Sidang Kasus OTT Iryanto, Dakwaan JPU Tidak Sesuai dengan Keterangan Saksi

Sidang kasus dugaan tindak pidana korupsi mantan sekretaris DPKPP Kabupaten Bogor di Pengadilan Negeri Tipikor Bandung, Jumat (18/9/2020).

BANDUNG, INDONEWS – Sidang kasus dugaan tindak pidana korupsi mantan Sekretaris Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor, Iryanto kembali digelar di Pengadilan Negeri Tipikor Bandung, Jumat (18/9/2020).

Sidang kali ini menghadirkan saksi dari internal DPKPP, Apay dan Jackson Boy. Saksi Apay adalah salah satu pegawai harian lepas (PHL) di DPKPP. Dalam kesaksiannya, dia menerangkan bahwa pernah bertemu Kiki alias Fikry Salim di kantor DPKPP sekitar lima bulan sebelum operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Iryanto. Waktu itu, Apay mengaku ditanyakan Fikry Salim di mana ruang Iryanto.

“Saya bertemu Fikry di lobby DPKPP saat ditanya dimana ruangan pak Iryanto yang saat itu posisinya sebagai kabid, dan saya arahkan untuk menghubungi ajudan pak Iryanto,” jelas Apay dalam kesaksiannya.

Fikry Salim merupakan tersangka kasus pidana umum berupa penggelapan dokumen. Pada 29 Februari 2020 dia sedang mengurus izin di DPKPP.

Sementara terkait berkas Rumah Sakit Cibungbulang dan Hotel Cisarua, dalam BAP disebutkan bahwa Apay mengantarkan berkas yang dia tidak ketahui itu berkas apa dan hanya diminta membawa berkas itu oleh Iryanto ke ruangan Jackson Boy.

“Saya diperintahkan kira-kira tiga minggu sebelum OTT melalui pesan suara di WhatsApp oleh pa Iryanto untuk membawa berkas dari ruangannya ke ruangan Jackson Boy, tanpa saya tahu itu berkas apa dan hanya menaruh di meja kerja pak Jackson. Dan saya katakan ini ada berkas titipan dari pak Iryanto,” terang Apay.

Sementara keterangan berbeda diungkapkan Jackson Boy saat bersaksi. Dia mengaku tidak tahu dan tidak ada keterangan terkait berkas apa yang dititip oleh Apay. Dan dia tidak pernah mengecek itu berkas apa. Dia mengaku hanya tahu berkas itu dari salah satu stafnya.

“Saya tidak pernah tahu berkas apa yang ada di meja saya karena ruangan saya memang tempat menitip semua berkas se-Kabupaten Bogor. Saya hanya tahu dari staf saya yang mengecek berkas itu, bahwa itu adalah berkas RS Cibungbulang dan Hotel Cisarua yang belum selesai karena kurang syarat teknis. Hingga tanggal 3 Maret 2020 pa Iryanto menelpon saya untuk memeriksa berkas tersebut, tapi belum sempat dicek, ternyata berkas itu sudah dibawa polisi,” ungkap pria yang berdinas sebagai Kasie Kawasan Pembangunan itu.

Sementara Hakim anggota, Femina, SH, MH dalam persidangan yang dipimpin Hakim Ketua Rifandaru, SH, MH mempertanyakan isi dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang tidak sesuai dengan keterangan saksi, karena dalam dakwaan JPU ada keterangan bahwa ada telepon kepada Jackson Boy bahwa ada kata “galon” dalam dakwaan.

“Dalam dakwaan JPU kok ada keterangan bahwa pa Jackson ditelepon pak Iryanto pada 3 Maret 2020, ada kata-kata ‘galonnya sudah siap’, benarkah ada kata-kata seperti itu kepada Anda?” Tanya Femina.

Lalu, saksi Jackson Boy beberapa kali menyatakan tidak ada kata-kata “galon” saat ditelpon oleh Iryanto. “Seingat saya tidak ada kata-kata itu,” kata Jackson.

Hakim mempertanyakan hal yang disebut dalam dakwaan, dari mana dasar JPU mengambil kata “galon”. JPU dari Kejaksaan Negeri Kabupaten Bogor bernama Yusie menjawab, bahwa kata-kata itu didapat dari keterangan Sony Priadi.

Dalam kesaksiannya, Jackson Boy ketika melihat banyak polisi yang ramai di ruangan pak Iryanto mempertanyakan, di mana Kepala DPKPP yang dijabat Juanda Dimansyah saat itu, karena sebagai pimpinan harusnya mengetahui kejadian ini. Tapi setelah dicari tahu ternyata kadis sedang istirahat sholat Ashar di musholla. (el)

Facebook Comments

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Facebook