Pasien Meninggal, Pelayanan RSUD Leuwiliang Buruk?

RSUD Leuwiliang

BOGOR, INDONEWS,– Salah satu warga Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat mempertanyakan pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Hal tersebut menyeruak setalah salah satu keluarganya meninggal dunia di RSUD Leuwiliang.

“Kami iklhas dengan kepergian salah satu keluarga kami yang bernama Juhana. Namun, ada hal yang menggnjal, karena RSUD Leuwiliang kami anggap memberikan pelayanan buruk, sehingga menjadi salah satu faktor meninggalnya keluarga kami ini,” ungkap salah satu keluarga almarhum Juhana yang meminta tidak disebutkan namanya, Jumat (29/11/2019).

Juhana sempat dirawat selama empat hari di RSUD Leuwiliang. Almarhum masuk RSUD pada Senin, 25 November 2019 hingga dan dan menghembuskan nafas terakhirnya Kamis 28 November 2019 sore.

“Sampai hari ini, masih ada ganjalan, yaitu ketika melihat proses perawatan di RSUD Leuwiliang. Harusnya Juhana tidak dirawat di ruang rawat biasa. Dia seharusnya masuk ruang Intensive Care Unit (ICU) seiring menurunnya fungsi organ-organ vital. Tapi ketika dokter yang menangani tidak merekomendasikan dan ketika ditanyakan ada kabar bahwa ruang ICU penuh, padahal setelah kita cek ternyata masih tersedia ruang ICU dimaksud. Juhana menghembuskan nafas terakhirnya di ruang rawat biasa,” ucapnya dengan nada kesal.

Sementara itu, saat dikonfirmasi, Anggota DPRD Kabupaten Bogor yang berasal dari dapil V, Aan Triana Al Muharom mengaku sangat kaget dan terpukul dengan kabar ini. Aan pun sangat menyesalkan prosedur pelayan yang buruk dari RSUD Leuwiliang.

“Padahal sesuai amanah Undang-Undang, kita terus menggenjot anggaran kesehatan agar memaksimalkan pelayanan terhadap masyarakat yang butuh layanan kesehatan. Bicara pelayanan kesehatan itu harus lihat dari sisi kemanusiaan, jangan bedakan dari status sosialnya. Kalau memang sudah sepentasnya dirawat di ICU, ya harus dirawat di sana, jangan dibeda-bedakan,” ujarnya.

Aan mengaku akan segera berkomunikasi dengan Komisi II untuk melakukan langkah-langkah strategis sehingga kejadian serupa tidak terulang lagi.

“Saya ucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya kepada pihak keluarga pak Juhana, dan kedepan mudah-mudahan kejadian seperti ini bisa diminimalisir jika pelayanan di RSUD Leuwiliang ditingkatkan dan dimaksimalkan. Harus selalu diingat bahwa RSUD dibiayai penuh oleh negara, jangan sampai rakyat sakit malah tidak terlayani maksimal karena alasan yang tidak jelas,” pungkas Aan. (Bon)

Facebook Comments

4 Comments

  1. Dari dulu sampe sekarang tuh rumah sakit masalah pelayanan terus yg jd masalah.. klw ga becus kerja dan melayani masyarakat dg baik mending pada di mutasi deh ke papua sana.. dokter dan perawat nya. Tuman kebiasaan. Biar tau rasa.

  2. Kebetulan lahiran anak pertama disni. Jadi ngerasain emang pelayanannya buruk bnget perewatnya aja judesnya minta ampun maki2 keluarga saya pdhl wajar lah keluarga saya marah orang saya bayar disitu malah pelayanan ga cepet sama sekali pdhl taruhannya nyawa ternyata saya dianggap bpjs pas diblng klw saya bukan bpjs dan bayar normal baru dehh dilayanin

  3. Atu Badariah Fauziah 1 December 2019 at 06:54

    Salah satu keluarga saya kmrn di rawat di RSUD ini selama 5 hr menggukankan jamkesmas…menurut pengakuan nya selama di rawat tidak ada dokter visit sekalipun…dokter hanya memeriksakan ketika di IGD saja…sampai akhirnya memutuskan utk pulang ke rumah dan msh merasakan sakit…dsna hanya perawat saja yg memberikan infusan…pdhl sudah menceritakan ke perawar klo ini msh kerasa sakit tp tidak di tanggapi

  4. Antrian dipendaftaran lama banget,suster perawat nya pada jutek,harus ada sidak oleh anggota DPRD

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook