Indonesia Bakal Jadi Episentrum Virus Corona di Asia?

JAKARTA, INDONEWS — Sebanyak 88.214 orang di Indonesia positif Virus Corona jenis baru atau SARS-Cov-2. Data per Senin 20 Juli itu telah melampaui China, yang sejak pertama wabah muncul di Wuhan hingga Minggu 19 Juli, mencatat 85.314 kasus COVID-19.

Epidemiolog Universitas Indonesia (UI) Dr Pandu Riono MPH PhD menilai, terus bertambahnya jumlah kasus di Indonesia, salah satunya disebabkan karena kurang disiplinnya masyarakat dalam upaya mencegah penyebaran COVID-19.

“Kita di posisi merah, waspada tinggi, dan semuanya harus memakai masker ke mana pun kita pergi,” ujar Pandu kepada Liputan6.com, Senin (20/7/2020).

Pemakaian masker, menurutnya, memang efektif jika dilakukan rutin dengan cara yang benar. Selain itu, “Masyarakat harus waspada, jangan dibuai, jangan dibohongi. Sekarang kita itu pandeminya sangat tinggi, kita harus takut, jangan pakai istilah-istilah ditentramkan. Masyarakat itu harus siaga dalam kesiapan perang dan dalam kesiapan tinggi.”

Faktor lain yang menyebabkan jumlah kasus COVID-19 di Indonesia masih tinggi adalah karena berkembangnya proses pengujian yang dilakukan.

“Kita bisa menemukan lebih banyak kasus saat ini sehingga kita bisa memahami setiap harinya kasus positif yang ditemukan akan naik terus. Begitu pula yang meninggal juga bisa terus meningkat,” ungkap Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof Amin Soebandrio saat dihubungi Liputan6.com.

Presiden Joko Widodo menargetkan tes Virus Corona yang dilakukan mencapai 30.000 per hari. Melihat positive rate untuk saat ini antara 8% hingga 12% dengan rata-rata 10%, artinya 3.000 kasus diperkirakan muncul setiap harinya.

“Saat ini saja belum mencapai segitu, baru 2.500-an,” kata Amin.

“Kalau kita ikuti, katakanlah selama dua minggu ke depan dikali 3.000 misalnya itu kan sudah 45.000 tambahannya, dari yang sekarang 85.000. Jadi, kita masih tanda petik mengantisipasi dan harus siap menerima kenyataan tambahan kasus sebanyak itu hingga mungkin total 120.000,” imbuhnya.

Meski kasus Virus Corona COVID-19 di Indonesia telah melampaui jumlah di China, Amin menilai hal ini tidak bisa menjadi patokan atau acuan dalam membandingkan angka kasus.

“Bukan berarti kita menyebut bahwa itu tidak bermasalah, tetap saja itu suatu masalah besar buat kita. Tetapi, kita tidak bisa membandingkan apple to apple dengan China, situasinya berbeda. Tapi tetap angka-angka itu harus menjadi cambuk agar kita bisa membenahi seluruh sistem, tak hanya regulator namun juga masyarakat secara keseluruhan,” jelasnya.

Amin juga menegaskan, yang dimaksud dengan pihak masyarakat adalah seluruh lapisan dari bawah hingga atas. Karena melihat kondisi saat ini, banyak masyarakat kelas menengah ke atas yang juga tidak disiplin.

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito membenarkan dua faktor penyebab terus meningkatnya jumlah kasus COVID-19 di Indonesia hingga menyalip China. “Faktornya pasti dua, testing makin banyak otomatis akan meningkatkan jumlah kasus. Kedua, interaksi warga yang makin banyak juga dapat meningkatkan penularan, kasus menjadi naik.”

