UMKM Binaan Pemerintah Terbentur Modal

BOGOR, INDONEWS,– Cahaya Ningsih adalah ibu dua anak dan lima orang cucu yang  lahir di Jakarta 8 Juni 1965 lalu. Kini ia menggeluti usaha makanan ringan sebagai tambahan penghasilan di tengah persaingan bisnis yang saat ini mulai didominasi toko modern, bak jamur di musim hujan. Namun, semua itu tak menghalangi niat berusaha. Ia tetap gigih mengembangkan usahanya itu.

Wanita Lulusan SMA swasta YPIPPI  di Petojo Selatan tahun 85/86 kawasan Jakarta pusat menuturkan, usaha yang diimulai tahun 2014 ini berawal dari sebuah hobi sejak kecil, yakni tentang masak-memasak.

Ibu berpenampilan sederhana ini sempat menjadi juru masak dan membuka usaha cathering untuk pesta pesta pernikahan dan sejenisnya. Kegiatan itu dilakukan di tempat tinggalnya saat ini, yaitu di kawasan RT 01/RW15, Legok Muncang, Kelurahan Cipaku, Bogor Selatan, Kota Bogor.

Namun sayang usaha cathering Cahaya ini harus gulung tikar akibat faktor usia yang memang sudah tidak muda lagi, serta kalah bersaing dengan cathering modern yang kini mulai mendominasi pasar.

Akhirnya sebuah ide muncul sekitar tahun 2014 untuk memulai usaha baru yang masih di dunia makanan, namun lebih sederhana karena produk kali ini hanya berupa makanan ringan dengan beberapa variatif, diantaranya rempeye, pangsit, telur gabus dan lain-lain.

Produk yang diberi nama “Cahaya Snack” hasil produksi UMKM bernama “Dapur Cahaya” ini telah terdaftar di DINKES P-IRT NO.2063271030867-23 sejak tahun 2017 dan tinggal menunggu sertifikasi Halal yang dikeluarkan Disperindag dan MUI.

Di tempat terpisah, Septian Chandra (30 tahun) anak dari Cahya yang bertugas memasarkan produk ini mengatakan, sejak berkolaborasi dengan pemerintah, ada sedikit kemudahan dalam hal pemasaran karena sering ada undangan untuk memasarkan produk di bazar-bazar yang diadakan pemerintah Kota Bogor

“Selain itu,  ada undangan seminar dan bimtek sering kami ikuti terkait UMKM di Kota Bogor, sehingga menambah wawasan dalam menjalankan dan mengembangkan usaha ini. Namun yang menjadi kendala saat ini adalah keterbatasan alat serta modal untuk mengembangkan usaha ini. Kami harus kecewa jika ada pesanan dengan jumlah banyak yang terpaksa harus kami tolak karena keterbatasan ini,” ujarnya.

Untuk itu, Septian berharap agar pemerintah dapat memperhatikan masalah UMKM seperti.

“Walaupun memang ada program dari pemerintah melalui dinas terkait seperti bantuan berupa hibah baik alat maupun modal, tapi sampai saat ini kami belum pernah mendapatkan,” pungkasnya. (Wawan Kurniawan)

Facebook Comments

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Facebook