Semarak Istighotsah dan Lailatul Ijtima di Bogor

BOGOR, INDONEWS – Arahan LTM PBNU untuk melaksanakan Istighotsah serentak bertepatan dengan Harlah NU ke 98 Hijriyah tahun ini direspon dengan antusias oleh Nahdliyin, melibatkan struktural organisasi dan jamaah. Istighotsah di era pandemi Covid 19 sangat dipentingkan.

“Kita memohon kepada Allah. Ceuk istilah Sunda mah ngajeurit maratan langit, ngoceak maratan jagad, memohon kepada Allah Sang Maha pencipta langit dan bumi serta seisinya, agar negeri kita Indonesia, aman terkendali, wabah pandemi Covid 19 segera berakhir, diberi kenyamanan dan keistiqomahan beribadah serta dapat bermanfaat bagi sesama,” harap H. Agus Riadi, Ketua PC LTMNU Kabupaten Bogor.

“Semua pengurus LTMNU menyebar se wilayah Bogor, tidak berkumpul di satu titik. Tujuannya  agar semarak istighotsah terlaksana di beberapa titik atau masjid. Pelaksanaannya, kolaborasi dengan para pengurus MWCNU, ranting NU dan DKM Masjid,” Kang Agus, spaan karibnya menuturkan.

Kang Agus, menghadiri istighotsah dan Lailatul Ijtima di Masjid Nurul Iman, Desa Pabuaran, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor.

Kyai Maryudi di Kecamatan Ciomas, Kyai Faqihuddin di perbatasan Bogor dengan Depok, KH. Ogan Burhanudin di Masjid daerah Jonggol, KH. Abdullah Nawawi dan KH. Fiqih Noval di masjid Kecamatan Leuwiliang, KH. Sayadih dan Ust. H. Suyono di Masjid Al Falah Kecamatan Cibinong, H. Maman Saepulloh dan Ustaz Lutfi di masjid Baiturahman serta H. Sardjiman di musholla Al Akbar yang berada di Kecamatan Bojonggede, Bogor.

“Alhamdulillah, wasilah harlah NU ke 98 Hijriyah di bulan Rajab ini, kita bisa saling kunjungi, silaturahmi ke masjid-masjid untuk turut memakmurkan rumah Allah tersebut,” katanya.

Malam itu, H. Agus dan para pengurus Majlis Wakil Cabang Kecamatan Kemang Kabupaten Bogor hadir bersama, menyapa umat.

Istighotsah dipimpin KH Kholil, Mustasyar NWCNU Kemang

Ketua MWCNU Kemang memberi sambutan pentingnya menjalankan roda organisasi NU secara tersistim.

“Pengurus MWCNU Kemang, Bogor agar menjalankan organisasi secara baik mengikuti sistim yang berlaku. Kegiatan Lailatul Ijtima juga bagian dari warisan sistem para ulama pendahulu dalam membina keberagamaan di wilayah kerja masing-masing. Kebiasaan yang baik di NU agar tetap kita pelihara, sambil menerapkan hal-hal terbaru (up to date) yang lebih baik lagi,” jelas Ust. Farid Firdaus, Ketua MWCNU Kemang, Bogor.

Kabupaten Bogor yang nota bene masyarakatnya religius dan hampir 70% nya Nahdliyin dari total penduduk kisaran 5,7 juta, kegiatan istighotsah dan Lailatul Ijtima’ sudah menjadi agenda yang rutin  dilaksanakan oleh pengurus NU.

“Ini kesempatan yang baik mengetahui kondisi umat dan kemakmuran Masjid terkini sambil bermusyawarah menemukan metode dakwah  yang paling tepat,” lanjut kang Agus.

Masjid-masjid harus punya rekening atas nama Masjid. Hal ini, untuk menghindari fitnah tentang kondisi keuangan masjid jika masih atas nama perorangan pengurus masjid.

Selain itu, untuk meningkatkan kepercayaan dari para donatur atau jamaah yang mau berinfak. Kini, telah berkembang fasilitas  QRIS (Quick Response Indonesia Standard). Dengan adanya fasilitas QRIS dari Bank, jamaah tidak perlu berinfak dengan dana tunai. Melainkan dapat berinfak secara digital, dan langsung masuk rekening Masjid.

Dengan perkembangan teknologi QRIS, memudahkan sistem berinfak ke Masjid. QRIS Masjid dapat dipasang di berbagai tempat, bahkan disebar di jaringan WA atau lainnya, sehingga sebaran para peng-infak tidak hanya jamaah lokal, bisa nebembus manca negara.

“Ini yang disebut hal terbaru yang baik yang perlu diterapkan dalam roda organisasi NU dengan jaringan luas masjid binaan,” lanjut kang Agus.

Yang perlu juga dilakukan adalah mengamankan masjid dari pengaruh ajaran Takfiri debgan cara plangisasi Masjid berfijrah, beramaliyahdan Berharokah NU.

“Plangisasi Pengurus Anak Ranting NU (PARNU) Berbasis Masjid. Kita targetkan 101 Plangisasi PARNU di Bogir hingga semester pertama 2021. Sesungguhnya, ini bukan untuk keuntungan NU, melainkan untuk keuntungan warga masyarakat, jamaah masjid dalam memoertahanjan aqidah Ahlussunnah Wal jamaah an-Nahdliyah di masjid yang secara susah payah mereka bangun,” kata kang Agus. (Bin)

Facebook Comments

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Facebook