Terawan Klaim Kasus Kematian Akibat DBD Berkurang, Ini Alasannya

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengklaim hingga saat ini jumlah korban meninggal demam berdarah dengue atau DBD terus berkurang. Hal tersebut lantaran sudah ada penambahan tenaga medis di setiap daerah dan alat diagnosis yang memadai.

Dia menjelaskan pihaknya sudah menambah 30 tenaga ahli dan perawat dari TNI, Polri hingga Kemenkes.

“Enggak (mencukupi alat dignosis), tenaga yang kita tambahkan. Begitu yang spesialis terlambat kita melakukan nusantara sehat. Jadi kita tambah spesialis agar di daerah bisa menghindarkan kematian,” kata Terawan di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat (13/3/2020).

Dia juga mengklaim semenjak menurunkan lebih banyak petugas kesehatan di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) kasus meninggal dunia akibat DBD pun berkurang.

“Tapi minggu sudah mulai bekurang bangsal-bangsalnya pasiennya dan ini akan kita lakukan di semua daerah,” ungkap Terawan.

Sebelumnya Pemerintah Kabupaten Sikka, NTT menyatakan kasus DBD di sana merupakan kasus terparah sepanjang sejarah kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah di daerah tersebut.

Pelaksana Tugas (Plt) Kadis Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus mengatakan, KLB DBD sudah pernah terjadi sebanyak empat kali, termasuk yang terjadi pada tahun ini.

Pasien DBD di NTT yang Meninggal Bertambah

Sementara, jumlah pasien DBD di NTT yang meninggal dunia bertambah. Hingga Rabu, 11 Maret 2020  sebanyak 37 orang meninggal dunia.

“Sampai dengan pagi ini, dari seluruh data yang kami kumpulkan di 22 kabupaten/kota terkait DBD, sudah ada 37 orang yang meninggal. Dengan jumlah kasus DBD sejak Januari hingga awal Maret 2020 mencapai 3.109 kasus,” kata Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi NTT David Mandala kepada Antara.

Menurut Petrus telah terjadi penambahan korban yang meninggal akibat DBD jika dibandingkan dengan satu hari sebelumnya, yakni Senin, 9 Maret yang kasus kematian akibat DBD baru mencapai 33 kasus.

Artinya dalam sehari telah terjadi empat kasus kematian dalam sehari di beberapa kabupaten di provinsi berbasis kepulauan itu. Salah satunya adalah di Kabupaten Sikka yang kini menyumbang angka tertinggi untuk kematian.

“Kabupaten penyumbang kasus DBD tertinggi adalah Kabupaten Sikka dengan angka kematian mencapai 14 orang, dan terdapat 1.216 kasus,” tambah dia.

Urutan kedua ditempati oleh Kota Kupang dengan jumlah kasus 462 kasus dengan angka kematian mencapai 5 orang. Sedangkan di posisi ketiga ditempati Kabupaten Alor, dengan 308 kasus dengan jumlah tiga orang. **

sumber:merdeka.com

Facebook Comments

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Facebook