Mantan Kepala DPKPP Akui, Selama Bertugas Iryanto Berprestasi

Saksi Yani Hasan pada persidangan Iryanto, mantan Sekretaris Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jumat (16/10).

BANDUNG, INDONEWS – Persidangan kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Iryanto, mantan Sekretaris Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor kembali digelar di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jumat (16/10).

Sidang kali ini menghadirkan saksi Yani Hasan. Ia merupakan mantan pimpinan terdakwa Iryanto saat DPKPP masih bernama Dinas Tata Bangunan.

Yani Hasan saat ini, menjabat sebagai Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bogor, yang juga pernah menjabat DPMPTSP Kabupaten Bogor.

Saksi Yani Hasan dalam kesaksiannya menyampaikan bahwa selama bertugas Iryanto menjalankan tugas dengan baik dan bahkan berprestasi.

Dalam kesaksiannya, Yani juga mengaku pernah meminjam uang ke Iryanto untuk keperluan sekolah anaknya.

“Ya per Desember 2019, saya meminjam uang dari pak Iryanto untuk kepentingan pribadi karena sekolah anak-anak saya, dan akhir Februari 2020, uang tersebut saya kembalikan sama beliau, (Iryanto, red,” ungkap Yani.

Kemudian jaksa menanyakan uang pecahan apa ketika Yani Hasan mengembalikan utangnya pada Iryanto, yani menjawab uang pecahan Rp100.000 an.

Dan saat ditunjukkan di muka persidangan uang tersebut, Yani mengaku kurang lebih itu adalah bungkus (paper bag) uang pengembalian utangnya. Sidang pun berjalan secara normatif.

Yani Hasan sendiri dihadirkan untuk mengkonfirmasi uang sejumlah Rp70 juta yang ikut disita sebagai barang bukti oleh Polres Bogor. Menurut kesaksiannya, uang itu berasal dari Yani hasan sebagai uang pengembalian atas pinjaman kepada Iryanto.

“Saya dihadirkan dalam persidangan ini baru tahu ternyata uang yang saya pernah bayarkan untuk keperluan bayar utang kepada pa Iryanto menjadi barang bukti,” ungkap saksi Yani Hasan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) kemudian menanyakan kronologis kenapa uang tersebut bisa berada di ruang Iryanto saat OTT tanggal 3 Maret 2020. JPU juga meminta saksi untuk menerangkan secara detail uang itu dari awal.

“Seingat saya di bulan Desember 2019 saya ada kebutuhan untuk bayar anak sekolah, karena saya sudah coba cari pinjaman sana sini belum dapat, maka karena saya tahu pa Iryanto banyak kenalannya, maka saya minta tolong kepadanya pinjam uang Rp100 juta dengan menjaminkan surat tanah saya,” jelas Yani.

JPU kembali bertanya kapan saksi mengembalikan pinjaman kepada Iryanto dan apakah jaminan yang mengikat dalam pinjaman tersebut sudah dikembalikan.

“Uang itu saya kembalikan di akhir Februari 2020 di sebuah resto di Cibinong City Mall dengan uang cash sejumlah Rp 100 juta dengan nominal pecahan Rp100.000,-an dibungkus paper bag. Sementara untuk jaminan surat tanah saya tidak langsung dikembalikan saat itu, karena tidak dibawa tapi sudah ditangan saya sejak April 2020, jadi sudah beres semua,” tegas saksi.

Yani pun mengakui bahwa selama bertugas bersama Iryanto saat pernah menjadi bawahannya di UPT, Iryanto menjalankan tugasnya dengan baik dan tidak pernah ada masalah dan juga Iryanto dikenal dilingkungan kerja sebagai orang yang ramah dalam bergaul dan memiliki jaringan luas di Kabupaten Bogor.

Kuasa Hukum Iryanto dari LBH Bara JP yang dipimpin oleh Dinalara Butarbutar hanya mempertanyakan satu hal kepada saksi terkait penegasan bahwa benar uang Rp70 juta yang dihadirkan dihadapan persidangan memang betul uang pribadi Iryanto dari hasil bayar hutang yang berasal dari saksi.

“Iya. Saya tegaskan itu uang hasil saya bayar utang kepada pak Iryanto yang pernah saya pinjam untuk keperluan anak saya bayar sekolah,” tegas saksi, sebelum sidang diskors oleh hakim karena menjelang Ibadah Sholat Jumat. (bn)

Facebook Comments

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Facebook