Meski begitu, ia menyatakan jumlah kasus positif Virus Corona di Indonesia yang telah melampaui China belum menjadi sinyal Indonesia akan jadi episentrum COVID-19 di Asia

“Saya belum melihat sampai di situ. Kasus meningkat iya, karena tesnya meningkat sudah sesuatu yang logis, sudah pasti itu. Belum lagi penularan juga meningkat, oleh karena itu kita perlu evaluasi pembatasan yang terjadi pada aktivitas sosial ekonomi. Supaya tidak terjadi peningkatan penularan ini harus ada keseimbangan.”

Wiku menyatakan, terus melonjaknya jumlah kasus positif COVID-19 ini menunjukkan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) yang dilakukan di sejumlah kota besar di Indonesia tidak berjalan baik. “Menurut saya belum baik PSBB, kalau sudah baik, harusnya kasus terkendali, utamanya perubahan perilaku dan itu harus fokus dan kontribusi semua pihak,” katanya.

Kabupaten/Kota dengan risiko peningkatan kasus Virus Corona tinggi yang berzona merah atau oranye sedang, sambung dia, seharusnya menjadi fokus utama pimpinan daerah untuk dapat mengendalikannya dengan cara memperkuat penerapan protokol kesehatan.

“Eksekusi tetap di kepala daerah. Tim pakar mendorong dengan data, kendali ada di pimpinan daerah dan kami akan monitor terus lewat gugus tugas daerah. Jadi kita diskusikan solusi bagaimana mengendalikan kasusnya agar menjadi lebih baik, utamanya protokol kesehatannya,” Wiku memaparkan.

Untuk menekan angka kasus Virus Corona COVID-9 di Indonesia, Pakar Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Ede Surya Darmawan mengimbau agar pemerintah dan masyarakat konsisten menjalankan semua protokol yang telah dibuat.

“Situasi kita kan polanya sudah ketemu, pola penularan, pola perlindungan diri, semuanya sudah ditemukan. Tinggal bisa enggak kita konsisten menjalankan itu. 3M (Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, Menjaga jarak, dan Memaki masker) itu kan individunya, tapi protokol kesehatan masyarakat di tempat-tempat umum jauh harus lebih ketat dijalankan,” ujarnya.

“Pertama adalah ada pengumuman supaya orang sadar 3M tadi ya, kedua mesti menyiapkan fasilitas 3M tadi, ketiga melakukan desinfektasi tempat-tempat yang biasa disentuh orang. Keempat menjamin orang akan berperilaku aman kalo enggak dikeluarkan dari tempat itu,” Ede memungkasi.

Indonesia sebagai negara dengan populasi terbanyak ke-4 di dunia kini menjadi negara dengan total kasus Virus Corona terbanyak di Asia Tenggara, diikuti Filipina dan Singapura.

Bahkan, akumulasi kasus COVID-19 Indonesia telah menyalip negara yang menjadi episentrum awal pandemi global tersebut, yakni China. Kini, Tiongkok telah melewati puncak kasus pandemi. Berdasarkan laporan pada 17 Juli, penambahan kasus baru di China selama 10 hari terakhir tidak pernah melebihi angka 50, menurut laporan China-briefing.com pada 17 Juli 2020.

Kendati demikian, seperti banyak negara yang telah menekan pandemi, China masih mewaspadai gelombang dan kluster kasus baru.

Sementara bagi Indonesia, upaya untuk menekan laju kasus harian —dengan rata-rata tambahan per-hari melebihi 1.000 kasus— masih belum selesai. Pakar memprediksi, Indonesia akan terus mengalami peningkatan kasus hingga menyentuh 100 ribu, bahkan lebih, selama beberapa pekan ke depan.

Ini salah satunya dipengaruhi kapasitas tes yang meningkat.

“Jadi lebih banyak yang diperiksa. Lebih banyak yang ketahuan positif sekarang. Yang kedua, jumlah laboratorium yang memeriksa lebih banyak, jumlah testingnya setiap hari diharapkan mencapai 30 ribu tes per-hari,” ujar Amin Soebandrio yang juga anggota tim pakar Gugus Tugas Nasional COVID-19, kepada Liputan6.com.

