Inspektorat Benarkan Wali Murid SMPN 1 Cileungsi Diminta Iuran Rp 1,5 Juta

“Nah saya lihat di SMPN 1 Cileungsi ini adalah pungutan, dimana nominalnya ditentukan dan seluruh orang tua atau wali murid diminta untuk membayarnya sebesar Rp1,5 juta. Jadi yang disebut Sumbangan Pendidikan adalah pemberian berupa uang/barang/jasa/ oleh peserta didik, orang tua/walinya, baik perseorangan maupun bersama-sama, masyarakat atau lembaga secara sukarela, dan tidak mengikat satuan pendidikan. Sedangkan Pungutan Pendidikan adalah penarikan uang oleh sekolah kepada peserta didik, orang tua/walinya yang bersifat wajib, mengikat, serta jumlah dan jangka waktu pemungutannya ditentukan. Maka kami berasumsi SMPN 1 Cileungsi ini melakukan pungutan karena menentukan jumlah, bahkan dana tersebut dicantumkan di buku tabungan siswa.”

BOGOR, INDONEWS –  Masih terjadinya pungutan liar (pungli) di dunia pendidikan, khususnya di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menjadi keprihatinan tersendiri bagi kalangan masyarakat.

Belum lama ini, sebuah relawan menggelar audiensi dengan Inspektorat II dan tim Auditornya. Audiensi dihadiri langsung Inspektorat III Ade Rahman, Ketua Tim Auditor Deni dan anggota Auditor Darius.

Pihak relawan yang juga Ketua DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Kabupaten Bogor, Jonny Sirait mengatakan, pihaknya telah proaktif dalam mencegah adanya pungli, namun hal itu tidak cukup tanpa peran pihak lainnya yang berkompeten, seperti Tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) termasuk di dalamnya kepolisian, Ombudsman, Inspektorat dan Pemerintah Kabupaten Bogor sendiri.

Audiensi pihak relawan dengan Inspektorat III Kabupaten Bogor.

“Kami mencontohkan adanya dugaan kuat pungli di SMPN 1 Cileungsi. Sampai detik ini belum ada tindakan dari pihak manapun. Padalah kami sudah melaporkannya ke Saber Pungli dan Polres Bogor. Namun tidak ada aksi apapun dari kedua lembaga tersebut. Sehingga, pembiaran inilah yang menjadikan pungli terus menjamur,” ujar Jonny, di Kabupaten Bogor, Kamis (26/11/2020).

Dengan audiensi ini, Jonny berharap Inspektorat menindaklanjuti adanya keluhan masyarakat terkait pungutan liar di sekolah dan melakukan penindakan agar menjadi efek jera bagi si pelakunya.

Dari Inspektorat, Ade Rahman membenarkan adanya pungli di sekolah di Kabupaten Bogor. Bahkan kasus pungli ini sudah dilaporkan Pemerhati Kebijakan dan Layanan Publik (PKLP). Berdasarkan laporan tersebut, Inspektorat telah menerjunkan tim auditor untuk menindaklanjuti masalah pungli di SMPN 1 Cileungsi.

“Laporan atau pengaduan dari PKLP ini masuk bulan Februari 2020. Kita sudah periksa semua, termasuk kepala SMPN 1 Cileungsi dan komite sekolahnya. Kita juga sudah mintai keterangan dari nara sumber, yakni 10 wali murid dan menggabungkannya dengan informasi dari pihak disdik dan peraturan yang ada,” ujarnya.

Dari hasil klarifikasi atau istilahnya audit investigasi Inspektorat, lanjut Ade Rahman, pungli atau sumbangan tersebut dikelompokan kepada peminta sumbangan pendidikan. Dari 10 wali murid tersebut juga ada yang belum membayarkan iuran tersebut.

“Kesimpulannya, dari hasil klarifikasi kami, di SMPN 1 Cileungsi itu tidak terjadi pungutan liar. Kami tidak bisa melaporkan secara rinci permasalahan ini karena kami juga bisa disanksi. Tapi kami bisa menginformasikan kesimpulan dari hasil tugas kami ini. Inspektorat beda dengan aparat penegak hukum, kami ini APIP, orang dalam yang melakukan sistem pengawasannya dan bekerja berdasarkan hukum tata negara, atau perdata. Kalau ada permasalahan kita akan selesaikan secara internal. Apakah itu dicopot atau dipecat dari jabatannya atau sanksi lain jika ada yang melanggar,” jelasnya.

Mengikat Karena Menentukan Nominal

Menyikapi pernyataan Ade tersebut, Jonny Sirait menimpali dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 75 Tahun 2016 tentang sekolah mengatur batas-batas penggalangan dana yang boleh dilakukan pihak sekolah.

Penggalangan dana tersebut ditujukan untuk mendukung peningkatan mutu layanan pendidikan di sekolah dengan azas gotong royong. Dalam Permendikbud tersebut, Komite Sekolah diperbolehkan melakukan penggalangan dana berupa sumbangan pendidikan, bantuan pendidikan, dan bukan pungutan.

“Nah saya lihat di SMPN 1 Cileungsi ini adalah pungutan, dimana nominalnya ditentukan dan seluruh orang tua atau wali murid diminta untuk membayarnya sebesar Rp1,5 juta. Jadi yang disebut Sumbangan Pendidikan adalah pemberian berupa uang/barang/jasa/ oleh peserta didik, orang tua/walinya, baik perseorangan maupun bersama-sama, masyarakat atau lembaga secara sukarela, dan tidak mengikat satuan pendidikan. Sedangkan Pungutan Pendidikan adalah penarikan uang oleh sekolah kepada peserta didik, orang tua/walinya yang bersifat wajib, mengikat, serta jumlah dan jangka waktu pemungutannya ditentukan. Maka kami berasumsi SMPN 1 Cileungsi ini melakukan pungutan karena menentukan jumlah, bahkan dana tersebut dicantumkan di buku tabungan siswa,” paparnya.

Jonny mengungkapkan, sebelum menjabat sebagai Kepala SMPN1 Cileungsi, pungutan juga dilakukan kepala sekolah saat menjabat di SMPN Gunung Putri.

“Saya tidak ada urusan personal dengan kepala sekolah dimaksud, namun pungutan ini terus dilakukan sehingga tak jarang orangtua terbebani meskipun sudah ada Biaya Operasional Sekolah (BOS),” ujar Jonny.

Foto bersama usai audiensi

Ade menjawab pernyataan Jonny Sirait. Menurutnya, Inspektorat telah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Inspektorat juga membenarkan adanya ketentuan dalam nominal sumbangan, yakni sebesar Rp 1,5 juta oleh pihak sekolah.

Ketua Tim Auditor, Deni juga membenarkan adanya iuran Rp 1,5 juta dari sekolah kepada wali murid, yang menurut pihak sekolah hal itu berdasarkan hasil musyawarah.

“Proses pembayarannya melalui wali kelas dan diserahkan kembali kepada bendahara. Mungkin adanya buku tabungan itu sebagai bentuk pembayaran secara dicicil,” ujar Deni.

Terakhir, Inspektorat mengaku akan tetap menindaklanjuti laporan yang masuk, namun tetap dengan kode etik inspektorat.

“Jika kasus ini akan ditindaklanjuti ke pihak tipikor dan lainnya, kami mempersilahkan dan mengapresiasinya,” pungkasnya. (Bin)

Facebook Comments

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Facebook