Sidang Keempat Kasus Bom Molotov PAC PDI Perjuangan, Korban Minta Keadilan Ditegakkan

Anggota DPRD Kabupaten Bogor, Muad Khalim saat mengikuti sidang kasus bom molotov terhadap Sekretariat PAC PDI Perjuangan Cileungsi yang juga merupakan kediaman Muad

BOGOR, INDONEWS – Sidang ke empat dalam kasus pelemparan bom molotov terhadap Sekretariat Pengurus Anak Cabang (PAC) Partai Demokari Indonesia (PDI) Perjuangan di gelar di Pengadilan Negeri (PN) Cibinong, Kabupaten Bogor, Selasa (2/2/2021).

Sidang kali ini menghadirkan saksi sekaligus korban yang merupakan Anggota DPRD Kabupaten Bogor, Muad Khalim beserta tiga orang saksi lainnya.

Pantauan Indonews, sidang dihadiri sejumlah kader Partai Banteng dari Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Bogor. Selain itu, dihadirkan pula secara online sepuluh terdakwa.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Cibinong bertanya kepada Mu’ad Halim terkait materi pelemparan bom molotov ke rumahnya, yang juga sebagai sekretariat PAC Cileungsi.

“Pelemparan bom molotov itu berlangsung subuh. Akibat ledakan bom molotov tersebut sejumlah barang rusak. Polisi melakukan olah TKP setelah saya melapor ke aparat berwajib,” jelas Muad, yang juga Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor, Fraksi PDI Perjuangan.

Kepada wartawan, Muad lantas meminta hakim dapat mengadili perkara ini dengan seadil-adilnya, sehingga rasa keadilan hukum yang diharapkan masyarakat terwujud.

“Saya apresiasi penangkapan para pelaku oleh kepolisian hingga hari ini masuk persidangan keempat. Kami sangat apresiasi. Semoga persidangan berjalan sesuai dengan mekanismenya, agar rasa keadilan benar-benar dirasakan masyarakat,” ucap Muad, di Sekretariat DPC PDI Perjuangan di Jalan Tegar Beriman, Cibinong, Bogor.

Dibritakan sebelumnya, bom molotov dilempar sejumlah terdakwa ke sekretariat PAC PDI Perjuangan di Perum Griya Kenari Mas, Jalan Walet 3, Blok A12 nomor 20, RT 01/10 Desa Cileungsi Kidul. Akibat ledakan tersebut, Muad dan sejumlah kader dihantui ketakutan dan rasa trauma.

“Ledakan bom menjelang subuh itu, membuat trauma. Ini bentuk teror ditengah alam demokrasi. Tindakan melanggar hukum, harus ada sanksi hukum. Maka lewat pengadilan ini, kami seluruh kader banteng moncong putih berharap keadilan,” tegas Mu’ad. (Bint)

Facebook Comments

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Facebook