Amin mengambil patokan jika kapasitas tes terus meningkat dan jumlah pasien positif adalah 10 persen tiap harinya, maka ada kemungkinan kasus virus corona di Indonesia bertambah sampai 40 ribu hingga bulan depan.

Melihat kasus di Indonesia saat ini sudah 83 ribu, maka beberapa pekan lagi kasus Virus Corona bisa mencapai 120 ribu. “Spesimen yang dites itu makin naik, sekarang 22 ribu, nanti mendekati 24 ribu,” lanjut Prof. Amin.

“Kalau angka positifnya itu sekitar 10 persen setiap hari, kita bisa dapat memahami kalau jumlah positifnya mencapai 2.000-an. Jadi kalau setiap hari sekitar 2.000-an, maka dalam dua-tiga minggu ke depan kita bisa mendapatkan 30 ribu-40 ribu tambahannya dari sekarang,” jelasnya.

Amin menyebut Indonesia memiliki lebih dari 260 laboratorium untuk melakukan tes Virus Corona, meski ada masalah keterlambatan, seperti dalam pengambilan sampel.

Ia melihat bahwa jumlah pasien meninggal akibat COVID-19 di Indonesia hanya sekitar 10 persen dari pasien meninggal. Angka pasien sembuh corona di Indonesia sudah mencapai 41 ribu, sementara angka kematian 3.957.

Meski demikian, ia berkata agar jangan hanya fokus ke angka nasional. Amin menyebut data harus dilihat di level daerah agar spesifik.

“Yang lebih disarankan kita jangan melihat angka nasional saja, tetapi angka-angka di setiap daerah harus dicermati, karena untuk penanganannya itu enggak bisa pakai angka nasional saja,” jelasnya.

Secara global, jumlah pasien virus corona sudah tembus 14 juta. Sebanyak 7,8 juta sudah sembuh, tetapi negara-negara maju seperti Australia dan Amerika Serikat masih was-was jika ada pelonjakan kasus.

Perkembangan Vaksin di Indonesia

Terkait perkembangan vaksin di Indonesia, tempatnya oleh lembaga Eijkman saat ini sudah mencapai 30% dari keseluruhan proses.

Amin Soebandrio menjelaskan bahwa pihaknya menggunakan protein rekombinan.

“Jadi saat ini kami sudah berhasil mengamplifikasi gen yang diperoleh dari virus yang ada di Indonesia, kemudian gen itu sudah dimasukkan ke dalam suatu vektor, istilah umumnya nanti dipakai sebagai kendaraan bagi gen yang diamplifikasi tadi untuk bisa dimasukkan ke dalam sel mamalia, artinya sel yang berasal dari hewan menyusui,” jelasnya.

Lebih lanjut lagi, ia menjelaskan bahwa setelah itu, proses yang dilakukan adalah sel dalam mamalia mampu menghasilkan sel rekombinan yang ditargetkan. Lantaran gen yang berasal dari virus sudah dimasukkan ke dalam sel mamalia, maka kemudian akan menghasilkan protein rekombinan yang dituju.

Hal itu lah yang nantinya akan menjadi bibit untuk membuat vaksin Virus Corona COVID-19.

“Kemudian nanti bisa dilanjutkan ke proses selanjutnya yaitu uji pada hewan,” lanjutnya lagi.

Terkait percobaan pada manusia, Lembaga Eijkman akan menyerahkan bibit vaksin kepada pihak industri yang kemudian memiliki wewenang untuk melakukan percobaan pada manusia.

Beralih soal vaksin yang baru tiba dari China, Prof. Amin menyatakan bahwa vaksin tersebut masih belum diuji terhadap orang Indonesia.

“Itu kan baru selesai uji klinis fase satu di China, untuk fase dua dan tiga nanti baru mereka akan diuji di Indonesia. Nah, nanti baru bisa kelihatan apakah vaksin itu bisa merangsang respon imun pada manusia, terutama di Indonesia,” ungkapnya.

Sumber: Liputan6

Facebook Comments

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Facebook