Hari Istimewa Pegiat Anti Korupsi, Bibit Samad Rianto

BOGOR, INDONESW – Selamat hari ulang tahun Ketua Umum Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK), Bibit Samad Rianto. Demikianlah kalimat yang terlontar dari Ketua DPD GMPK Kabupaten Bogor, Jonny Sirait, A.Md untuk hari ulang tahun ke 75 mantan Wakil Ketua KPK itu.

Di usianya yang sudah matang, Jonny mengaku kagum dengan sikap dan kepribadian Bibit Samad, yang menurutnya menjadi panutan bagi siapapun. Bahkan Jonny kagum dengan kalimat Purnawirawan Polri dengan pangkat tingkat jenderal tersebut yang menuliskan: Jenderal itu cuma pakaian saja. Saya masih tetap merasa sebagai anak penjahit.

“Pak Bibit itu lahir di Kediri, 3 November 1945 dengan nama Jumadi. Konon, akibat berulang kali sakit akhirnya sang bapak mengganti namanya dengan “Bibit”. Bibit adalah sulung dari enam bersaudara sebuah keluarga sangat sederhana yang bekerja sebagai penjahit di pasar. Di samping itu bapaknya juga bekerja sebagai buruh tani. Tak heran jika kehidupan mereka diwarnai dengan kesulitan dan kemiskinan. Mereka makan nasi dan singkong rebus jika masih kurang,” jelas Jonny dalam keterangan tertulisnya kepada Indonews, Rabu (4/11).

Jonny mengisahkan, usai salat subuh, Bibit sudah harus mendorong papan beroda untuk meletakkan mesin jahit ke pasar dimana kedua orangtuanya bekerja. Sore harinya sepulang sekolah hal yang sama dilakukan dari pasar ke rumah.

“Sampai SMP, pak Bibit satu-satunya murid yang bersekolah tidak mengenakan sepatu, sehingga saat guru menanyakan, ia hanya bisa terisak,” terang dia.

Dilanjutkan Jonny, alangkah bangganya Bibit saat mampu membeli sepasang sepatu bekas dari tukang loak dari hasil kerjanya membantu orang tuanya. Agar nampak mengkilat, sepatu itu disemir dengan menggunakan jelaga dicampur getah jarak.

“Saat SMA, pak Bibit berusaha sendiri membiayai sekolahnya dengan menjadi buruh pada perusahaan tenun. Dengan bekerja keras, bahkan hanya sempat tidur tiga jam dia bertekad untuk menyelesaikan sekolahnya. Dia juga akhirnya sempat membeli sepatu baru dan semir asli yang ditunjukkan kepada ibunya yang empat hari kemudian berpulang,” kisah Jonny.

Dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas ini, Bibit berusaha mencari sekolah yang tidak memerlukan biaya usai menamatkan SMA nya.

Alhasil, dia diterima di sekolah Polisi. Tamat sekolah Perwira Negeri di Lido, Sukabumi, dia melanjutkan ke Akabri. Lulus dari sana, Bibit melanjutkan pendidikan sebagai instruktur. Tak lama kemudian, pembinaannya menawarkan untuk bekerja di lapangan.

“Pak Bibit kemudian ditempatkan di satuan pengamanan Keselamatan Negara atau Intelijen. Kemudian dia disekolahkan di Sekolah Intelijen Polisi di Cilendek, Bogor. Sejak menyelesaikan pendidikannya di Kepolisian, pak Bibit sudah menyadari bahwa kepolisian memiliki citra yang buruk. Beberapa pembinanya mengatakan diluar nanti praktik tidak akan sama dengan teori. Bibit justru mengatakan teori adalah akumulasi dari praktik, sehingga praktik harus dilakukan sesuai teori,” urainya.

Menurutnya, Bibit selalu berhati-hati betul menjalankan tugas kepolisiannya agar tidak sampai korupsi. Puasa menjadi jimat bagi Bibit untuk menjaga nafsunya saat ia menjadi komandan wilayah.

Saat bertugas di Kalimantan timur yang sedang marak kasus ilegal logging, Bibit pernah ditawari ‘penyelesaian kasus diluar hukum’ dengan harga Rp500 juta tiap kasus.

“Saya ingat ucapan beliau yang mengatakan: kalau saya mau, saya sudah kaya raya. Demikain pak Bibit bercerita,” katanya.

Saat meninggalkan tugas dari sana, 91 kasus dinyatakan lengkap oleh kejaksaan dan siap masuk ke penuntutan.

Karena tinggal di rumah sederhana diujung gang yang hanya muat satu mobil dengan pagar menumpang pada sebuah perumahan, tak heran kalau anak bungsunya menjuluki ‘Jenderal kere, namun jiwanya tidak kere’. Kesederhanaan ini terkenal sampai ke kalangan kepolisian. Mantan Kapolri, jenderal Chairuddin Ismail mengatakan “Mas Bibit memang orangnya sederhana”.

“Dengan sikap seperti itu tidak heran jika pak Bibit dapat membuat keluarganya jauh dari gosip. Bahkan saat masih berpangkat kapten, ia mampu membiayai 24 orang anak asuh. Saat presiden Abdurrahman Wahid akan menggantikan Kapolri Surojo Bimantoro, pak Bibit termasuk calon yang diajukan,” katanya.

Bibit adalah orang yang paham dari mana dia berasal. Kehidupan sederhana yang diajarkan orang tuanya itu yang dia pilih. Meski pangkatnya sudah jenderal Bibit masih sering datang ke pasar tempat orang tuanya bekerja.

Suatu saat adiknya memperkenalkan dia jenderal yang dulu membantu orang tuanya menjahit dengan harapan akan mendapatkan harga yang lebih murah, tetapi harga yang diterima seperti pembeli yang lain.

“Jenderal hanya pakaian saja. Saya masih tetap merasa sebagai anak penjahit di pasar” demikian kata Bibit Samad Rianto.

“Kisah ini sendiri sering saya baca dari buku ‘Satu jam lebih dekat dengan 11 tokoh paling Inspiratif Indonesia’ yang didalamnya ada pak Bibit. Saya sangat banyak mengambil pelajaran dari cara dia hidup mengemban tugas. Bahkan setelah purna, ia masih saja mengabdi kepada negeri dengan membangun GMPK,” puji Jonny.

“Beliau sudah memasuki usia ke 75 tahun. Setiap hari sebenarnya sangat istimewa bagi beliau, karena bangga telah menjadi tokoh bangsa yang masih bisa berkarya. Semoga beliau selalu menjadi idola untuk penggiat anti korupsi,” pungkasnya. ***

Facebook Comments

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Facebook