Mantan Kades Sirnagalih Diduga Gelapkan Dana BUMDes

Kantor Desa Sirnagalih

BOGOR, INDONEWS – Mantan Kades Sirnagalih, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor diduga menggelapkan dana Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang bersumber dari Dana Desa (DD) tahun 2017.

BUMDes “Setya Warga” milik Desa Sirnagalih sebesar Rp100 juta itu diduga diselewengkan oleh D, mantan Kades Sirnagalih.

Dugaan penyelewengan Dana BUMDes terbongkar saat pergantian kepala desa dan pengurus BUMDes baru yang mempertanyakan dana Bumdes Setya Warga yang diduga bermasalah. Sebab, dari total anggaran sebesar Rp 100 juta pada saat serah terima jabatan Pengurus BUMDes periode 2017-2020 kepada Pengurus BUMDes periode tahun 2020-2023 hanya menerima Buku Rekening dan uang tunai sebesar Rp 25 juta. Sedangkan aset BUMDes tidak ada.

Ketua BUMDes Setya Warga perde 2017-2020, Tugiman mengakui bahwa anggaran dana BUMDes Rp 100 juta diterima pada tahun 2018.

“Saya hanya ambil Rp 10 juta untuk usaha pupuk, tapi ternyata gak berkembang karena mayoritas warga di sini gak mau pupuk non subsidi, maunya pupuk subsidi. Tapi Alhamdulillah walaupun mandek modal yang saya ambil dari dana BUMDES tersebut kembali modal,” ungkapnya, belum lama ini.

Ketua BUMDes periode 2020-2023, Saepudin Juhri saat di temuai di rumahnya menyayangkan pengurus BUMDes lama tidak transparan mengenai pengelolaan dana Bumdes, termasuk asetnya tidak jelas.

“Saya sebagai ketua BUMDes baru hanya menerima berkas, stempel BUMDes, buku rekening, kwitansi-kwitansi dan uang sebesar Rp 25 juta. Padahal setahu saya anggaran BUMDes tersebut sebesar Rp 100 juta, dan ada pembelian alat pengolah air minum water canon, tapi tidak ada bukti barangnya dimana. Dan bukti kwitansi yang ditandatangani warga yang pinjam uang ke BUMDes juga  diragukan kebenaranya karena setelah dicek, warga tersebut tidak merasa meandatangani kwitansi tersebut, bahkan ada yang sudah bayar utang, tapi masih dicatat sebagai utang,” ungkapnya.

Terkait permasalahan tersebut, Saepudin mengaku sudah melaporkan ke pihak pemerintah Kecamatan Jonggol, namun disarankan agar dimusyawarahkan saja.

Ditempat terpisah, Tugiman  menambahkan, bahwa pada akhir tahun 2018, untuk mengembangkan usaha BUMDes dibelikan water canon dengan harga Rp 48 juta karena warga Desa Sirnagalih menginginkan pengolahan air bersih.

“Pada waktu itu sepengetahuan pak camat Beben, karena di sini belum ada water canon dan rencananya kita bisa menyuplai air bersih ke setiap desa. Jadi tidak perlu beli-beli air. Jadi kita yang suplai. Tadinya seperti itu,tapi ternyata belum lama beroperasi perinternya rusak. Dan lagi-lagi itupun tidak berjalan, tapi katanya sempat dibetulin, tapi saya tidak tahu karena water canon tersebut disimpan di rumah lurah (D, red),” ungkapnya.

“Sewaktu sertijab karena ada pergantian kades, yang saya serahkan kepada Ketua BUMDes baru hanya berkas, rekening stempel dan uang sebesar Rp 25 juta. Untuk water canon itu tidak saya serahkan karena ada di tempat pak lurah lama (D). Saya hanya menyerahkan apa yang saya kelola saja, tapi saya kasih tahu sama Ketua BUMDes baru bahwa ada water canon di tempat pak mantan lurah, dan itu milik BUMDes,” tambahnya.

Ketika dikonfirmasi di kediamannya, D membantah bila dana BUMDes diselewengkan. Dirinya mengaku bila dana BUMDes itu dikelola oleh ketua BUMDes.

“Saya sebagai kepala desa hanya komisaris waktu itu. Saya hanya mengawasi kinerja ketua BUMDes,” katanya.

Saat ditanya aset BUMDes yang tidak dikembalikan, D berkilah barang tersebut rusak dan hilang. “Waktu itupun terkait BUMDes itu saya sudah diperiksa inspektorat dan tidak jadi masalah karena saya sudah laporkan barang tersebut hilang,” tandasnya. (Jaya)

Facebook Comments

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Facebook