Mafia Tanah dan Preman Diringkus Polisi

JAKARTA, INDONEWS,- Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol. Hengki Haryadi mengatakan, tindakan premanisme kerap menimbulkan keresahan masyarakat, sehingga pihaknya wajib bertindak secara cepat dan tegas untuk menghilangkan akan keresahan masyarakat “Fear Of Crime”. Dengan begitu, penegakan hukum mengimplikasikan tugas preventif sehingga membentuk Detterent Effect baik secara spesifik pelaku maupun masyarakat secara meluas.

“Tekad kami adalah menciptakan rasa aman dan nyaman di masyarakat dengan zero premanisme,” ujar Kombes Pol. Hengki Haryadi, belum lama ini.

Namun, lanjutnya, aksi premanisme yang berada di lapangan tidak akan dihentikan hanya pelaksana, tapi juga Aktor yang menjadi pemicu maupun penyokong dana.

Diketahui anggota Polres Metro Jakarta Pusat menangkap sejumlah preman termasuk penyokong dana dalam menguasai sebidang tanah yang berada di Jalan Bungur Besar Raya, No. 50, Kelurahan Bungur, Kecamatan Kemayoran Jakarta Pusat.

“Kami menangkap oknum pengacara dan delapan orang preman soal kasus dugaan tindak pidana perbuatan memaksa disertai kekerasan dan ancaman, atau aksi premanisme,” tegas Hengki.

“Perkara ini bermula dari seseorang masih dalam pengejaran (dalang) dan yang mengaku memiliki lahan di lokasi tersebut, kemudian pelaku memberikan surat kuasa kepada pengacaranya berinisial AD untuk menguasai atau menduduki lahan tersebut,” lanjut dia.

Kemudian AD mengumpulkan sekitar 20 orang preman bayaran. Lalu mereka datang ke lokasi dan melakukan intimidasi, memaksa penghuni tanda tangan kertas surat pengosongan, dan langsung melakukan pemagaran di lokasi.

Selain itu, para preman tersebut juga menutup akses jalan menggunakan seng sehingga masyarakat merasa terintimidasi dan tidak nyaman. Kemudian, aksi itu dilaporkan kepada polisi.

Polres Metro Jakarta Pusat, selanjutnya melakukan penindakan dan berhasil mengamankan delapan orang preman berinisial HK, EG, RK, MH, YB, WH, AS, dan LR yang diduga mengusai lahan itu. Serta AD yang merupakan oknum Pengacara.

“Usai pengembangan, tersangka yang diamankan sesudahnya adalah MY, D dan E. Modus mereka memaksa penghuni untuk tanda tangan surat pengosongan, melakukan intimidasi warga hingga memagar area tanah serta menutup akses jalan warga dengan papan atau banner,” tuturnya.

Selanjutnya para pelaku juga memaksa menghentikan pekerja di lokasi tersebut. Peran ketiga tersangka yang berhasil diamankan sebagai berikut, MY sebagai pengurus IKKI memberikan surat kuasa kepada ADS perihal menyelesaikan permasalahan lahan tersebut, yang berhasil ditangkap pada tanggal 22 Maret 2021 beserta ke 8 orang lainya yang menempatkan sejumlah preman di lokasi tanah yang menjadi bagian sengketa

“Sedangkan E mendanai seluruh operasional dari menempatkan preman hingga pemasangan pagar seng di lokasi tanah sengketa yang menghalangi akses jalan utama para penghuni,” ungkap Hengki.

Setelah itu, tersangka mendatangi para penghuni untuk memaksa atau mengintimidasi korban berserta penghuni kamar lainnya untuk menandatangani surat pengosongan kamar di lahan tersebut, namun korban dan istrinya menolak. Lalu tersangka menuduh korban sebagai provokator.

“Selanjutnya tersangka berteriak teriak hingga membuat gaduh di TKP dan tidak mau pergi. Guna mempertanggung jawabkan atas perbuatannya para pelaku dikenakan Pasal 335 KUHP. (Firm)

Facebook Comments

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Facebook