Sidang Kasus Iriyanto, Dua Saksi Akui Tidak Tahu Target OTT

BANDUNG, INDONEWS – Sidang atas perkara operasi tangkap tangan (OTT) eks Sekretaris Dinas Pemukiman Kawasan Perumahan dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor, Iriyanto kembali digelar di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Klas I A Bandung, Jumat (4/9/2020).

Agenda sidang kali ini, memasuki tahapan mendengar keterangan saksi kedua dari salah satu anggota Polri, bernama Rama. Ia bertugas di Polres Bogor sebagai anggota unit 1 Satuan Reserse Kriminal. Rama menjadi salah satu tim OTT Iryanto pada 3 Maret 2020. Selain itu, pada OTT juga turut diamankan Faisal Assegaf (FA) yang merupakan salah satu staf di DPKPP.

Sidang berjalan menarik, dimana Rama dalam kesaksiannya mengaku tidak tahu siapa target OTT di DPKPP. Kemudian dalam fakta persidangan, terungkap peranan saksi bertugas mengamankan orang-orang yang diduga melakukan peranan dalam transaksi dugaan suap, yaitu Sony Priadi sebagai pemberi dan juga mengamankan sejumlah dokumen terkait rekomendasi izin RS Cibungbulang dan Hotel Cisarua.

BERITA TERKAIT: PN Bandung Berdalih Internet Error, Iriyanto Ditahan Illegal

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Cibinong, Kabupaten Bogor, Yusie melayangkan pertanyaan, apa peranan saksi Rama dalam OTT yang dilakukan Polres Bogor pada 3 Maret 2020 lalu.

“Saya diberitahukan oleh pimpinan, dalam hal ini Kasat Reskrim Polres Bogor, AKP Benny Cahyadi bahwa ada giat OTT di DPKPP dengan tugas mengamankan semua pihak yang terkait sesuai arahan kasat. Salah satunya saya mengamankan Sony Priyadi. Setelah saya masuk ke ruangan terdakwa, saya melihat bukti-bukti seperti uang pecahan Rp100 ribu 5 ikat dan tas hitam berisi uang Rp70 juta yang setelah operasi diketahui bahwa itu uang pribadi terdakwa dari hasil piutang yang dibayar,” saksi Rama menjawab pertanyaan JPU.

Baca Juga: Kasus OTT Sekdis DPKPP, Iriyanto Bukan Target Operasi?

Selain itu, saksi Rama mengaku dirinya bersama Kasat Reskrim Polres Bogor dan beberapa anggota lainnya masuk ke ruangan Jackson Boy yang merupakan salah satu kasie di DPKPP di lantai yang sama dengan ruangan terdakwa untuk mengambil dokumen terkait RS Cibungbulang dan Hotel Cisarua.

“Setelah mengamankan Sony Priyadi dan menyerahkan kepada anggota polisi lain, saya kembali ke ruangan terdakwa dan diperintahkan oleh kasat untuk ikut serta melakukan pencarian dokumen terkait izin RS Cibungbulang dan Hotel Cisarua di ruangan Jackson Boy bersama kasat dan beberapa anggota lainya. Di ruangan tersebut kita dapatkan dokumen itu. Kita amankan sebagai barang bukti,” ungkapnya.

BAP Berbeda

Sementara itu, penasihat hukum terdakwa Iriyanto dari LBH Bara JP, Dinalara Butarbutar dan anggota Pasaribu serta Stevie mempertanyakan terkait informasi akan dilakukannya OTT di DPKPP.

“Dari BAP saudara ada yang berbeda dalam proses saudara mengetahui informasi terkait kasus ini. Di BAP, saudara menyebutkan mengetahui informasi kasus ini setelah bertemu Fikry Salim dan Sony Priyadi di salah satu ruangan Polres Bogor. Akan tetapi dari keterangan saudara tadi menyebut bahwa saudara mengetahui hal ini dari saksi pelapor Benny Syuhada. Lalu mana yang benar?” tanya Dinalara.

Baca Juga: Pengacara: Ada Skenario Penjebakan dalam Kasus OTT Iriyanto

Lantas saksi menjawab mengetahuinya dari informasi yang didapat dari Benny Syuhada. Dirinya mengaku tidak pernah berbincang terkait hal ini kepada Fikry Salim maupun Sony Priyadi.

“Saya tidak pernah berbincang dengan Fikry dan Sony. Tapi saya tahu dua orang ini hadir di ruangan Tipiter Polres Bogor di waktu yang berbeda. Seingat saya akhir bulan, tapi untuk informasi kasus izin ini saya dapatkan dari Benny Syuhada, rekan saya di Polres Bogor,” ungkap saksi Rama, menjawab pertanyaan Dinalara.

Dinalara kembali mencecar dengan pertanyaan terkait proses OTT, dengan penegasan apakah saksi mendengar disebutnya nama Iriyanto dalam Laporan Informasi (LI) yang dibuat Benny Syuhada.

