Terkait Galian Tanah di Sukasari, Polres Bogor Akan Menindaklanjuti

Truk yang diduga digunakan perusahaan untuk mengangkut hasil galian tanah merah di Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

BOGOR, INDONEWS – Terkait adanya galian tanah merah di Desa Sukasari, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor yang diduga tanpa izin atau illegal, Kapolsek Rumpin Asep Supriadi menyebutkan aktivitas tersebut agar ditutup saja.

“Tutup aja mas. Kita sudah sampaikan ke Polres Bogor. Kita lagi ngurus pasien Covid-19,” tegasnya saat dihubungi Indonews, Sabtu (11/4/2020) melalui pesan singkat.

Sementara Humas Polres Bogor, AKP Ita yang juga dikonfirmasi melaui telepon gengamnya Minggu (12/4/2020) mengatakan, secara resmi belum ada laporan terkait aktivitas galian tanah merah di Sukasari ke pihak Polres Bogor.

“Tapa kami akan tindaklanjutin hal tersebut. Mangga masyarakat segera membuat laporan ke bagian Tipiter, dan hal ini juga sudah saya tindak lanjutin ke Kasat Reskrim,” ungkap AKP Ita.

Diberitakan sebelumnya, masyarakat Desa Sukasari, Kecamatan Rumpin, mengeluhkan adanya galian tanah merah yang diduga ilegal. Menurut informasi yang dihimpun, produksi perusahaan tersebut mencapai ratusan bahkan ribuan tronton.

BERITA TERKAIT: Warga Rumpin Mendesak Galian Tanah Diduga Ilegal Ditutup

Menurut tokoh masyarakat setempat berinisial S, galian ilegal ini sudah dilaporkan ke pihak polsek agar segera ditutup.

S juga mendesak pejabat terkait, seperti Satpol PP, Pemkab Bogor, termasuk Polres Bogor Barat untuk segera turun tangan meninjau aktivitas galian. Jika melanggar aturan, warga meminta dilakukan penindakan tegas terhadap perusahaan tersebut

“Produksi galian ini mencapai ratusan hingga ribuan tronton. Aktivitas galian membuat masyarakat terdampak abu tanah merah. Kami juga khawatir berdampak pada kesehatan warga. Ini bahaya, terutama warga bisa kena isfa, sesak nafas, batuk-batuk,” ujar S, Sabtu (11/4/2020).

Ia pun mengaku heran mengapa galian tanah merah ilegal ini masih beroperasi, padahal galian C legal (ada izin) sudah banyak menghentikan aktivitasnya ditengah wabah corona virus desease (Covid-19). (rd)

Facebook Comments

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Facebook