pun enggan berkomentar banyak soal adanya pungutan. Meski begitu, sang guru membenarkan, di SDN Tarikolot ada pungutan kepada orangtua dengan kisaran Rp.10.000 hingga Rp.40.000. (Ris/Red)

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook