Praktik Mark Up Bansos Marak di Kabupaten Bogor?

BOGOR, INDONEWS – Praktik mark up atau peningkatan harga bantuan sosial (bansos) marak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Seperti pada Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) tambahan untuk keluarga penerima manfaat (KPM) yang diprogramkan pemerintah pusat melalui Bank Mandiri, dimana terdapat banyak kejanggalan sehingga dikeluhkan warga.

BPNT dengan sistem ATM berisikan saldo Rp600 ribu selama tiga bulan, untuk membantu masyarakat mendapatkan bantuan pangan dangan membelanjakannya di warong elektronik gotong royong atau disebut e-warong.

E-Warong  didirikan minimal dua di setiap desa dngan lokasi strategis (gampang terjangkau). Namun, tak sedikit warga yang merasa ada kejanggalan. Salah satunya ATM Mandiri warga justru diminta oknum Ketua RT.

“ATM kami digesek oleh ketua RT. Setelah digesek diberikan struktur yang akan ditukarkan pada sembako yang juga sudah dipaketkan dalam satu kantong plastik,” ucap salah satu warga Desa Curug, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, yang meminta namanya tidak ditulis demi kenayaman, Minggu (12/7/2020).

Dia mengungkapkan, jenis sembako yang diterima berupa beras, kacang, jeruk, telur dengan total harga sebesar Rp519 ribu.

“Tapi kami menduga bansos BPNT tersebut di mark up, karena kualitasnya kurang bagus. Seperti kacang tanah, kualitasnya jelek,” ujar dia.

Persoalan lainnya, masih ada warga yang tidak mendapatkan bantuan apapun. Hal itu dialami salah satu warga RT 1 RW 4 Desa Curug. Ia mengeluh dia tidak mendapat bantuan apapun. Padahal dirinya sangat membutuhkan bantuan untuk meringankan beban ekonomi yang terganggu akibat wabah Virus Corona.

“Saya ini miskin, tapi enggak dapat bantuan apapun. Tapi orang yang punya motor dua justru mendapatkan bantuan. Kalau untuk data saya, sudah diminta oleh RT, tapi tak kunjung ada bansos sampai saat ini,” ungkapnya. (Oloan)

Facebook Comments

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Facebook