SiLPA 2019 Lebih Besar dari 2018, Kinerja Kurang Baik di Tahun Pertama Ade Yasin-Iwan Setiawan

Foto: Susilo Utomo

BOGOR, INDONEWS,– SiLPA adalah Sisa Lebih Perhitungan Anggaran, artinya adalah selisih lebih realisasi penerimaan dan penggunaan anggaran selama satu periode anggaran. Bisa dimaknai pula SiLPA adalah sisa anggaran yang tidak terpakai alias tidak terserap dan tidak menghasilkan nilai pembangunan alias gagalnya realisasi program kerja yang sudah tertuang dalam Program Kerja APBD tahun berjalan. Demikian disampaikan aktivis media sosial, Susilo Utomo, Senin (23/12/2019).
“Anggaran Belanja dan Pendapatan Daerah (APBD) Kabupaten Bogor tahun 2019 sekitar Rp 6,2 triliyun dan menjadi sekitar Rp 7,2 triliyun ketika masuknya dana Bantuan Propinsi (Banprop), DAK dari pusat dan sisa anggaran 2018 ini, memang ditetapkan dan direncanakan menjelang pergantian kepala daerah saat itu setelah selesai kontestasi Pilkada Kabupaten Bogor 2018. Tapi saat itu sudah dibentuk tim transisi yang ikut serta dalam menentukan perencanaan program kerja serta plotting anggaran untuk program kerja tahun anggaran 2019,” jelas Utomo.

Akhirnya, kata dia, ketika bupati terpilih Ade Yasin dilantik tanggal 30 Desember 2018, ia langsung bisa melaksanakan beberapa program kerja baru seperti Pancakarsa, The City of Sport and tourisme, serta program lainnya yang tidak ada di program bupati demisioner.

“Jadi lemahnya serapan anggaran tahun 2019 tidak bisa diasumsikan karena ini anggaran milik bupati lama. Tapi memang karena beberapa faktor lah hal ini terjadi,” tutur Utomo.

Faktor utama, tambah dia, lemahnya serapan anggaran karena di tahun 2019 terjadi beberapa pergantian format SKPD, mutasi, rotasi dan promosi di semua struktur pemerintahan, bahkan ada yang di triwulan tiga 2019 sehingga terjadi perlambatan eksekusi karena KPA, PPK dan PPTK yang baru masih harus adaptasi dan mempelajari program kerja di kelembagaan masing-masing.

“Anggaran yang tidak diserap biasanya diakibatkan dari, efisiensi hasil tawaran lelang (disebut silpa positif), gagal lelang (SiLPA negatif), pekerjaan tidakselesai dan putus kontrak, serta pekerjaan tidam selesai tapi masih dalam koridor masa perpanjangan 50 hari dengan denda yang diselesaikan pada tahun anggaran,” terang Utomo.

Melihat kenyataan di lapangan, ucap Utomo, banyaknya masalah pada proyek-proyek Infrastruktur dengan anggaran besar akan menjadi faktor penentu besaran SiLPA di tahun anggaran, artinya banyak SiLPA negatif akibat kegagalan proyek-proyek tersebut yang berimbas pada tidak dirasakan manfaat anggaran oleh masyarakat.

“Padahal APBD dianggarkan adalah sebagai pendorong keberlangsungan pembangunan demi kesejahteraan masyarakat. Jika SiLPA nya besar ini adalah pertanda kegagalan sebuah struktur pemerintahan dalam menjalankan amanahnya,” ujar dia.

“Kita masih ingat demo beberapa aktivis Bogor di akhir tahun 2018 karena saat itu SiLPA terhitung sampai sekitar Rp 700 milyar hingga Bupati saat itu disebut “Neng SiLPA”. Nah jika perbandingannya SiLPA tahun 2018 dengan SiLPA yang akan dihadapi tahun 2019, maka kemungkinan akan lebih besar, dari data yang kami terima per 11 Desember 2019 rata-rata serapan anggaran baru 60% maka target realistis dan ini pun butuh upaya besar dan keseriusan semua pihak hanya mungkin dicapai di angka rata-rata 80%,” jelasnya menambahkan.

Dalam pendekatan ukuran keberhasilan sebuah lembaga pemerintahan, adalah sebesar apa bisa mengejewantahkan program kerja berdasarkan serapan anggaran yang ada berbasis pada kemampuan dalam perencanaan, pengelolaan anggaran dan eksekusi program demi berjalannya pembangunan di berbagai bidang yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Jadi harus diakui dan akan dibuktikan dengan data dan fakta bahwa tahun 2019 ini menjadi tahun pertama penuh dinamika dan diperkirakan menjadi awal kurang baik kinerja Pemerintahan Kabupaten Bogor di bawah Bupati Ade Yasin dan Wakil Bupati Iwan Setiawan dan harus segera dilakukan evaluasi menyeluruh menuju Tahun Anggaran baru 2020,” pungkasnya. (Red)

Facebook Comments

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Facebook