Corona, Penguji Iman dan Kebhinekaan

Oleh: Yayong Waryono
Ganasnya wabah Corona sampai hari ini belum menunjukan tanda akan segera berakhir, bahkan tidak ada satupun ahli kesehatan didunia yang mampu memprediksi kapan akan berakhir, karena sudah menyebar secara estafet ke seluruh dunia, baik melalui kontak fisik maupun menempel pada benda yang pernah tersentuh oleh penderita. Dan celakanya, 85% penderita terlihat sehat dan tidak menunjukan gejala klinis seperti flu, batuk dan demam tinggi, sehingga kita semua tidak menyadari sudah terpapar yang tanpa sadar ikut menyebarkan.

Berdasarkan data terbaru yang diupdate oleh Worldometer, per hari ini menunjukan angka 378.859 kasus diseluruh dunia, 16.514 diantaranya tidak dapat diselamatan atau meninggal dunia, dan 12.062 dalam kondisi yang sangat kritis.

Tiongkok sebagai negara awal penyebaran, melakukan langkah preventif sangat ketat, mengunci (lockdown) beberapa kota dan mewajibkan menjaga jarak (sosial distancing) kepada seluruh warganya. Hasilnya Tiongkok sukses menekan laju penyebaran Corona. Langkah Tiongkok banyak ditiru negara lain, termasuk Palestina dan Israel yang kompak melawan kegansan Virus Corona. Mereka sadar bahwa virus Corona hanya bisa dilawan dengan cara bekerja sama dengan melepas ego perjuangan masing masing.

Keganasan virus Corona sejatinya menjadi penguji iman dan kebhinekaan bagi umat manusia, karena virus yang sangat mematikan ini tidak memiliki mata, hati apalagi iman, sehingga bisa menyerang siapa saja, baik yang soleh maupun yang durjana. Bahkan seorang Presiden yang hidupnya sangat terproteksi, dan para tenaga medis yang sangat paham tentang kesehatan dan mengenal berbagai macam penyakit tak luput dari serangan Corona.

Sejatinya orang beriman itu berakal sehat dan memiliki sisi kemanusiaan yang tinggi, memahami perbedaan sebagai suatu rahmat. Orang beriman akan menghindari badai dan berusaha menyelamatkan yang lain, bukan dengan sengaja menerjang dan mengajak yang lain untuk celaka, Itu adalah kekonyolan atas nama iman.

Jika seluruh masyarakat Indonesia bersatu padu melawan wabah Corona, niscaya bencana Corona akan segera berlalu dan menumbuhkan persatuan yang kuat, namun jika tetap mempertahankan ego, maka bencana ekonomi dan kelaparan sudah ada didepan mata, efek dari wabah Corona.

“Ingatlah bahwa para pahlawan yang berjuang melawan wabah bencana penjajahan, sukses memerdekakan bangsa kita karena bersatu padu dengan melepaskan ego dan identitas diri.

Salam Persaudaraan

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook