Kepala SMPN 01 Babakan Madang Akui Lakukan Pungli

BOGOR, INDONEWS – Pemerintah sudah membebaskan biaya SPP (sumbangan pembangunan pendidikan) di tingkat sekolah menengah pertama (SMP) beberapa tahun lalu. Sehingga beban para orangtua menjadi lebih ringan, dimana selama ini selalu dikeluhkan.

Selain SPP, segala kebutuhan buku pelajaran yang terkait dengan kurikulum disiapkan juga dengan pengadaan buku paket. Tetapi soal pakaian sekolah atau seragam dan pakaian olahraga tetap menjadi tanggungan orangtua murid. Sebab hal ini belum pernah masuk dalam agenda bahasan di Kemendikbud.

Namun demikian, ternyata masih ada saja pihak sekolah yang memanfaat situasi dengan mencoba melakukan pungutan-pungutan diluar biaya tersebut, dengan alasan yang sengaja dciptakan pihak sekolah.

Salah satu sekolah yang melakukan pungli tersebut adalah SMPN 01 Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Menurut narasumber yang tidak mau disebutkan namanya, di masa PPDB tahun 2020 beberapa bulan lalu, wali murid diarahkan dan ditawarkan pihak sekolah untuk membeli seragam khas sekolah, yaitu berupa baju batik, baju olahraga, baju muslim, rompi dan tas serta bet dibaju total senilai Rp 850.000.

“Adanya tawaran dan arahan dari pihak sekolah mau tidak mau kami harus membeli. Padahal jujur saya sangat keberatan dan terbebani, apa lagi saat ini situasi pandemi Covid-19. Dimana penghasilan kami sangat menurun akibat dampak virus corona ini. Jangankan buat beli seragam buat makan saja susah,” ujarnya, Selasa (29/9).

Terkait hal tersebut, pewarta mendatangi sekolah untuk mengkonfirmasi kepada kepala SMPN 01 Babakan Madang, Selasa (29/9). Kepala sekolah, Tri Pangestuti S.Pd menjelaskan bahwa pungutan itu benar dilakukan.

“Kami menawarkan dan mengarahkan para wali murid untuk membeli seragam dengan nilai tersebut di atas, dibagi beberapa item yang didapat para siswa/siswi, seperti batik, baju olahraga, baju muslim, rompi dan tas juga bet, tapi sampai saat ini belum semua wali murid atau orangtua membayar, bahkan masih banyak yang menunggak dan belum bayar,” jelasnya.

“Kami melakukan dengan berbagai pertimbangan, demi terciptanya sekolah yang mempunyai ciri khas dari sisi seragam sekolah, dan hal ini kami lakukan tanpa melibatkan komite, karena saya dan para guru sudah merasa mampu mengelola hal itu,” pungkasnya. (Firm)

Facebook Comments

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Facebook