“Apakah saksi mengetahui nama Iryanto dalam LI yang akan dibuat Benny Syuhada?” tanya Dinalara.

Saksi menjawab bahwa dirinya tidak tahu. “Saya tidak pernah mendengar nama Iryanto,” jawabnya.

Penasihat hokum kemudian melayangkan kembali pertanyaan, mengapa Iryanto dijadikan target OTT. “Apakah sebelum berangkat melakukan OTT saudara diberitahu siapa target dalam operasi ini?” tanya Dina yang merupakan Dosen Fakultas Hukum Universitas Pakuan ini.

Sebelum sidang diskors sementara untuk sholat Jum’at, saksi menjawab bahwa saksi tidak mengetahui siapa target OTT tersebut.

“Saya hanya menjalankan perintah Kasat Reskrim saat itu, AKP Benny Cahyadi yang memerintahkan kami untuk ikut saja ke DPKPP tanpa diberitahu siapa target yang akan diamankan. Untuk masalah target menurut saya hanya kasat yang tahu, dan mungkin kanit kami,” pungkasnya.

Pada sidang sebelumnya, Jumat 28 Agustus 2020, dalam kesaksiannya Penyidik Polres Bogor Beny Syuhada juga menyatakan, sebelum OTT dilakukan, dia sempat berbincang dengan dua tersangka kasus pidana umum berupa penggelapan dokumen dan mendapati keterangan terkait pengurusan izin RS Cibungbulang dan Hotel Cisarua.

“Saya berbincang dengan Fikry Salim pada tanggal 29 Februari 2020 dan mendapati keterangan bahwa dia sedang mengurus izin di DPKPP yang tidak selesai. Padahal sudah menyetorkan uang sejumlah Rp. 200 juta dan diperkuat juga ketika berbincang dengan tersangka lainnya. Sony Priyadi pada tanggal 2 Maret 2020 dan ada keterangan bahwa diduga aliran dana itu masuk ke terdakwa sehingga sebagai anggota Polri yang mengetahui adanya dugaan kasus hukum maka saya buatkan laporan informasi (LI) yang langsung saya setorkan kepada atasan,” ungkap Beny dalam kesaksiannya.

Terkait proses OTT, Beny mengakui tidak tahu siapa target dan kapan OTT akan dilakukan. Pada tanggal 3 Maret 2020, dia mengaku dihubungi untuk ikut serta dalam operasi tersebut di kantor DPKPP, namun tidak tahu siapa target OTT.

“Kalau targetnya siapa dan kapan waktu operasinya saya tidak tahu. Saya hanya sekedar melaporkan saja dan yang memprosesnya atasan saya. Saya dihubungi untuk ikut dalam OTT itu ternyata di kantor DPKPP bersama tim dari Polres Bogor yang dipimpin AKP Benny Cahyadi yang saat itu bertugas sebagai Kasat Reskrim Polres Bogor,” ujar Beny yang statusnya dalam persidangan ini adalah sebagai saksi pelapor.

Sementara itu, penasehat hukum terdakwa dari LBH Bara JP yang diketuai Dinalara Butarbutar didampingi timnya seperti Pasaribu dan Stevie mencecar saksi dengan beberapa pertanyaan, terkait kliennya yang dikaitkan dalam kasus ini.

“Kepada saudara saksi, apakah saudara saksi ketika membuat laporan informasi tersebut yang pada akhirnya terjadilah OTT ini, terus dari mana bisa terdakwa dijadikan target dalam OTT ini, karena dari keterangan tadi, Anda menyatakan bahwa ada indikasi uang mengalir ke terdakwa,” cecar Dinalara.

Beny menjawab, kalau terkait siapa yang akan dijadikan target OTT dirinya tidak tahu prosesnya. “Kalau indikasi aliran dana ke terdakwa saya dapati dari hasil obrolan dengan Fikry dan Sony dengan bukti kuitansi penyerahan uang yang ditandatangani oleh Faisal Assegaf yang katanya diberikan kepada terdakwa,” jawab Beny.

Pengacara pun kembali mempertanyakan dan meminta penegasan kepada saksi, apakah dalam laporan informasi yang dibuat ada nama terdakwa dan dimana bukti permulaan yang bisa mengarahkan kasus ini hingga terdakwa jadi target.

“Sekali lagi saya tanya, tolong dijawab dengan jelas, apakah dalam laporan informasi yang saudara buat menyebut nama Iryanto? Dan bukti permulaan apa yang menjadikan dasar Iryanto bisa dijadikan target?” tanya Dinalara yang juga berprofesi sebagai dosen tetap di Fakultas Hukum Universitas Pakuan, Bogor ini.

“Saya tidak tahu. Terkait target OTT saya hanya menjalankan perintah atasan, kalau dalam LI tidak ada nama Iryanto,” pungkas Beny. (bin)

Facebook Comments

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Facebook