Corona, Senjata Atau Kutukan?

Oleh: Yayong Waryono

Wuhan adalah kota dimana awalnya Virus Corona mewabah dan menyebar ke seluruh dunia. Kota yang dikenal dengan kuliner ekstremnya merupakani tradisi selama ribuan tahun, kini menjadi tertuduh sebagai kota yang dikutuk oleh sebagian netizen yang gemar mencaci. Wuhan bukanlah satu satunya kota yang memiliki kuliner ekstrim, tapi ada banyak kota di belahan dunia lainnya yang juga memiliki kuliner ekstrim termasuk di Indonesia.

Jika itu kutukan, mengapa baru sekarang dikutuk? Kenapa tidak dari dulu, dan kenapa hanya Wuhan? Bukankah kota di negara lain juga ada? Barangkali itu adalah pertanyaan waras dari orang-orang yang masih memiliki hati untuk berpikir positif. Pertanyaan lainnya yang jauh lebih menarik adalah virus Corona, senjata atau kutukan?

Jawaban dari semua pertanyaan tersebut tentu debateble, karena setiap orang punya persepsi dan pola pikir yang berbeda. Mungkin yang berpandangan bahwa Corona adalah senjata biologis mengacu pada perang dagang antara Amerika dan Republik Rakyat Cina (RRC), jika dengan perang konvensional akan memakan biaya sangat besar dan efek hancurnya juga dahsyat bagi keduanya, karena sama-sama memiliki persenjataan yang sangat kuat, maka cara paling efektif dan berbiaya murah adalah senjata biologis.

Asumsi ini tidak salah karena cukup masuk akal, tinggal dilihat secara ekonomi atau finansial lebih diuntungkan atau tidak, misal mata uangnya menjadi tinggi. Dalam dunia IT ada anekdot bahwa virus diciptakan para pembuat anti virus.

Pendapat lain tentang Corona adalah kutukan dikaitkan dengan ayat ayat suci atau istilah kerennya ilmu cocokilogi yang kadang dipaksakan untuk menjadi benar.

Jika kita flashback, sebelum mewabahnya virus Corona, pernah terjadi wabah mematikan lainnya, diantaranya adalah wabah Justinian pada tahun 541 Masehi di Timur Tengah dan sekitarnya yang menewaskan 50 juta orang, Great Plague Of London (wabah besar london) pada tahun 1334 M di Kota Kondon yang menewaskan 100 ribu orang, The Modern Plague (wabah modern) pada tahun 1890 di Tiongkok dan sekitarnya yang menewaskan 12 juta orang, dan wabah lainnya. Bahkan di Indonesia juga pernah terjadi wabah yang sangat mematikan, yaitu flu Spanyol pada tahun 1918 yang menewaskan 1,5 juta penduduk Indonesia, dan wabah Pes pada tahun 1625 M yang menewaskan 1/3 penduduk Banten.

Wabah Corona bukan hanya mengancam perekonomian dunia, tetapi juga menghancurkan psykis manusia, karena menyebabkan ketakutan yang luar biasa, bahkan bisa menjadikan manusia anti sosial karena takut bersentuhan atau berinteraksi. Penyebaran virus yang bisa menyebar melalui udara dan semua benda, membuat semua aktifitas menjadi tidak aman. Virus Corona bisa menempel dalam selembar uang yang bisa berpindah secara estafet ribuan tangan, bisa menempel pada mesin ATM yang disentuh ribuan orang, bisa menempel pada barang barang dipasar, pada gagang pintu, kursi, meja dan lain lain.

Terlepas dari perdebatan bahwa Corona adalah senjata biologis atau kutukan, sangatlah bijak jika itu dikesampingkan untuk menunjukan empaty dan solidaritas kepada para korban. Bagaimanapun juga wabah Corona atau Covid 19 sudah menjadi musibah bagi umat manusia didunia, sehingga diperlukan kekompakan untuk melawan. Dengan solidaritas seluruh masyarakat dunia, semoga musibah Corona segera berlalu sehingga dunia menjadi damai kembali dan kita dapat beeaktifitas secara normal tanpa dihantui rasa takut.

Ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan satu manusiapun didunia ini tanpa melalui ujian. Bersatulah wahai saudaraku. Salam Persaudaraan. ***

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook