Gugatan PT Ferry Sonneville pada Komariah Dinilai Tidak Mendasar

BOGOR, INDONEWS – Pemilik lahan di Desa Tlajung Udik, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Komariah memberikan jawaban terkait gugatan yang dilayangkan PT Ferry Sonneville (FS), pada 25 Juni 2021 ke Pengadilan Negeri (PN) Cibinong dengan Nomor W11-U20/2843/NK.02/V1/2021 dengan jumlah gugatan sebanyak 10 Ha dan 62 letter C milik adat.

Menurut Komariah, dirinya tidak merasa memiliki lahan sebanyak 10 hektar (ha) yang digugat PT FS dengan 62 letter C yang diajukan kepada PN Cibinong. Padahal, dirinya tidak pernah mengakui kepemilikan lahan yang sudah dijadikan alat bukti oleh PT FS tersebut.

“Bahwa berdasarkan materi gugatan tersebut, setelah diperiksa ternyata tidak ada satupun materi gugatan yang saya akui sebagai milik saya,” jelasnya, Senin (19/7/2021).

Adapun tanah atau lahan yang diakui kepemilikannya oleh komariah antara lain:

Lahan dengan Girik C Nomor 1030 Persil 22 S.III Luas 5.615M² dan lahan dengan Girik C Nomor 765 Persil 22 S.III Luas 5.045M² dengan total hanya 1 hektar lebih.

“Lahan yang saya miliki sedang dalam proses peningkatan bukti kepemilikan Sertifikat Hak Milik (SHM) di BPN Kabupaten Bogor. Dimana sebelumnya telah diadakan mediasi oleh pihak BPN dan pihak PT FS dan telah diberikan waktu untuk dapat menunjukan bukti kepemilikan. Bahkan, dalam gugatan PT FS, letter C yang diajukan sebagian sudah menjadi milik orang lain,” jelas Komariah.

“Namun hingga batas waktu yang telah ditentukan, pihak PT FS tidak mampu menunjukan bukti kepemilikan surat. Sehingga roses peningkatan Hak tersebut tetap berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku. Dan perlu diketahui pula bahwa dari materi gugatan tersebut diatas, ada yang sudah menjadi hak milik orang lain yang masih di ajukan sebagai gugatan yang berasal dari tanah – tanah bekas milik adat,” tutur dia, menambahkan.

Untuk diketahui, lanjut Komariah, berdasarkan surat pernyataan yang dibuat dan ditandatangani bersama di atas materai, bahwa PT FS mengklaim lahan atas Girik C Nomor: 726 Persil 23 D.III seluas 3.007M² berdasarkan Akta Jual Beli Nomor: 14/12/Akta/1976 tanggal 22 Januari 1976 dan Akta Pengikatan Jual Beli Nomor: 121, tanggal 10 Juli 2008 yang dibuat oleh Rosniawati, SH. Notaris/PPAT di Kabupaten Bogor.

“Namun setelah ditelusuri, objek tanah tersebut adalah merupakan lahan fasos fasum yang telah diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Bogor pada tanggal 06 Januari 1998. Hal itu dibuktikan dengan adanya surat penyerahan hak nomor: 593.2/397/Gp/1998 dengan C Nomor: 727 Persil 23 D.III seluas 2.385M² tanggal 05 Desember 1998 yang di tandatangani pihak terkait,” katanya.

Klaim milik PT. Ferry Sonneville tercatat pada point Nomor 39, dimana pengakuan hak milik PT. FS atas Girik C Nomor: 584 Persil 23 D.III seluas 1.222 berdasarkan Akta Jual Beli Nomor: 206/12/Akta/1976 tanggal 07 Juni 1976 dan Akta Pengikatan Jual Beli Nomor: 181, tanggal 15 Juli 2008 yang dibuat oleh Rosniawati, SH. Notaris/PPAT di Kabupaten Bogor.

“Objek tanah yang merupakan lahan fasos fasum yang telah diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Bogor pada tanggal 06 Januari 1998, dengan adanya Surat Penyerahan Hak Nomor: 593.2/395/Gp/1998 dengan C Nomor : 584 Persil 23 D.III seluas 1.222 tanggal 05 Desember 1998 yang ditandatangani pihak terkait. Dan berdasarkan data kepemilikan tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tuntutan dari pihak PT. Ferry Sonneville tidak berdasar sama sekali,” pungkas Komariah. (Firm)

Facebook Comments Box

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Facebook