Paguyuban Kepala Desa Kecamatan Cariu Tolak Perusahaan Pemasok Sembako Program BSP

BOGOR, INDONEWS — Pelaksanaan program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) sejak tahun 2018 di Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor telah dimulai, yang mana bahan pangan dipasok oleh suplayer, salah satunya  adalah PT. SPS.

Seiring berjalannya waktu, terendus bahwa owner perusahaan tersebut adalah petugas TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan) di Kecamatan Cariu. Informasi ini berkembang setelah ada keluhan dari agen e-Warong dan para Kepala Desa di Kecamatan Cariu, disebabkan pihak agen e-Warong hanya diberi fee gesek mesin EDC sebesar Rp 3.000/ Keluarga Penerima Manfat (KPM).

Lain halnya dengan Kepala Desa yang ketitipan bahan pangan paket sembako BPNT dari suplaiyer di kantor desa, sehingga harus mengeluarkan biaya karena menugaskan linmas agar menjaga paket sembako tersebut selama belum dibagikan kepada KPM di desa tersebut.

Para kepala desa dan perangkat desa pun tidak tahu bahwa paket sembako tersebut adalah milik suplayer yang seharusnya dikirim ke agen e-Warong tempat warga penerima bantuan untuk membeli sembako dengan sistem gesek KKS (Kartu Keluarga Sejahtera) yang bentuknya seperti ATM, tetapi tidak bisa diambil tunai karena harus dibelikan bahan pangan yang telah ditetapkan dalam Pedum BPNT maupun Pedum Bantuan Sembako  yang dikeluarkan oleh Kementerian Sosial RI.

Menurut pernyataan dari 10 kepala desa di Kecamatan Cariu yang tergabung dalam APDESI Kecamatan Cariu atau Paguyuban Kepala Desa yang terdiri dari Desa Cariu, Desa Babakanraden, Desa Sukajadi, Desa Mekarwangi, Desa Karyamekar, Desa Cikutamahi, Desa Kutamekar, Desa Cibatutiga, Desa Tegalpanjang dan Desa Bantarkuning, sepakat bahwa untuk pengadaan sembako program bantuan sosial pangan (BSP) dipasok sendiri oleh warga masyarakat desa dibawah koordinator Gapoktan dan BUMDes, dengan tujuan untuk pemberdayaan masyarakat sesuai dengan potensi yang ada masing-masing desa. Sehingga diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat desa, karena sebagian besar berprofesi sebagai petani, peternak dan berkebun.

Dengan demikian mereka tidak akan kesulitan untuk menjual hasil panen sesuai dengan jumlah, kualitas dan harga.

Omang, Kepala Desa Mekarwangi menyatakan bahwa Desa Mekarwangi adalah daerah pertanian yang akan mampu memasok beras sendiri.

“Kalau hanya untuk memenuhi warga penerima bansos pangan setiap bulan, sehingga para petani tidak kesulitan menjual padi saat musim panen, selama ini kenapa harus beras dari luar masuk ke desa kami,” ungkapnya.

Sebagai kepala desa, ia menunjukkan kepedulian terhadap nasib para petani, sehingga sangat mendukung agar pasokan bahan pokok beras untuk program BSP dari petani didesanya, sehingga benar-benar dirasakan manfaatnya baik oleh KPM maupun bagi warga yang mata pencahariannya sebagai petani.

“Sudah jelas sasaran penjualannya dan rutin setiap bulan. Jadi istilahnya dari kita oleh kita untuk kita. Saya prihatin pada saat musim panen padi mereka susah jualnya, dijual ke tengkulak pun dengan harga murah dan pembayarannya dicicil karena menunggu padi digiling dan berasnya laku terjual oleh tengkulak. Maka saya bersyukur dan mendukung atas inisiatif Paguyuban Kades Kecamatan Cariu yang punya gagasan memberdayakan potensi wilayah desa untuk pelaksanaan program bantuan pangan khususnya di wilayah Kecamatan Cariu,” katanya.

“Hal seperti ini mudah-mudahan menjadi contoh bagi wilayah kecamatan lainya di Kabupaten Bogor untuk menggali potensi SDM dan sumberdaya alam untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal dan stabilitas harga bahan pangan maupun peningkatan penghasilan agen e-warong yang ditunjuk oleh Bank, sehingga tidak terjadi monopoli dari pihak manapun, dengan melibatkan BUMDes sebagai leadership. Diharapkan mampu kerjasama dan usaha bersama dengan masyarakat desa, karena BUMDes adalah hakekatnya milik masyarakat desa,” pungkasnya. (Jaya)

Facebook Comments

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


Facebook